[Mbah Moen] Tidak Boleh Mencela Orang yang Punya Anak Sedikit, Anak Banyak Ataupun yang Tak Punya Anak

[Mbah Moen] Tidak Boleh Mencela Orang yang Punya Anak Sedikit, Anak Banyak Ataupun yang Tak Punya Anak

Muslimoderat.net -- Ada tamu bertandang ke ndalem seorang kyai, setelah mengucapkan salam dan berjabat tangan serta mencium tangan sang kyai, terjadilah perbincangan yang hangat diantara tamu dan tuan rumah yang tak lain adalah sang kyai itu sendiri.

Tuan rumah: Dari mana?.

Tamu: Dari Madura kyai.

Tuan rumah: Madura dimmah (mana)?.

Tamu: Bangkalan.

Tuan rumah: Saya ini orang bangkalan, walaupun lahir dan besar di jawa, tapi kakek nenek moyang ada yang dari bangkalan. Ada perlu apa?.

Tamu: Mau menitipkan anak mondok di sini.

Tuan rumah: Jangan titipkan kepada saya, titipkan kepada ALLOOH, mana anak yang mau mondok?.

Tamu: Ini kyai, anak saya yang ketiga.

Tuan rumah: Putra bapak berapa?.

Tamu: Tiga kyai.

Tuan rumah: Tiga itu sudah banyak. coba, putra nabi berapa?

Tamu: Tujuh kyai.

Tuan rumah: Iya tujuh, tapi ada tiga anak yang harus meninggal kecil, yang laki-laki: Qosim, Abdulloh dan Ibrohim. Jadi tujuh dikurangi tiga berapa?. Kan empat dan semua perempuan.

Tamu: Iya kyai.

Tuan rumah: Dari empat itu, yang tidak mempunyai keturunan ada dua yaitu Ruqoyyah dinikah oleh Sayyidina Ustman. Kemudian setelah Ruqoyyah meninggal, Nabi menikahkan Sayyiddina Ustman dengan adik Ruqoyyah yang bernama Ummu Kultsum. Ummu Kultsum pun meninggal tanpa keturunan. Nabi bersabda: Kalau aku masih mempunyai anak perempuan, niscaya aku nikahkan kembali dengan Ustman. Jadi anak Nabi tinggal berapa?.

Tamu: Tinggal dua kyai.

Tuan rumah: Dua ini yang mempunyai putra-putri. Yang pertama adalah Anak perempuan pertama Nabi, Zainab bersuami Abil ‘Ash bin Rabi saudara sepupunya. Abul Ash adalah putra bibinya yang bernama Halah binti Khuwailid, saudara kandung dari Khadijah. Dari pasangan suami istri ini terdapat seorang putri yang bernama Umamah, cucu perempuan Nabi.

Yang kedua adalah Sayyidah Fathimah, putri bungsu Nabi. Beliau bersuami Sayyidina Ali bin Abi Tholib. Dari pernikahan ini mereka berdua mempunyai putra-putra yang bernama: Hasan, Husain dan Muhsin yang meninggal kecil, dan mempunyai Putri-putri yang bernama Zainab dan Ummu Kultsum binti Sayyidina Ali.

Tamu: Iya kyai.

Tuan rumah: Dibilang bahwa anak Nabi tujuh, memang semuanya tujuh. Dikatakan bahwa anak Nabi ada tiga, memang putra laki-laki Beliau ada tiga. Disebut bahwa anak Nabi empat, memang putri Nabi ada empat. Dibilang bahwa anak Nabi dua, memang yang bisa mempunyai keturunan cuma dua. Karena itu tidak boleh kita mencemooh orang yang mempunyai anak sedikit, banyak anaknya atau yang tak mempunyai anak. Karena Putra-putri Nabi semuanya dari Sayyidah Khodijah, kecuali Ibrohim, Dari Ibu Mariyyah Al-Qibthiyyah. Sedangkan saat Nabi meninggal, Beliau meninggalkan sembilan istri.

Tamu: Iya, terima kasih, minta doa kyai.

Tusn rumah: Saya juga didoakan, cuma satu permintaan saya, apabila meninggal mendapatkan husnul khotimah.

Tamu: Insya ALLOH, minta pamit kyai.

Tuan rumah: Nanti dulu, cong iki durung ono ngombene, jajane diubengno.

Anak-anak Ndalem: Nggeh...

Begitulah kisah nyata yang terjadi pada tahun 2014. Dan tuan rumah itu sudah menghadap Tuhannya saat musim haji.

شيخنا ميمون زبير إنك على كل حال يعطينا درسا لا ينسى.
اللهم ارزق مشايخنا خصوصا السارانيين الصحة والعافية والسلامة من كل الآفات والبليات والفتن، واقض حوائجهم فيما هو رضاك يا رب العالمين، وآتهم آمال كل منهم التي أكبرها نيل حسن الختام، والفوز بالجنة دار الفضل والإنعام، بجاه نبينا محمد سيد الأنام، من العرب والعجم، صلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وصحبه ما دامت الليالي والأيام، وأنلنا محبة كل منهم وبركته حتى نلقى الله السلام في دار السلام. آمين يارب العالمين.

Dishare dari Ustadz Kanthongumur

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar