[Ngaji Gus Baha] Berdamai dengan Non Muslim itu Boleh Demi Kelangsungan Berbangsa dan Bernegara

[Ngaji Gus Baha] Berdamai dengan Non Muslim itu Boleh Demi Kelangsungan Berbangsa dan Bernegara

Muslimoderat.net - “Ahli surga itu kurang pekerjaan, karena salat sudah tidak wajib dan tidak ada pilpres,” tutur Gus Baha yang disambut gelak tawa jama’ah

Gus Baha menceritakan bahwa ahli surga itu juga nongkrong dengan ahli surga yang lain. Mereka menceritakan bahwa diantara mereka ketika hidup di dunia memiliki teman yang tak bertuhan dan menghina mereka, karena si ahli surga dulu pernah percaya kepada hari kebangkitan atau hari akhir

“Masak kita sudah jadi debu dan tulang belulang, kita akan dibalas atas amal-amal kita,” tutur Gus Baha'

Sebagaimana yang diceritakan Alqur’an dalam surat ash-Shoffat ayat 53,

أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ

"Apakah ketika kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?”

Dialog itu menurut Gus Baha dapat menjadi landasan bahwa kita orang muslim diperbolehkan untuk memiliki teman yang tidak bertuhan atau bahkan yang zalim

“Ini dapat menjadi catatan bahwa orang saleh itu boleh berteman dengan orang yang zalim, buktinya orang yang masuk surga, punya teman yang zalim ketika hidup di dunia,” lanjut Gus Baha

Penjelasan Gus Baha soal surat ash-Shoffat ayat 53 menujukkan fleksibilitas islam yang memperbolehkan orang muslim bergaul dgn siapa pun. Agama bukan menjadi faktor kita sebagai muslim untuk enggan berinteraksi dgn non muslim yang barangkali kita temui dalam keluarga, teman kerja, teman kuliah atau yang lainnya

Apalagi jika kita berteman dengan orang non muslim yang tak menyakiti kita, tentu islam sangat tidak melarangnya. Hal ini dapat menyanggah sebagian kelompok yang sangat anti untuk berteman dengan non muslim

Dalam ceramah lainnya, Gus Baha juga pernah menyampaikan bahwa ketika orang non muslim mau berdamai dengan orang muslim, maka orang muslim wajib berdamai. Beliau mencontohkan bahwa Rasulullah saw pernah berdamai dengan pembesar kafir quraisy yaitu Suhail Bin Amr ketika pernjanjian Hudaibiyyah

“Makanya ini menunjukkan bahwa musholahah (saling damai) dengan orang kafir itu boleh demi kelangsungan berbangsa dan bernegara” tutur beliau
.
🧾 @alif__id

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar