iklan

Dihadapan Ulama Balikpapan, Habib Ali Al-Jufri Jelaskan Kebolehan Selamat Natal

Dihadapan Ulama Balikpapan, Habib Ali Al-Jufri Jelaskan Kebolehan Selamat Natal

Subscribe Channel Youtube 'Muslimoderat'



Muslimoderat - Dihadapan tokoh ulama, habaib dan umat Islam Balikpapan, Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri, ulama Ahlussunnah wal Jama’ah asal Uni Emirat Arab menjelaskan perihal mengucapkan selamat natal kepada umat Kristiani. Hal itu dipaparkan oleh da’i internasional tersebut setelah mendapatkan pertanyaan dari Pengasuh Pondok Pesantren Al-Islami Nurul Anwar KH. Muhammad Abdul Muhith pada sesi tanya jawab, didalam acara Seminar Agama yang digelar oleh Majelis Rasulullah SAW di Masjid Madinatul Iman Islamic Center Balikpapan, Kamis (5/12/2019) malam.

“Jadi masalah ini adalah masalah khilaf, ada yang mengatakan haram, dan ada yang mengatakan boleh. Barang siapa yang mau mengerjakan, silahkan, dan yang tidak, juga silahkan. Tetapi jangan sampai mengingkari keduanya, karena khilaf disini adalah khilaf yang mu’tabar”, tutur Habib Ali mengawali jawabannya terhadap pertanyaan Kiai Muhith.

“Didalam pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, ada tiga pendapat, ada yang mengatakn boleh, makruh dan haram. Ini dijelaskan didalam kitab Al-Inshaf”. Ulama mengatakan barangsiapa yang banyak ilmunya, maka dia akan sedikit pengingkarannya, karena setiap sesuatu yang mukhtalaf (diperselisihkan oleh ulama), tidak perlu diingkari”., lanjutnya.

“Klaim Ibnu Qayyim bahwa ulama bersepakat (ijma’) keharaman mengucapkan selamat kepada non-muslim, maka tertolak, buktinya tidak sesuai dengan yang dikatakan oleh Imam Al-Mardawi (dalam kitab Al-Inshaf) tadi”

“Adapun yang mengatakan haram mengucapkan selamat itu karena adanya syubhat disitu, mereka dikhawatirkan dengan mengucapkan selamat nantinya mengikuti atau iqrar (pengakuan) terhadap ajarannya. Dulu dizaman ulama mengharamkan itu, disaat orang mengucapkan selamat kepada non-muslim itu berarti iqrar kepada keyakinannya. Tetapi dizaman kita sekarang telah berubah, selamat hanya bermakna al-birr (berbuat kebajikan) bukan bermakna iqrar (pengakuan akan keyakinan mereka)”.

“Disini kami tegaskan, bila mau melakukan, silahkan, atau mengambil pendapat yang mengharamkan, silahkan. Saya juga tegaskan bahwa bukan berarti yang mengharamkan itu ekstrim, bukan pula berarti orang yang melakukan (mengucapkan selamat natal) itu tidak berpegang tegah kepada agamanya.”

“Nanti tanggal 25 desember, kalau punya tetangga umat Masehi (umat Kristiani), sampaikan selamat, ied mubarak (selamat hari raya). Kami yakin Nabi Isa ini adalah Rasulullah, dan kami yakin, agamaku adalah agamaku dan agamamu adalah agamamu. Mungkin ada yang mengatakan, ini salah sejarahnya, sebab kelahiran Nabi Isa itu dimusim kurma berbuah (itu musim panas, bukan dimusim salju / bulan desember). Engkau percaya bahwa Sayyidah Maryam itu melahirkan tanpa seorang suami, tetapi (kenapa) engkau tidak percaya bahwa kurma bisa berbuah dimusim dingin. Dzat yang sanggup membuat seorang melahirkan tanpa suami, Dia juga sanggap untuk membuat kurma berbuah dimusim dingin”.

Demikian dijelaskan oleh Habib Ali Al-Jufri secara panjang lebar. Hadir dalam kegiatan tersebut dari Pengasuh Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari KH. Jailani Mawardi, KH. Muhammadun, Pengasuh Pondok Pesantren Subulussalam Balikpapan KH. Muhammad Fadli, serta sejumlah tokoh habaib dan ulama lainnya yang jumlahnya sangat banyak.

Sesi tanya jawab dibuka setelah Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri memaparkan perihal makna Salam dan implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kesempatan yang diberikan tersebut, terdapat dua tokoh yang mengajukan pertanyaan, KH. M. Abdul Muhith dan da’i Balikpapan Ust. Ahmad Rosyidi, Em.S, S.Pd.I. Sementara satu remaja lagi tidak mengajukan pertanyaan, namun meminta dido’akan dan disampaikan salam kepada Rasulullah SAW kepada Habib Ali Al-Jufri. Permintaan remaja tersebut menggugah hati Habib Ali Al-Jufri.

Sumber: madinatuliman.com

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar

close
Banner iklan disini