Ka’ab bin Zuhair: Penghina Rasulullah Saw yang Dimaafkan
Cari Berita

Advertisement

Ka’ab bin Zuhair: Penghina Rasulullah Saw yang Dimaafkan

Redaksi
Senin, 09 Desember 2019


Muslimoderat - Pernah suatu ketika, Rasulullah Saw. mendapatkan hinaan dan cacian yang merendahkannya dari seseorang yang bernama Ka’ab bin Zuhair. Bahkan  Ka’ab bin Zuhair memprovokasi orang-orang di masa itu untuk melawan Rasulullah Saw. Ia tak membuka pintu sedikitpun, untuk paling tidak membuktikan apakah kalimat-kalimat yang ia ciptakan ada benarnya. Ia bersyair, sebagai orang yang belum tahu kebenaran Islam.

Kabar kemenangan Rasulullah Saw. sampai kemana-mana. Kakak Ka’ab bin Zuhair, Bujair bin Zuhair Ra. yang pada waktu itu telah memeluk Islam mengabari adiknya. Ia melayangkan sepucuk surat yang berisi “Rasulullah Saw. telah mengeksekusi beberapa orang yang dulu mencelanya dan menyakitinya. Dan para penyair Quraisy yang tersisa adalah Ibn Ziba’ra dan Hubairah bin  Abi Wahb. Mereka telah melarikan diri. Kalau dalam dirimu memang masih ada hajat (untuk hidup), maka pergilah temui Rasulullah Saw. Karena Rasul tak pernah membunuh seorangpun yang bertaubat mendatanginya. Kalau kau tak mau melakukan itu, maka carilah keselamatanmu dengan melarikan diri.”

Ka’ab bin Zuhair segera membalas surat itu. Ia membalasnya dengan untaian syair. Syair yang justru mengecam dan menyudutkan Rasulullah Saw. Syair ini sampai juga kepada Nabi. Bujair pun membalas syair Ka’ab. Lalu hati Ka’ab mulai ragu. Tak ada lagi niatan baginya untuk melarikan diri, karena lapangnya dunia sudah terasa sangat sempit. Ia tak merasa memiliki tempat sembunyi yang aman. Ia lalu memutuskan untuk pergi menemui Rasulullah Saw. di Madinah. Sebuah keputusan yang penting dan berani dalam hidupnya. Ia telah pasrah, apapun yang akan terjadi.

Ia menempuh perjalanan menuju Madinah, kota berperadaban yang baru saja menggeliat. Tiba di sana, ia beristirahat ditempat kenalannya yang berasal dari Juhainah. Orang itu menyediakan tempat istirahat sesaat. Tidak lama, karena pagi-pagi buta Ka’ab langsung berangkat menunaikan salat Subuh. Tak sabar ia jumpa Rasulullah Saw. Tak sabar pula ia menantikan apa yang selanjutnya terjadi. Tentu saja Ka’ab meminta temannya untuk menunjukkan dimana Rasulullah Saw. Karena selama ini ia belum pernah berjumpa beliau, ia hanya tahu dan mendengar dari orang-orang. Ketika salat Subuh telah usai, Ka’ab minta ditunjukkan dimana Rasul duduk.

 “Itu dia Rasulullah Saw., berdirilah dan mintalah jaminan keamanan padanya.” kata kawan Ka’ab.

Maka bergegaslah Ka’ab bin Zuhair menjumpai Rasulullah Saw. Ia mendekat dan duduk di dekat beliau. Tangan Ka’ab diletakkan di tangan Rasulullah Saw. Pada waktu itu, Rasulullah Saw. belum mengenal siapa orang di depannya. Orang asing yang tiba-tiba duduk di depan Nabi itu. Tanpa basa-basi, Ka’ab langsung mengutarakan maksudnya. Ia tidak langsung mengatakan dan mengakui bahwa ialah Ka’ab bin Zuhair. Tentu saja atas perlakuan dan sikapnya selama ini terhadap Nabi. Orang-orang di sekitar Nabi juga tak ada yang berkata apapun. Mereka hanya tahu syair-syair Ka’ab, namun belum pernah melihat rupa penyairnya.

“Wahai Rasulallah, Ka’ab bin Zuhair sudah datang dan minta jaminan keamanan kepadamu. Ia bertaubat dan masuk agama islam. Maka adakah engkau mau menerimanya jika aku datang padamu membawa serta dia?” kata Ka’ab dengan nada politisnya.

Rasulullah Saw. bukanlah pribadi yang pendendam. Beliau juga bukan pribadi yang suka mengungkit-ungkit kesalahan seseorang. Beliau selalu membuka lapang pintu maaf, dan menerima siapapun yang sadar dan bertaubat. “Tentu saja”, kata Rasulullah Saw.

Mendengar jawaban tersebut seperti mendapat angin segar. Tanpa ragu lagi Ka’ab mengaku, “Aku wahai Rasul! Ka’ab bin Zuhair”.

Spontan saja, salah seorang sahabat Anshor melompat hendak menikam Ka’ab. “Biarkanlah aku dan musuh Allah ini, aku penggal lehernya.”

Namun Rasulullah Saw. menjawabnya dengan bijak. Beliau tidaklah membiarkan seorang pun melukai orang yang sudah masuk Islam. “Biarkan dia, karena dia telah datang bertaubat. Tak melakukan lagi apa yang dilakukannya dulu.”

Kemudian ia menyenandungkan kasidah yang begitu popular dan melegenda, Banat Su’ad.

______________________________

Disarikan dari: Sirah Ibn Hisyam, vol. II. Hal 510. Maktabah Darul Kutub ‘Ilmiyyah.
Sumber: lirboyo.net