iklan

Jadi Oposisi Cerdas dan Berakhlak, Gus Dur Tak Pernah Mencaci Maki Rezim Orde Baru

Jadi Oposisi Cerdas dan Berakhlak, Gus Dur Tak Pernah Mencaci Maki Rezim Orde Baru

Subscribe Channel Youtube 'Muslimoderat'



Muslimoderat.net - Pada era 1980-an, ceramah agama kelompok anti Orde Baru, pada umumnya mengambil gaya menyerang dan mengolok-ngolok penguasa. Saya masih ingat para penceramah masa itu yang sering mengolok-olok penguasa atau elit politik di atas panggung. Tony Ardie, adalah di antara deretan penceramah yang gemar mengolok-olok Presiden Soeharto di setiap ceramah agamanya.

Kelas 1 SD saya sudah mengikuti ceramah Tony Ardie, alumnus FISIP UI, yang memilih jalan menjadi penceramah. Modal ceramah yang disampaikannya adalah materi NDP HMI yang diberi bumbu analisis politik ala 80-an. Tony Ardie tidak menyampaikan kajian tafsir al-Qur'an, hadits apalagi fikih. Yang disampaikannya adalah ketidaksukaan terhadap Soeharto sebagai biang kebobrokan bangsa dan negara. Untuk konteks saat itu, ceramah Tony Ardie memang mengundang animo umat untuk mendengarkannya.

Tony Ardie menjadi magnet perhatian umat untuk berani melantangkan suara melawan Rezim Orde Baru. Sanjungan kepadanya berdatangan, karena ia berani menyuarakan kecaman ketika borgol aparat dipersiapkan dan ujung pistol siap diletuskan.

Setiap Tony melempar celanya terhadap Soeharto, serempak gelak tawa jamaah terdengar. Meskipun mencela, namun kalimat celaannya terdengar berkelas. Tony tidak pernah melempar umpatan atau makian kasar di atas panggung. Labelnya sebagai mahasiswa UI agaknya membedakan Tony dari para penceramah lainnya yang senang menghantam Soeharto di panggung dakwah.

Selain Tony, ada pula nama Habib Idrus bin Alwi Jamalu al-Lail. Habib Idrus--dan juga sang ayah Habib Alwi, merupakan pionir penceramah dari kalangan habaib yang memilih genre cadas. Disebutkan bahwa Habib Alwi Jamalu al-Lail sudah tujuh kali keluar masuk penjara. Sedangkan Habib Idrus, sang putera baru enam kali keluar masuk penjara.

Berbeda dengan Tony Ardhie, Habib Idrus sering melempar makian kasar kepada Soeharto di panggung ceramah. Bahkan, menurut penuturan beberapa orang yang pernah menghadiri ceramahnya, Habib Idrus pernah melempar gelas ke arah hadirin yang tidak merespon ceramahnya.

Para da'i yang mengambil genre cadas dalam berdakwah ini acapkali memandang sebelah mata penceramah lain yang "tidak berani" melakukan kritik terhadap pemerintah. Ungkapan "ayam sayur" dan lembek sering mereka lempar untuk mendeskripsikan para penceramah yang tidak sejalan dengan mereka.

Gus Dur, merupakan salah satu yang sering dijadikan sasaran ejekan. Menurut para penceramah cadas itu, Gus Dur dianggap tidak punya keberanian melawan Soeharto dan Orde Baru. Gus Dur malah dituduh berkhianat kepada umat ketika diketahui menggandeng Jenderal. Moerdani.

Namun, ketika Gus Dur terbukti mampu mengimbangi hegemoni dan dominasi Soeharto, para da'i cadas itu terdiam dan seakan tidak tahu apa-apa. Mereka, mungkin tidak paham, bahwa sesungguhnya Gus Dur pun tengah melakukan perlawanan terhadap Rezim Orde baru. Tapi, perlawanan yang dilakukan Gus Dur itu, bukanlah perlawanan dengan bacot--menurut bahasa anak sekarang. Gus Dur menghadapi Soeharto dengan menggunakan politik Jawa yang dipahaminya. Maka, perang yang begitu hebat itu, nyaris tidak terlihat dikarenakan begitu halusnya pertarungan yang terjadi di antara dua "raja" Jawa itu.

Agaknya sulit bagi para da'i cadas itu untuk mengerti bagaimana high politic dimainkan. Bagi mereka, politik itu adalah membantai lawan in absentia di atas panggung. Karena bagi mereka, membantai secara in absentia sudah merupakan bagian dari jihad. Mereka barangkali lupa, bahwa Rasulullah tidak pernah mencontohkan aksi caracter assasination terhadap siapapun, walaupun terhadap orang yang begitu keras memusuhinya.

Stop dakwah cadas. Dakwah itu mengajak bukan mengejek. Jika tidak puas kepada pemerintah, sampaikan ketidakpuasan itu dengan cara konstitusional. Bukan dengan mengumpat dan mencela. Karena pengumpat dan pencela itu sudah pasti celaka.

Oleh: KH. Abdi Kurnia Djohan

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar

close
Banner iklan disini