Mbah Moen: Aku Tidak Berani Gus Dur, Beliau Itu Titisan Mbah Hasyim Asy’ari
Cari Berita

Advertisement

Mbah Moen: Aku Tidak Berani Gus Dur, Beliau Itu Titisan Mbah Hasyim Asy’ari

Redaksi
Jumat, 18 Oktober 2019

Muslimoderat.net -- Sebuah kisah yang sarat dengan makna, pagi-pagi, Rabu 12 Agustus 2015, rumah saya ‎kedatangan seorang tamu dari Trenggalek. Beliau adalah teman waktu ngaji di Abuya ‎Sayyid Muhammad Al-Maliki Makkah. Beliau sudah menjadi seorang Kyai, dengan nama ‎lengkap KH Bahrul Munir Al-Hafid. Beliau ‎asal Jember, tetapi diambil mantu oleh Kyai Mahmud Trengalek.

Pagi-pagi, saya ngobrol ngalor-ngidul seputar pendidikan yang cocok dan tepat untuk ‎masa depan anak-anak. Tidak menyadari, tiba-tiba saya dan Bahrul Munir ‎membincangkan Muktamar NU yang telah berlangsung di Jombang. Sangat asyik dan ‎menarik, sekaligus menegangkan proses pemilihan ketua NU.‎

Tiba-tiba Bahrul Munir bercerita bahwa dirinya pernah mijeti (memijat) Mbah Maimoen ‎Zubair waktu di Rubath Jawa (tempat berkumpulnya santri-santri Nusantara di ‎Makkah). Merupakan sebuah kenikmatan sekaligus kebanggaan tersendiri ketika seorang ‎santri mendapatkan kehormatan bisa mijeti Guru dan Kyainya. ‎

Saat asyik mijeti Mbah Maimoen Zubair, tiba-tiba Bahrul Munir mbatin (terbesit dalam ‎hatinya) tentang Gus Dur. Tiba-tiba Mbah Maimoen Zubair ‎langsung berkata, “Aku gak wani dengan Gus Dur karena beliau itu titisane Mbah ‎Muhammad Hasyim Asy’ari. (Saya tidak berani sama sekali kepada Gus Dur, karena ‎beliau itu titisan dari KH Hasyim Asy’ari).

Betapa kaget dan terperanjatnya Bahrul Munir terhadap apa yang disampaikan ‎oleh seorang ulama, faqih, muhaddis yang bernama Mbah Maimoen Zubair.‎

Terbukti, ketika Gus Dur wafat, Mbah Maimoen sendiri yang hadir dan mentalkin. ‎Juga, menjadi rujukan para ulama dan Kyai Nusantara. Hingga sekarang, makam Gus Dur benar-banar memberikan berkah tersendiri bagi masyarakat ‎setempat. Setiap ‎bulan, kotak amal yang dihasilkan mencapai ratusan juta.

Beliau juga selalu hadir saat tahlilan dan khoulnya KH Abdurahman Wahid. Seolah-olah ‎Mbah Maimoen Zubair ingin berkata kepada orang-orang yang dengan mudah ‎mengeluarkan kata “sesat” atau “kafir” terhadap Gus Dur, bahwa Gus Dur itu tidak ‎seperti yang mereka kira

Oleh: Abdul Adzim Irsad, alumnus Universitas Ummul Qura Makkah, tinggal di Malang via Fp ULAMA & KIAI Nusantara