Bersikap Adil Menyikapi Kontroversi Ceramah Gus Muwafiq

Bersikap Adil Menyikapi Kontroversi Ceramah Gus Muwafiq

Oleh: Kiai Hidayat Nur(fb)

MusliModerat.net - Belajar Dari Ketergelinciran Ceramah Gus Muwafiq (GM)

1. Saya pribadi tetap menganggap GM melakukan kesalahan yang cukup fatal. Bahkan saat pertama kali mendengar isi ceramahnya pun saya ikut geram. Tetapi di sisi lain saya yakin, tidak ada niatan dari yang bersangkutan merendahkan derajat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Termasuk ustadz fulan, fulan dan fulan yang mengatakan Rasulullah pernah sesat, Rasulullah belum dapat menegakkan rahmatan lil alamin sebelum hijrah, dan Rasulullah tidak adil dalam poligami. Saya yakin 100 % tidak ada niatan dari ustadz-ustadz tersebut merendahkan derajat dan martabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

2. Tugas kita semua adalah mengingatkan dan memberikan nasehat kepada siapapun yang bersalah, termasuk GM. Dan janganlah kemudian tugas mulia ini menjadi ajang pertikaian baru, caci maki, merendahkan dan memutus tali silaturrahim. Dan jangan pula, nasehat kita muncul karena dendam atau kebencian, karena yang demikian tentu bukan pahala yang didapat.

3. Kejadian yang membikin gempar jagat mendsos ini dapat sama-sama kita ambil hikmah dan pelajaran. Untuk GM pribadi, semoga kedepan lebih baik dan hati-hati dalam menyampaikan dakwah, memperbanyak bacaan dan referensi dan tidak gengsi meminta nasehat para ulama' dan habaib. Dan untuk kita semua, pelajaran yang dapat dipetik adalah hendaklah kita memperbanyak belajar dan memahami literasi ilmu agama sebelum menyampaikan ilmu dan dakwah kepada umat.

4. Tindakan membela membabi buta beliau bukan tindakan terpuji. Apalagi dicarikan beberapa alasan dan dalih yang seakan-akan ceramah beliau tidak salah dan tidak boleh disalahkan. Mencela berlebihan hingga keluar tuduhan murtad, munafiq dan kafir, juga tidak tepat, apalagi yang bersangkutan juga telah meminta maaf dengan lapang dada (lepas diterima atau tidak klarifikasi dan permintaan maaf GM). Ghuluw dalam takfir dan mengeluarkan seseorang dari Islam bukanlah sikap Ahlussunnah wal Jama'ah.

5. Yang dibutuhkan saat ini adalah ceramah-ceramah yang menyejukkan, mengajak kepada persatuan dan kasih sayang, mendorong tazkiyah nafsi, meneladani akhlak Rasulullah, mencintai ulama' pewaris Nabi, menjaga adab, memahami syariat dan menguatkan akidah. Hendaklah da'i-da'i milenial lebih fokus kepada hal-hal di atas. Kita sudah muak dengan ceramah yang provokatif, menghina, merendahkan, atau dakwah dengan kata-kata yang tidak bijak hanya karena beda pilihan politik.

6. Dari kejadian ini juga dapat dipetik pelajaran, betapa beratnya bersikap adil dan inshof. Tajam ke kubu lawan dan tumpul ke kubunya sendiri. Hanya orang-orang pilihan yang bisa bersikap adil dan inshof menyikapi setiap kejadian.

7. Secara pribadi, saya berharap masalah ini disudahi dan tidak digoreng terus. Kenapa? Karena selain yang bersangkutan sudah meminta maaf, mafsadah yang ditimbulkan jika dibahas terus menerus juga lebih besar yaitu gesekan sesama umat Islam. Jadi, mari sikapi dengan arif dan bijaksana.

Mohon maaf jika ada kesalahan.

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar