Gus Baha, Simbol Kebangkitan Kaum Pesantren
Cari Berita

Advertisement

Gus Baha, Simbol Kebangkitan Kaum Pesantren

Redaksi
Rabu, 16 Oktober 2019

Oleh: Abu Dzarrin al-Hamidy*

Muslimoderat.net -- Penyebutan Gus Baha’ (sebutan akrab K.H. Bahauddin Nur Salim) dalam Judul di atas bukan bermaksud mengkultuskan figur seseorang namun tidak berlebihan kiranya bila Saya sebut Gus Baha’ sebagai representasi kaum pesantren itu sendiri. Sudah sekitar sebulan terakhir ini, Saya intensif mengamati dan menyimak video-video pengajian dan kajian Gus Baha’ yang bertebaran di channel Youtube, di samping video-video Gus Mus (K.H. Mustofa Bisri) dan Gus Muwaffiq yang nota bene “menyejukkan” dan sepertinya mendominasi alternatif tayangan yang ada di media sosial. Bagi banyak pihak—bukan bermaksud mewakili—hal ini perlu terus diberikan support dan ruang seluas-luasnya untuk menjadi penyeimbang tayangan-tayangan semisal yang sebenarnya memiliki konten dakwah namun ternyata ajakan syiar yang dilakukan bukan dengan cara “merangkul” melainkan “memukul”, bukan dengan “mengajak” malah dengan “mengejek”. Bahkan tidak sedikit yang berujung pada upaya memecah belah umat yang pada gilirannya dampak yang ditimbulkan tidak bisa dianggap sepele.

Seperti halnya telah diketahui dalam tradisi khas di pesantren-pesantren pada umumnya yang bercirikan kitab kuning (kutub al-turath) dan studi Islam (dirasah Islamiyyah), sebagaimana yang terekam dengan baik dalam disertasi Zamakhsyari Dhofier yang kemudian dibukukan oleh LP3ES dengan judul Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai (cet. 1, 1982), juga penelitian yang dilakukan Karel A. Steenbrink yang diterbitkan penerbit yang sama dengan judul Pesantren Madrasah Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Moderen (cet. 1, 1986), dan penelitian Martin Van Bruinessen yang didokumentasikan dalam sebuah buku terbitan Mizan dengan judul Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat (cet. 1, 1995), bahwa pesantren telah menawarkan pembelajaran otentik dan orisinal dalam rentang sejarah kiprahnya sejak awal berdirinya dengan langsung merujuk dan menjadikan kitab kuning yang nota bene tanpa harakat (Jawa, kitab gundul) sebagai kekhasan kurikulumnya.

Kitab kuning dengan beragam disiplin ilmu tersebut dipelajari, setidaknya dengan 2 (dua) cara yang sangat khas, yaitu dengan sistem pengajian “weton” dan sistem pengajian “sorogan”.  Pengajian model weton adalah suatu sistem pembelajaran kitab kuning yang dilakukan secara sentral dan terpusat pada seorang kyai atau guru tanpa melihat latar belakang jenjang pendidikan dan kemampuan santri, di mana waktu pelaksanaannya berdasar 5 waktu shalat fardlu, yaitu setelah shalat Subuh, Dzuhur, Asar, Maghrib, dan Isya’. Praktiknya, seorang kyai atau guru membaca teks demi teks dari kitab kuning; sementara para santri menyimak dengan menulis makna demi makna dari setiap teks yang dibacakan kyai atau guru tersebut.

Sementara pengajian kitab kuning model “sorogan” adalah sistem pembelajaran santri aktif, baik di kelas maupun di luar kelas, di mana para santri senior atau yang dianggap telah memiliki kemampuan cukup membaca secara aktif sejumlah teks kitab kuning yang ditunjuk dan mendeskripsikannya dengan penjelasan-penjelasan yang sesuai dengan konteks; sementara kyai atau guru cukup menyimak setiap bacaan santri-santri tersebut. Berikutnya, sang kyai atau guru memberikan komentar atau koreksi yang diperlukan. Kedua sistem pembelajaran di atas senantiasa berjalan dari tahun ke tahun berikutnya secara terus-menerus dan berkesinambungan, bahkan menjadi kultur yang hidup atau bisa disebut dengan bahasa hukum sebagai living law yang menjadi ciri khas pesantren-pesantren tersebut.

