Didi Kempot dan Ajakannya Ikuti Kiai NU
Cari Berita

Advertisement

Didi Kempot dan Ajakannya Ikuti Kiai NU

Redaksi
Selasa, 05 Mei 2020

Muslimoderat.net - Berita duka datang dari musisi campursari terkenal, Didi Kempot. Penyanyi yang sedang berada di puncak popularitas itu, mengembuskan napas terakhir di RS Kasih Ibu, Solo, Jawa Tengah, Selasa (5/5) pagi.

Sejak kecil nama Didi Kempot sudah tak asing lagi bagi saya. Lagu-lagunya diputar di berbagai acara hajatan di kampung. Juga suaranya menggema di radio-radio mengisi matahari naik meninggalkan pagi menjemput siang.

Sewaktu masih tidur di pesantren dulu, usai mengaji, saya sering menyanyikan lagu-lagunya, bersama teman-teman sekamar. Tanjung Mas Ninggal Janji, Terminal Tirtonadi, Stasiun Balapan, Layang Kangen dan Sewu Kutho, adalah di antara lagu-lagu yang saya hapal dan menjadi 'menu wajib' tiap kali gitaran lagu Jawa.

Itulah penyanyi campursari yang kemudian dewasa ini viral dan trending di berbagai platform media sosial dengan nama baru; Lord Didi: The Godfather of Broken Heart, Bapak Patah Hati Nasional.

Lagu-lagu Lord Didi memang banyak mengangkat tema patah hati, ditinggal kekasih, kegalauan dan kepedihan jiwa seorang anak manusia. Dan, itu menjadi trade mark dia.

Sampai kini lagu-lagu Jawanya banyak dinyanyikan ulang oleh para artis Youtube dan dinikmati jutaan orang.

Namun, di luar itu, ada hal yang membuat saya sebagai seorang santri lebih bangga lagi kepadanya, yaitu ajakannya untuk megikuti kiai-kiai Nahdlatul Ulama (NU).

Ia menyampaikan pesan itu melalui lantunan sebuah lagu yang diciptakan oleh Muslih (Manleh) berjudul Islam Nusantara. Lagu ini baru saya ketahui di Youtube ketika Harlah NU ke-93, tahun lalu.

Berikut adalah lirik lagu Didi Kempot, Islam Nusantara

gambarnya bumi ada talinya 

bintangnya sembilan
melingkari buminya

itu lambangnya juga tempatnya
para kiai dan ulamanya

itulah Nahdlatul Ulama
sering disebut NU
selalu gigih berjuang
sejak zaman penjajahan


dari itu mari, Kawan
ikut NU dan ulamanya
tuk membangun Islam Nusantara

agar hidup nyaman sejahtera

agar hidup nyaman sejahtera

diridhai Yang Maha Kuasa


Dengan membawakan lagu di atas, tentu Lord Didi tidak sebatas menyanyi belaka, namun juga menegaskan afiliasinya kepada NU. Lebih-lebih, ketika kemudian 'kembali' naik daun di mata kaum milenial, ia juga menyampaikan pesan-pesan kebangsaan: agar Sadboys dan Sadgirls mencintai Indonesia, seperti yang ia sampaikan di Harlah PKB, beberapa bulan lalu.

Meski di zaman ini masih banyak yang mempolemikkan hukum bermusik, bagi saya, menyanyikan lagu galau dan kehilangan adalah salah satu obat agar tak jatuh dalam jurang frustasi dan lebih-lebih bunuh diri. Dengan lagu-lagu Lord Didi, para Sadboys dan Sadgirls masih bisa 'menikmati kehilangan' atau 'menikmati kepedihan.'

Dalam kunjungan ke PBNU yang diterima KH Said Aqil Siroj beberapa waktu lalu, Lord Didi menyanyikan sebuah bait lagu yang direkam oleh Sekjend PBNU. Dalam video yang diposting di akun intagram @ahmadhelmyfaishalzaini itu, ia bernyanyi, "Sak tenane aku ora ngapusi... isih tresno... PBNU; (sesungguhnya aku tak bohong... masih cinta... PBNU)," ungkapnya, diikuti gelak tawa bahagia.

Terakhir, almarhum digandeng Kompas TV. Ia menggalang dana untuk masyarakat terdampak Covid-19 melalui Konser Amal dari Rumah. Dengan kharisma dirinya, dalam tiga jam ia mampu menggalang duit Sobat Ambyar sebesar 3,5 miliar rupiah, dengan total akhir terkumpul 7,3 miliar rupiah.

Hasil penggalangan tersebut disalurkan melalui LAZISNU, LAZISMU, dan Gusdurian Peduli. Itulah amal jariyah Sang Maestro yang senantiasa ringan bersedekah lewat karya. Juga, ini membuktikan sosoknya sebagai seniman memiliki kekuatan menggerakkan.

Kini Didi Kempot alias Lord Didi telah meninggalkan kita semua. Meski begitu, karyanya akan tetap mengabadi menghibur para Sadboys dan Sadgirls di Indonesia. Dan lebih dari itu, kebaikan-kebaikan dan jiwa sosialnya, semoga dapat kita teladani bersama.


Ahmad Naufa Khoirul Faizun, santri NU dan penikmat musik.