[Ngaji Gus Baha] Menuduh Musyrik Pembawa Keris, Padahal dia Tidak Tenang Saat Tidak Bawa HP dan ATM
Cari Berita

Advertisement

[Ngaji Gus Baha] Menuduh Musyrik Pembawa Keris, Padahal dia Tidak Tenang Saat Tidak Bawa HP dan ATM

Redaksi
Minggu, 13 Oktober 2019

Muslimoderat.net - Ngaji Mahasantri Milenial’ bersama KH Bahauddin (Gus Baha) Sabtu (12/10/2019) dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional (HSN), sangatlah menarik. Acara ini berlangsung mulai pukul 12.00 WIB di Aula lt 3 kantor PWNU Jawa Timur, Jalan Masjid Al Akbar Timur No 9 Surabaya.

Banyak hal dikupas Gus Baha. Diantaranya: Pertama, Gus Baha mengakui, bahwa, dirinya sedang melakukan ‘kampanye’ ‘Gerakan Mukmin Pasti Masuk Surga’. Kedua, soal teori ikhlas dan kebenaran absolut. Menurut Gus Baha, ketika berbicara soal kebenaran absolut, maka, kita harus ikhlas. Dan, ikhlas itu, tidak butuh surga.

Menurut Gus Baha, umat Islam (mukmin) harus diberitahu, bahwa, mereka dijamin masuk surga. “Saya ingin menjadi marketing (yang baik) untuk mengimbangi yang di sana (agama lain). Kalau di sana umatnya selalu dikatakan ‘tenang bersama Bapa di surga’, maka, orang mukmin, harus saya katakan, pasti masuk surga. Kalau tidak, kita kalah,” katanya disambut tawa hadirin.

Gus Baha juga menyinggung munculnya firqoh-firqoh, termasuk firqoh takfiri yang sering mengkafir-kafirkan orang lain. Mereka ini sering menyebut ‘musyrik’ ketika melihat ada orang membawa keris. Padahal, keris, itu hanya untuk ketenangan. Keimanan tetap kepada Allah swt.

Ini (keris), jelas Gus Baha, sama saja dengan orang kota ketika membawa ATM atau HP. Ketika mereka lupa membawa HP, juga tidak tenang. “Untuk melawan ini perlu ‘Gerakan Cakem Elek’. Tetapi (gerakan cangkem elek red.) ini, bukan dari nabi. Dari saya, karena saya mau menjadi bemper kanjeng Nabi,” jelasnya.

Gus Baha juga menyinggung kelompok yang rajin mengkritik tradisi salaman-salaman usai salat dan wirid bersama. Mengapa yang dikritik bukan orang yang buka HP usai salat, atau ngacir ke kamar mandi. Ini semua bisa dipatahkan dengan akal sehat. Karena, “Akal sehat itu pasti dipaksa menerima kebenaran,” jelasnya.

Putra KH Nursalim Al-Hafizh dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah ini juga mengajak umat Islam berpegangan pada teori ikhlas dalam menghadapi kebenaran absolut. Gus Baha kemudian mengambil contoh 1 + 1 = 2. Ditanyakan kepada siapa pun, satu tambah satu, pasti dua. Kita tidak butuh hadiah untuk mengatakan atau menjawab, dua.

Begitu juga kebenaran Allah swt. Untuk menjawab kebenaran Allah swt, tidak butuh surga dan neraka. Karena ini kebenaran yang absolut. “Kalau masih (menuntut) surga, rais syuriah macam apa?,” katanya sambil melempar joke dan disambut tawa hadirin.[ad/d]