Gus Muwafiq, Ulama Nasionalis Sejati

Gus Muwafiq, Ulama Nasionalis Sejati

Muslimoderat.net - Perawakannya yang besar, gondrong dengan suara lantang menggetarkan jiwa-jiwa yang gersang. Bukan ditakuti namun disegani oleh semua kalangan tak hanya kalangan muslim. Setiap petuahnya mampu merekatkan kembali semangat toleransi yang hampir tercabik-cabik oleh kelompok kecil yang menginginkan negeri ini hancur.

Setiap mendengar ceramahnya, tumbuh kembali jiwa nasionalisme yang hampir padam oleh gertakan kaum pemecah belah yang bersembunyi dibalik simbol agama. Nasehat-nasehatnya yang lugas, mudah dipahami oleh umat karena dakwahnya yang membumi, bukan melangit. Belajar Islam bersama Gus Muwafiq maka Islam dipahami sebagai agama yang mudah, sederhana, damai, toleran dan menjunjung tinggi nasionalisme.

Berbeda dengan kaum sebelah, Islam dipahami sebagai agama yang kaku, kasar, beringas, intoleran dan anti budaya. Hawanya hanya kafir, haram, syirik, bid'ah dan thaghut. Jurusnya hanya itu saja. Islam dipahami sebagai agama yang cupet, tidak ada bagian surga diluar kelompoknya. Surga hanya milik kelompok gue. Kata mereka.

Dibalik fisiknya yang gagah, ternyata Gus Muwafiq adalah sosok yang penuh dengan kelembutan. Tidak kereng metenteng atau ngamukan dimimbar sebagaimana kaum sebelah. Tak segan untuk senyum dan tertawa lepas menyapa umat yang mencintainya.

Kini, sifat kelembutannya kian nampak dengan sikap kesatrianya. Mengalah untuk menang. Mengaku salah walau belum tentu bersalah. Demi untuk menghormati mereka yang tersulut amarah, kebencian dan dendam. Demi untuk menjaga persatuan agar mereka senang. Walau permintaan maaf inipun tidak akan cukup menyenangkan untuk mereka yang terbakar kedengkian.

Gus Muwafiq telah mencontohkan kita sebuah teladan yang sangat luarbiasa yakni meminta maaf yang tak semua orang mampu melakukan. Inilah teladan yang sangat berharga dari seorang Gus Muwafiq. Tak semua orang saat berada diawang-awang, telanjur tersohor sebagai ulama kondang, terkenal nama harumnya mudah untuk meminta maaf. Betapa banyak mereka yang dianggap ahli agama, ribuan ayat dan hadits keluar dari lisannya saat terpeleset lidahnya enggan untuk meminta maaf bahkan semakin tinggi hati, arogansi dan merasa tidak ada ruang kesalahan untuk dirinya. Sangat menodai sifat kemanusiaan yang sebenarnya lumrah untuk berbuat salah.

Dari Gus Muwafiq, kita tak hanya belajar ilmu namun juga belajar adab. Adab menghormati leluhur, adab memuliakan pendiri NKRI, adab menghormati kelompok minoritas dan adab meminta maaf. Mengakui kesalahan dan minta maaf itu sulit apalagi jika sudah populer memiliki banyak pengikut. Namun tak demikian dengan Gus Muwafiq. Sikap kesatrinya bukan berarti memperkecil dirinya justru akan bertambah kemuliaan dihadapan Tuhan dan manusia. Umat akan semakin mencintainya. Mutiara yang asli bukan kaleng-kaleng.

Permintaan maaf telah disampaikan. Apakah ini akan memuaskan semua orang? Tentu tidak. Bagi hati yang terus diliputi rasa dendam dan kebencian, seribu kali maaf pun tiada guna. Sebelum mereka mampu mengoyak persatuan, menumbangkan NKRI atau terpenuhinya syahwat kekuasaan maka selamanya lidah dan jari mereka tidak akan pernah berhenti mencaci maki dan mengumbar fitnah.

Begitulah pengulangan sejarah. Sejak masa ulama pendiri NU hingga kini, ulama dan tokoh yang tidak dekat dengan kaum sebelah pasti akan dimusuhi dengan berbagai fitnah. Ulama yang anti sekte teroris wahabi dan sekte khawarij khilafah akan diserbu dengan berbagai cara. Cukuplah semisal Hadratussyeikh Mbah Hasyim, Mbah Wahab Hasbullah, Mbah wali Gus Dur, Habib Luthfi, Gus Mus, Kiai Ma'ruf Amin, Kiai Said dan tokoh-tokoh nasionalis sejati tak sepi dari umpatan dan kata-kata kotor dari mereka.

Tak terkecuali Gus Muwafiq, figur terdepan santri Gus Dur sebagai paku bumi dalam menyuarakan nasionalisme, toleransi dan cinta tradisi di negeri ini. Bersabarlah untuk menerima segala cacian dan hinaan dari mereka. Semoga istiqamah membimbing umat dengan welas asih. Warga Nahdliyin, bersiaplah untuk menangkis segala serangan bar-bar mereka. Semangat hubbul wathan minal iman yang diwariskan Mbah Hasyim hendaknya menjadi pegangan dalam menjaga NU dan NKRI. Insyallah NU dan NKRI akan tetap tegak berdiri selamanya walau mereka membencinya.

Penulis Suryono Zakka, Aswaja Sumsel

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar