Kisah Tirakat Dua Sejoli Leluhur dari Mbah Maimoen Zubair dan Pesantren Sarang
Cari Berita

Advertisement

Kisah Tirakat Dua Sejoli Leluhur dari Mbah Maimoen Zubair dan Pesantren Sarang

Santri Ganteng
Jumat, 05 Agustus 2016

Kisah Tirakat Dua Sejoli Leluhur dari Mbah Maimoen Zubair dan Pesantren Sarang
Sarang, Malam Rabu Kliwon, 29 Syawwal 1437 H/ 3 Agustus Aab 2016 M.
MusliModerat.Com - Sekilas Tentang Pesantren Sarang(MIS, MUS dan AL ANWAR)

Sebelum pesantren Sarang ini menjadi besar, terlebih dahulu pesantren ini telah ditirakati oleh pendahulunya. Yaitu, Mbah Muhdor dan Mbah Syamsyiyah.
Mbah Muhdlor berasal dari Bonang (daerah dekat lasem) dan bertempat tinggal di Sidoarjo. Sedangkan Mbah Syamsyiyah adalah anak Kiai Misbah dari Sedan yang masih mempunyai hubungan darah dengan Kiai Sayyid Sulaiman Mojo Agung Jawa Timur.

Leluhur Mbah Syamsyiyah itu status sosialnya lebih tinggi dari status sosial leluhur Mbah Muhdlor. Dalam diri Mbah Syamsyiyah ini telah mengalir darah ke-kia-an dari Mbah Sulaiman yang merupakan seorang ulama yang alim dan sakti madraguna. Sehingga menjadi sebuah unen-enen (ucapan) kalau ada kiai sakti itu kebanyakan adalah keturunan Mbah Sulaiman Mojo Agung. Sedangkan Mbah Muhdlor keturunan nelayan biasa.

Melihat kondisi nasab yang begitu jauh itu, dan saking cintanya kepada Mbah Syamsyiyah, Mbah Muhdlor bernazar jika dirinya dapat mempersunting Mbah Syamsyiyah yang merupakan cucu Kiai Sulaiman Mojo Agung, maka dirinya akan melakukan:
Bertata bahasa halus (kromo) padanya (Mbah Syamsyiyah).
Akan memenuhi semua permintaan Mbah Syamsyiyah selagi tidak bertentangan dengan syariat Islam.


Nadzar Mbah Muhdlor untuk Mbah Syamsyiyah dilaksanakan sebagaimana mestinya sebagai bukti cintanya kepada Mbah Syamsyiyah.
Bukan hanya itu, saking cintanya kepada Mbah Syamsyiyah, tatkala keduanya sedang melakukan perjalanan dari Sidoarjo menuju Sarang, Mbah Muhdlor mempersilahkan istri tercintanya untuk menaiki kuda, sementara dirinya yang menuntunnya dengan berjalan kaki.
Ketika ijab qabul sudah berlangsung, Mbah Syamsiyah yang statusnya sudah menjadi istrinya Mbah Muhdlor itu rajin puasa setahun penuh (dahrii) dan tidak mau dikumpuli terlebih dahulu sebelum Mbah Muhdlor bersama Mbah Syamsiyah pergi haji.

Ketika keduanya melakukan perjalanan ibadah haji, keduanya terdampar di tiga pulau karena kapalnya masih berupa kapal layar. Tiga pulau tersebut yaitu:
Pulau Mondoliko Jepara, Pulau pinang Malaysia dan Pulau Singapura.
Ketika Mbah Muhdlor dan Mbah Syamsyiyah dianugrahi putra-putri oleh Allah, maka namanya itu disesuaikan dengan peristiwa yang pernah dialami keduaya ketika berhaji. Yaitu sebagai berikut:
Putra pertama dinamakan Nyai Mondolika (istri KH Basyar Tuban yang menurunkan kiai-kiai Makam Agung Tuban).

Putra kedua dinamakan Nyai Pinang yang disunting oleh Kiai Ghozali (Dimakamkan di Maqam Setumbun) Sarang yang menurunkan kiai-kiai Sarang.
Putra ketiga dinamakan Kiai Singgopuro (Kiai Misbah) yang kelak menurunkan Kiai-Kiai Sidoarjo.
Selain dengan Mbah Syamsyiyah, Mbah Muhdlor juga menikah dengan perempuan lain. Sebab, tatkala itu Mbah Syamsyiyah tidak mau diajak hubungan suami istri karena masih tirakatan. Mbah Syamsyiyah lebih suka tirakatan dari pada memenuhi ajakan suaminya tadi. Dengan penuh hormat dan cintanya kepada Mbah Syamsyiyah, Mbah Muhdlor mempersilahkan istri tercintanya itu untuk bertaqarrab dengan ALLOH lewat tirakatannya tadi.

Pernikahan Mbah Muhdlor dengan istri keduanya ini, dikaruniai putri satu yang diberi nama Afiyah. Tujuan pemberian nama ini disebabkan agar anak tersebut selamat.
Afiyah ini dinikahkan dengan Yusuf, sosok pemuda yang tampan. Keturunan Yusuf dan Afiyah ini kemudian hari dipondokkan di pesantren Sarang. Keturunannya ini menyebar di beberapa tempat. Ada yang di Pati, Juwono dan Sarang.
Sejarah pesantren Sarang ini tidak bisa dilepaskan dari Mbah Muhdlor dan Mbah Syamsyiyah. Sebab, dari Riyadhohnya (tirakatannya) Mbah Syamsyiyah, ALLOH telah menjadikan pesantren Sarang ini menjadi berkah.

Mulanya berdirinya pesantren Sarang ini dipelopori oleh Mbah Ghazali bin Lanah (Suami dari Mbah Pinang binti Muhdlor) yang merupakan menantunya Mbah Syamsyiyah. Lambat laun pesantren Sarang ini ramai. Sebab, keturunan Mbah Ghazali bin Lanahlah yang meramaikan pesantren Sarang ini. Mbah Lanah dimakamkan di maqam sebelah barat belakang MGS.
Adapun Mbah Ghozali menjadi seorang yang alim, tidak bisa terlepas dari peran Mbah Saman bin yaman (keturunan dari Mbah Syarofuddin Serut, Maqom Mbah Syarofuddin
di desa Nderuju Ujungpangkah Sedayu Gresik) yang membiayai mondok, kemudian setelah pulang dari pondok mbah Saman mewakafkan tanahnya menjadi pondok (sekarang pondok MIS). Mbah Saman dimakamkan di pemakaman serut (Maqam MUS belakang MGS).


Keterangan dari Syaikh Maimoen Zubair.

Oleh: Kanthongumur