Mbah Moen: Perbedaan Pendapat di Indonesia, Tak Boleh Sampai Merusak Persaudaraan Apalagi Perpecahan
Cari Berita

Advertisement

Mbah Moen: Perbedaan Pendapat di Indonesia, Tak Boleh Sampai Merusak Persaudaraan Apalagi Perpecahan

Redaksi
Jumat, 06 Desember 2019

Muslimoderat - Sowan ke Kiai Maimoen. Kang Asyrofi yang menjadi jalur komunikasi. Kala itu, pertengahan Juli 2018 penulis datang bersama sahabat dari Lombok, Mas Yayat namanya. Tamu yang datang cukup banyak. Sembari menunggu giliran, penulis ngopi di warung sebelah ndalem Mbah Moen.

Tak berapa lama Kang Asyrofi meminta kami masuk. Mbah Moen langsung mempersilahkan kami duduk. Ramah dan hangat. Minuman dan ragam suguhan ditawarkan Mbah Moen kepada kami. Cerita pun meluncur dari kiai sepuh ini. Beberapa yang penulis ingat adalah pesan-pesan nasionalisme. Kata Mbah Moen, apapun perbedaan pendapat yang terjadi di Indonesia, tak boleh sampai merusak persaudaraan. Apalagi hingga memicu perpecahan.

“Ora kabeh iso diceritakno. Opo maneh sampai nggarai ribut.(Tidak semua hal bisa diceritakan. Apalagi sampai membuat ribut),” kata Mbah Moen.

Mbah Moen kemudian berkisah mengenai ramainya Islam di tanah Jawa karena adanya pesantren. Cikal bakal pondok pesantren tak bisa dilepaskan dari Sunan Ampel atau Raden Rahmat. Dari Sunan Ampel kemudian hadir ribath atau pondok pesantren.

Kisah-kisah Mbah Moen akan sejarah Islam mengalir deras. Santri-santri yang hendak bersalaman tetap diberi ruang. Bergiliran mereka mencium tangan kiai sepuh ini. Kami sendiri belum diizinkan kembali. Malah disiapkan makan. Rasa segan menyeruak, sebabnya tentu saja menganggu istirahat pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar.

“Mbah Yai, pangapunten bade pamit, dalem ngelanjutaken perjalanan.(Mbah Yai, mohon maaf hendak pamit, saya melanjutkan perjalanan),” kata penulis.

“Arep neng endi? Kene disek! (Hendak kemana? Nanti dulu),” jawab Mbah Moen.

Obrolan pun kembali berlanjut. Kali ini sasarannya tamu setelah kami, ada sekitar lima orang. Sama seperti kepada kami, kepada lima orang ini pun Mbah Moen ramah menanyakan asalnya. Satu persatu diajak bicara. Para tamu ini juga begitu antusias mendengarkan kisah-kisah dari Kiai Maimoen. Tak terasa, penulis tiga jam lebih di ndalem Mbah Moen.

Tak berkebihan kalau KH Musthofa Bisri mengatakan, untuk urusan peduli kepada tamu saja barangkali kita semua susah mengikuti Mbah Moen. Kiai yang oleh Gus Mus disebut sudah melewati berbagai fase serta jabatan.

Bergaul dengan masyarakat biasa hingga presiden. Namun, ketika ada tamu datang Kiai Maimoen begitu menyenangkan. Orang Jawa biasa menyebut grapyak. Dan tentu, banyak sekali pengalaman-pengalaman santri atau masyarakat umum yang bertamu ke Mbah Moen. Alfatihah

Sumber :
M SYAIFUL FEBRIAN PUTRA
Santri asal Kabupaten Jombang. Seorang penulis dan creatievepreneur. Aktif di Duta Damai Dunia Maya Regional NTB