Gus Baha’—juga semua santri—dalam masa pencariannya (Jawa, mondok) telah menjalani sistem “weton” dan sistem “sorogan” itu dalam rentang waktu yang sangat panjang; bahkan bila dijumpai seorang santri lebih lama mondok-nya ia ditahbiskan sebagai santri senior dan semakin dihormati di mata santri-santri lainnya. Gus Baha’ tidak saja telah mempelajari kitab kuning yang berjilid-jilid dengan beragam disiplin ilmu, tetapi juga membaca setiap kata perkata dengan penuh ketelatenan dan kesabaran, dari mukaddimah atau bab pertama sampai tamat atau bab terakhir, dengan bimbingan   langsung para guru/kyai. Dalam setiap ceramah yang disampaikan, Gus Baha’ dengan sangat fasih dan gamblang mendasarkan materi yang disampaikan dengan menyebut langsung sumber-sumber referensi dan nama-nama pengarangnya. Demikian pula dalam banyak kesempatan halaqahnya, ia kerapkali menyampaikan dengan jelas perihal ketersambungan sanad keilmuannya (transmisi keilmuan murid-guru) dari generasi ke generasi sampai pada penulis kitab asal (matan), sebagaimana Syekh Muhammad Mahfuz bin ‘Abdillah al-Turmusi dan Muhammad Yasin bin ‘Isa al-Fadani al-Makki yang keduanya begitu masyhur disebut dengan musnid al-‘alam (pakar sanad). Dari sini tidak berlebihan bila Saya menyebut Gus Baha’ sebagai santri par exellent, atau santri akademisi yang begitu menguasai dengan baik khazanah kutub al-turath dan dirasah Islamiyyah sekaligus, lengkap dengan pemahaman terhadap kondisi sosiologis yang melatarbelakangi perkembangan khazanah ilmu keislaman tersebut.

Potret Gus Baha’ di atas sedikit banyak memberikan pengaruh positif bagi banyak pesantren yang selama ini “gamang” dengan membangkitkan kesadaran, bahwa penguasaan terhadap khazanah kutub al-turath seraya menyandingkan dengan aspek-aspek modernitas begitu sangat penting dan dibutuhkan kapanpun dan di manapun. Bukan saja oleh kaum pesantren itu sendiri tetapi juga oleh lembaga pendidikan tinggi formal. Baik PTAIN maupun PTAIS, termasuk kampus kita tercinta, UIN Sunan Ampel Surabaya ini—khususnya prodi-prodi keislaman—sangat berkepentingan untuk menjalin kerjasama yang intensif dengan stakeholder pesantren-pesantren di seantero Jawa Timur. Khususnya yang penguatan kitab kuningnya sudah tidak diragukan lagi. Sebut saja, PP. Tebuireng Jombang, PP. Tambakberas Jombang, PP. Lirboyo Kediri, PP. Ploso Kediri, PP. Langitan Tuban, PP. Sidogiri Pasuruan, dan lain-lain. Input santri par exellent tersebut yang sangat diharapkan memasuki prodi-prodi ke-Islaman yang akan mewarnai kampus kita yang memiliki penciri Building Character Qualities: for the Smart, Pious, and Honorable Nation yang pada gilirannya akan melahirkan lulusan-lulusan yang “pantas” menyandang gelar kesarjanaan. Semoga!.

*Dosen Tetap Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya; Peserta Program Pascasarjana S3 Prodi Dirasah Islamiyah di Kampus yang sama via UIN Sunan Ampel Surabaya.