Mbah Moen, Sosok Ulama yang Selalu Memuliakan Tamu Walau Sangat Lelah Sekalipun
Cari Berita

Advertisement

Mbah Moen, Sosok Ulama yang Selalu Memuliakan Tamu Walau Sangat Lelah Sekalipun

Redaksi
Jumat, 06 Desember 2019

Muslimoderat.net - Keteladanan KH Maimoen Zubair seolah tak ada habisnya diceritakan. Ulama kharismatik ini memang dikenal dekat dengan semua kalangan. Dari masyarakat biasa, polisi, tentara, politisi, sampai

Kisah ini disampaikan KH Musthofa Bisri dalam peringatan 100 hari wafatnya Mbah Moen. Gus Mus begitu biasa disapa mengungkapkan, Mbah Moen sosok paripurna, bukan hanya alim. Memandang Mbah Moen segala problem yang ingin disampaikan, langsung hilang. Dai di Indonesia cukup banyak. Namun, pendakwah dengan pribadi dakwah tak banyak. Diantara yang seperti itu ialah Mbah Moen
“Melihat wajahnya menarik,” katanya.

Mbah Moen, kata Gus Mus, diantara yang dikagumi adalah sosok ulama yang begitu memuliakan tamu. Siapapun datang diterima.

“Seneng tamu niku mawon, sampeyan sampun susah nirune.(Senang tamu saja anda susah menirunya),” kata Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin, Leteh Rembang ini.

“Seneng tamu, padahal tamu niku ngerepoti. Wong Gus Baha mawon boten purun ditamoni. (Suka tamu, padahal tamu itu merepotkan. Gus Baha (KH Bahauddin Nursalim) saja tidak mau kedatangan tamu),” sambungnya disambut tawa jamaah.

“Sampeyan takoni tiyange niki tasih urip. Kulo dilapori santri kulo.(Anda tanyakan (Gus Baha) orangnya masih hidup. Saya dilapori santri saya),” kata Kiai Musthofa lagi.

Gus Baha yang menjadi objek dari cerita seolah tak bisa menyembunyikan tawa. Posisinya memang tepat ada di bagian depan.

“Terose santri kulo, bade sowan boten angsal. Jek enom galak’e ngene.(Kata santri saya tidak boleh ziarah. Masih muda galak begitu,” ucapnya disambung derai tawa dari jamaah.

Gus Mus melanjutkan, Mbah Moen tak pernah menolak tamu. Hal ini kadang membuat Gus Mus bertanya-tanya.

“Ya Allah, mbok wong-wong iki nduwe sa’ake sitik sama Kiai Maimoen. Nemoni tamu jam-jaman.(Ya Allah, orang-orang ini harusnya sedikit kasihan dengan Kiai Maimoen. Menemui tamu berjam-jam),” terangnya.

Cerita Gus Mus ini dibenarkan oleh khadim Mbah Moen, Haji Asyrofi Zain. Santri yang akrab disapa Kang Asyrofi ini menyebut meski lelah didatangi banyak tamu, almaghfurlah KH Maimoen Zubair tak pernah menampakkannya.

“Mbah tetap menerima tamu, mengajak bicara dan berbincang,” ceritanya.

Disebutkan, kadang saking banyaknya tamu membuatnya kurang fokus. Tak memperhatikan ada beberapa tamu yang telah menanti.

“Kulo pernah ditimbali, Cung ngendi tamuku iku mau. (Saya pernah dipanggil, Nak mana tamuku tadi),” ujarnya.

“Saya saat itu kondisinya kurang fokus,” sambungnya.

Para santri, masyarakat umum, dan elemen lainnya yang pernah sowan ke Mbah Moen seolah dibuat bernostalgia. Cerita dari Gus Mus di acara 100 hari wafatnya Mbah Moen seolah merefresh ingatan.

Oleh: M SYAIFUL FEBRIAN PUTRA
Santri asal Kabupaten Jombang