Tahun 1965, Habib Luthfi Sudah Menjadi Komandan Banser dan Jadi Macannya Bahtsul Masail

Tahun 1965, Habib Luthfi Sudah Menjadi Komandan Banser dan Jadi Macannya Bahtsul Masail

Muslimoderat - Semasa mondok di Giren Talang Tegal tahun 63-66 Abah Habib Luthfi Bin Yahya sering silaturrahim ke Jembayat Margasari, ke Kiai Ibrahim. Di tahun itu juga awal Habib Luthfi diperintah berdakwah ke Desa Dukuh Salam dan Jembayat oleh sang guru (Kiai Said bin Armiya), Habib Ali bin Muhammad al-Haddad dan Habib Husain BSA. Habib Luthfi pula yang turut menjaga Kiai Said dari incaran PKI.

Habib Luthfi menuturkan bahwa Mbah/Syaikh Qomaruddin adalah ulama yang membabat tanah Jembayat Margasari Tegal.

Haul pertama Kiai Armiya yang melaksanakan adalah Kiai Said. Habib Luthfi waktu itu yang biasa menemani Kiai Said ke Cikura. Bahkan Habib Luthfi yang menyembelihkan kambingnya langsung. Berangkat bersama sang guru mendaki pegunungan dengan naik kuda milik Haji Syafi'i.

Di Karangdawa Margasari Habib Luthfi sering diminta jadi badal (pengganti/utusan) Kiai Said untuk berdakwah atau keperluan lainnya. Abah Habib masih sangat hapal nama-nama orang yang pernah ditemuinya. Juga nama-nama dusun di Kelurahan Karangdawa ini.

Seperti biasa selalu menyesuaikan bahasa dan logat lawan bicaranya. Malam itu Abah Habib Luthfi terlihat senyum sumringah. Karena lawan bicaranya adalah kami dari Jatilaba dan Karangdawa Margasari, Abah Habib pun fasih memakai logat ngapak Margasari Tegal. Beliau bercerita banyak. Bernostalgia dengan masa lalu indahnya di Tegal.

Beliau tegas saat bicara NU. Di tahun 65 Habib Luthfi muda sudah menjadi komandannya Banser. Di tahun 69 sudah aktif di JATMAN dan masyhur jadi macannya Bahstul Masail beserta 4 kiai lainnya. Lima macan Bahstul Masail milik Banom NU JATMAN. Semuanya sudah wafat. Kini tinggal Habib Luthfi saja yang tersisa. Beliau berharap JATMAN sekarang banyak melahirkan macan-macan.

Usai bercerita panjang perjuangan berkhidmah di dalam Nahdlatul Ulama, beliau dengan mimik serius berpesan kepada semua tamu. Ada dari Jember, Jepara, Demak dan Tegal. Pesannya dengan bahasa Jawa Timuran. Yang artinya, "Saya kasihan sama orang suka mengkritik NU macam-macam. Sedangkan dia belum tahu perjuangan NU sejak dulu sebelum dan sesudah kemerdekaan begitu luar biasa besar untuk agama dan bangsa ini."

Orang luar negeri pernah heran dan bertanya, kenapa Indonesia masih tenang sedangkan di Timur Tengah dilanda konflik? Jawabannya satu, "Karena di Indonesia ada NU," jawab Habib Luthfi Bin Yahya.

Sumber: FP Ngaji Bareng Habib Luthfi Bin Yahya

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar