KH Ma'ruf Amin: Santri 'Milanisti' yang Nyaris Jadi Polisi
Cari Berita

Advertisement

KH Ma'ruf Amin: Santri 'Milanisti' yang Nyaris Jadi Polisi

Redaksi
Minggu, 20 Oktober 2019

Muslimoderat.net -- Usianya sudah tidak muda. Sudah 76 tahun pada 2019 ini. Namun Ma'ruf Amin masih terlihat energik ketika mengikuti rangkaian kampanye Pilpres 2019. Seolah tiada lelah, senyum masih selalu ia pancarkan ketika keliling sejumlah daerah sebagai cawapres dari Joko Widodo.

Baju koko putih dipadu peci hitam dan sarung jadi ciri khasnya. Meski tak segesit waktu muda, namun kebugaran tubuhnya masih tampak terjaga.

Seperti terlihat pada akhir Desember 2018 lalu. Bertempat di kediaman pribadinya, Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Ma'ruf duduk di kursi dan bercerita tentang kegemarannya terhadap sepak bola sewaktu muda.

Ma'ruf kecil punya hobi yang sama dengan mayoritas laki-laki di Indonesia sejak dulu, yakni sepak bola. Ma'ruf sendiri mengaku sebagai seorang yang 'Gibol' atau Gila Bola sejak masih kecil.

Dia merupakan fans berat AC Milan. Terutama era akhir 1980-an hingga pertengahan 1990-an. Sebagai Milanisti (sebutan bagi fans AC Milan), Ma'ruf tentu mengidolai trio Belanda: Ruud Gulit, Frank Rijkaard, dan Marco Van Basten.

Memang kala itu, bersama trio ini, AC Milan tak hanya merajai Serie A Italia, tetapi juga Eropa. Banyak tropi masuk ke lemari I Rosonerri (julukan AC Milan) di era 'dream team' ini.

"Saya menyukai AC Milan. Sejak dulu zaman trio Belanda, ada [Ruud] Gullit, [Frank] Rijkaard, [Marco] van Basten," ujar Ma'ruf.

Meski kini sudah tidak muda lagi, bukan berarti Ma'ruf tak mengikuti perkembangan klub kesayangannya itu. Menurutnya, AC Milan yang sekarang bukan AC Milan yang dulu.

Sejak beberapa tahun terakhir 'si merah hitam' sedang kepayahan. Alih-alih merajai Eropa, AC Milan justru tertinggal jauh dari pesaingnya seperti Juventus.

Karena masalah prestasi itu, Ma'ruf kini mulai berpaling ke Liga Inggris. Dia punya dua klub yang digemari, yakni Manchester United dan Manchester City. Aneh memang, mengingat kedua klub merupakan rival sekota sekaligus musuh bebuyutan, dan para pendukungnya saling tak suka satu sama lain.

Tapi berbeda dengan Ma'ruf. Baginya United dan City tetap klub yang diisi pemain-pemain kelas dunia. Skuat kedua kesebelasan punya segalanya untuk meraih tropi.

"Jadi sekarang saya senang dengan dream team yang kuat dan dream team seperti Manchester United dan Manchester City," kata Ma'ruf.

Ma'ruf memang pecinta bola. Sejak kecil dulu, dia hobi sekali bermain si kulit bundar bersama teman sebaya. Seperti yang ditulis Iip Yahya dalam bukunya 'KH Ma'ruf Amin: Santri Kelana Ulama Paripurna'. Iip menyebut bahwa hobi bermain bola Ma'ruf makin tersalurkan saat menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Tak ada kegemaran khusus ketika Ma'ruf masih kecil. Ia bermain seperti biasanya permainan yang dilakukan anak-anak desa pada umumnya. Hanya memang Ma'ruf lebih menyukai permainan yang melibatkan banyak anak dan ada unsur organisasinya seperti sepak bola.

Ma'ruf mengatakan lebih jauh, bahwa bakatnya di lapangan rumput semakin teruji tatkala berjumpa dengan sesama santri yang jago main bola. Lawan mainnya yang sepadan adalah Gus Shohib Bisri, putra dari pendiri Pondok Pesantren Denanyar, Jombang Kiai Bisri Syansuri. Jika keduanya sudah bertemu di lapangan, maka pertandingan sepak bola pun menjadi sangat seru.

Hobi bermain sepak bola Ma'ruf pun berlanjut. Saat dirinya pulang kampung ke Banten di tengah liburan pesantren, Ma'ruf selalu menjumpai kawan-kawan satu permainannya yang sama-sama hobi bermain bola. Mereka pun lantas bermain dan bertandang  ke kampung atau desa lain yang siap menerimanya untuk bertanding sepak bola.

"Saya suka berada di posisi penyerang atau striker," kata Ma'ruf.

Besar di Lingkungan NU

Ma'ruf lahir pada 11 Maret 1943 di Desa Kresek, sebuah desa kecil di Kabupaten Tangerang, Banten yang dilintasi jalur Jakarta-Merak. Ia merupakan anak semata wayang dari pasangan Muhammad Amin dan Maimunah.

Kelahiran Ma'ruf bertepatan saat Kampung Kresek kedatangan penjajah Jepang di Indonesia yang baru saja mengalahkan Belanda. Jepang sebelumnya mendarat di Teluk Banten, bersamaan dengan pendaratan di wilayah Eretan Cirebon 1 Maret 1942.

Dalam buku KH Ma'ruf Amin : Penggerak Umat, Pengayom Bangsa, Arif Punto Utomo menulis, sang Ayah sudah menyiapkan nama terbaik bagi sang buah hatinya. Ma'ruf bayi diberi nama Ma'ruf Al-Kharki.

Pemberian nama itu mengandung harapan besar bagi sang ayah untuk Ma'ruf. Sang Ayah berharap anak semata wayangnya itu mampu menjadi ahli sufi seperti ahli sufi dari Irak bernama Abu Mahfudz bin Firus Al Kharki.

Akan tetapi, nama belakang Al-Kharki tak sempat bergema di Desa Kresek tempat Ma'ruf kecil tinggal. Bahkan, nama belakang itu pun tak pernah tertulis dalam setiap dokumen legal yang mencatat nama lengkap Ma'ruf.

Seiring berjalannya waktu, nama lengkap Ma'ruf justru memakai nama belakang ayahnya yang sangat dihormatinya, Amin. Jadilah dia selalu memakai nama Ma'ruf Amin. Mulai dari ijazah Sekolah Dasar hingga Madrasah sampai saat ini, nama yang melekat adalah Ma'ruf Amin.

Ma'ruf tumbuh dewasa dalam tradisi NU. Ayahnya memiliki Pondok Pesantren di daerah Koper, Tangerang. Tak hanya itu, Ma'ruf sendiri memiliki darah keturunan kiai besar dari Banten. Kakeknya bukan sembarang kiai. Banyak kiai-kiai Nusantara dulu sempat berguru pada kakeknya.

Shohibul Ulum dalam bukunya 'Kiai Ma'ruf Amin, Menyelami Jejak Pemikiran Sang Politisi, Pemikir dan Ulama Besar mengatakan Ma'ruf adalah cicit dari ulama besar Syeikh Nawawi al-Bantani.

Syeikh Nawawi al-Bantani sendiri memiliki rekam jejak sebagai ulama besar yang dipercaya mengajar agama Islam di Mekkah dan pernah menjadi Imam Besar Masjidil Haram di Mekkah. Syeikh Nawawi juga tercatat masih keturunan Sultan Banten.

Lebih jauh, nama Syeikh Nawawi turut disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Arab Al Munjid. Di kamus itu, hanya ada dua orang Indonesia yang disebutkan, yaitu An Nawawi dan Sukarno, Presiden pertama RI. Lengkap sudah bagi Ma'ruf, sebagai keturunan ulama tersohor, keturunan Sultan Banten pula.

Masa Sekolah dan Nyantri

Ma'ruf kecil tumbuh sebagai anak yang cerdas dan lincah. Saat memasuki masa sekolah, pada pagi hari, Ma'ruf belajar di Sekolah Rakyat Kresek, Banten tahun 1955 atau saat ini setara SD.

Lalu pada sore harinya dilanjutkan dengan belajar di Madrasah guna memperkuat pengetahuan tentang agama. Di madrasah, Ma'ruf belajar mengaji dengan para ustaz muda. Tak jarang, ia turut mendengarkan kakeknya ketika mengajar di sana.

Ma'ruf kecil juga dikenal sebagai sosok yang cerdas dimata para sahabat-sahabatnya. Arif Punto menuils bahwa Ustaz Zaenuddin, salah satu teman sekelas Ma'ruf saat menimba ilmu di Sekolah Rakyat Kresek bercerita tentang kecerdasan sekaligus kenakalan Ma'ruf.

Zaenuddin mengisahkan suatu hari Ma'ruf sempat tertidur di dalam ruang kelas saat mata pelajaran tengah berlangsung. Padahal, salah seorang guru sedang menerangkan materi pelajaran. Alhasil, Ma'ruf pun dibangunkan dan terkena 'semprot' sang guru.

Meski sempat tertidur, namun Ma'ruf rupanya mampu menjawab pertanyaan dari gurunya dengan benar.

Setelah tamat di Sekolah Rakyat dan Madrasah Ibtidaiyah, keluarganya kemudian mengirim Ma'ruf untuk menimba ilmu ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Tengah sekitar tahun 1958.

Tebuireng merupakan Pondok Pesantren yang didirikan oleh pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia,NU, Hasyim Asyari. Faktor itulah yang membuat Ayah dan Kakeknya berkukuh untuk menyekolahkan Ma'ruf di pesantren yang didirikan tahun 1899 itu.

Alhasil ia diterima belajar di Tebuireng. Ma'ruf mulai belajar di Tebuireng dengan sedikit mundur, yakni dari jenjang dasar, madrasah ibtidaiyah (setara SD) kelas 6.

Pelbagai ilmu agama banyak dipelajari tatkala mondok di Tebuireng. Ma'ruf banyak mendalami dan mengkaji berbagai kitab-kitab, tafsir hingga ilmu fiqih yang berkaitan dengan Islam.

Ma'ruf mengaku takzim dengan para Kiai-kiai yang sudah mengajarnya tatkala belajar di Pesantren Tebuireng. Misalnya, ia menyebut Kiai Tahmid yang kerap mengajarkan Kitab Iqna' menjadi salah satu kiai favoritnya.

Selain itu, terdapat Kiai kelahiran Mekkah yang bernama Idris Kamali turut menjadi favoritnya selama mondok. Kiai Kamali kerap mengajarkan tafsir Ilmu Alquran dan hadis, seprrti tafsir Al Baghawi, Al Khazi , Ibu Katsir, dan Hadis Bukhari.

"Di luar jam sekolah, saya banyak memperdalam ilmu fiqih dan tafsir," aku Ma'ruf.

Kegiatan otodidak semacam itu terus dilakukannya secara rutin di Tebuireng. Sehingga, penguasaannya terhadap kitab-kitab kuning yang ditulis ulama terdahulu semakin paripurna.

Nyaris Jadi Polisi

Setelah lulus pondok pesantren Tebuireng, Ma'ruf lantas kembali ke Banten dan 'mengembara' dari satu pesantren ke pesantren lainnya untuk terus memperdalam ilmu agamanya. Berbeda dengan saat menimba ilmu di Tebuireng yang menetap di satu pesantren selama beberapa tahun.

Tercatat, Ma'ruf sempat mencari ilmu di Pesantren Caringin, Labuan; Pesantren Petir, Serang; dan Pesantren Pelamunan, Serang. Ia makin mematangkan pengetahuan tentang Agama Islam karena mendapatkan ilmu langsung dari kiai-kiai yang disegani.

Setelah itu, Ma'ruf memutuskan untuk meneruskan jenjang pendidikannya di Universitas Ibnu Chaldun, Jakarta. Ia lulus dengan predikat sarjana muda. Ma'ruf mengaku tak ingin melanjutkan sampai jenjang sarjana karena sudah disibukkan dengan pelbagai urusan organisasi dan mengajar.

Ada cerita unik ketika Ma'ruf lulus kuliah di Universitas tersebut. Ia sempat mendapatkan tawaran sebagai prajurit kepolisian sekitar tahun 1965. Ma'ruf yang kala itu berusia 22 tahun pun nyaris jadi polisi.

"Saya pernah diberi tawaran untuk jadi polisi. Itu sekitar tahun 65. Dan saya dipanggil untuk jadi polisi," kata Ma'ruf saat tengah berkampanye di Kalimantan beberapa waktu lalu.

Akan tetapi Ma'ruf akhirnya menolak tawaran tersebut. Nenek Ma'ruf yang sudah mengasuhnya sejak kecil melarang. Neneknya, kata Ma'ruf, menyarankannya agar tetap istikamah untuk menjadi ulama dan kiai besar di Indonesia.

"Jadi kiai aja. Jadi saya jalurnya jalur kiai, ulama," kenang Ma'ruf.

Pentolan PBNU dan MUI

Pada pertengahan tahun 1964 Ma'ruf dan keluarga kecilnya menjejakkan kaki di Kelurahan Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Saat itu, kariernya di bidang sosial dan politik moncer dan terus menanjak.

Arif Punto melukiskan, di masa mudanya Ma'ruf sudah jadi guru di berbagai sekolah di kawasan Tanjung Priok.

Selain itu, Ma'ruf juga aktif berorganisasi dan pernah menginisasi Gerakan Pemuda (GP) Ansor ranting Koja. Ia turut ditasbihkan sebagai Ketua Umum GP Ansor Ranting Koja yang pertama.

Kala memimpin GP Ansor Koja, Ma'ruf pernah menginisasi pembentukan grup Drumband GP Ansor Koja. Pembentukan itu beralasan agar pemuda yang tergabung dalam GP Ansor memiliki kreativitas di bidang seni dan budaya.

Lambat laun, keberadaan Ma'ruf makin disegani di kawasan Jakarta Utara. Ia kemudian terpilih sebagai Ketua Umum GP Ansor Cabang Tanjung Priok di masa perlawanan terhadap PKI. Ma'ruf juga sempat menjadi ketua Front Pemuda yang beranggotakan organisasi pemuda lintas partai.

Kariernya pun makin moncer. Sejak tahun 1968-1976, dia diangkat menjadi Wakil Ketua Nahdhatul Ulama wilayah DKI Jakarta di usia yang masih 23 tahun. Jabatan itu ia emban merangkap sebagai Ketua Umum NU Cabang Tanjung Priok.

Setelah itu, nama Ma'ruf masuk tercatat sebagai Katib Aam Syuriah PBNU pada periode 1989-1994. Ia sempat mengemban jabatan sebagai Rais Aam PBNU pada periode 2015-2018. Itu merupakan Jabatan tertinggi Ma'ruf semasa berkarier di PBNU.

Bila membicarakan sosok Ma'ruf Amin sudah pasti juga tak bisa dilepaskan dari organisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sosoknya sudah melekat dalam organisasi yang banyak masyarakat memandangnya sebagai  "wakil Islam" di Indonesia.

Ma'ruf pun menjadi pentolan MUI sampai saat ini. Ia bergabung dengan MUI pada tahun 1990. Posisinya pun menanjak saat diangkat sebagai  Ketua Komisi Fatwa MUI periode 2001-2007 dan puncaknya menjabat sebagai Ketua Umum MUI 2015 sampai sekarang.

Sumber: Cnnindonesia.com