Jihad Banser yang Sering Dianggap Sepele Oleh Orang Lain

Jihad Banser yang Sering Dianggap Sepele Oleh Orang Lain

Muslimoderat.net - Kalau boleh dikata lelah, ya, mereka lelah. Sangat lelah. Untuk apa mereka mengorbankan waktunya yang berharga itu untuk ngepam di pengajian-pengajian yang bahkan mereka tidak mengharap diberi bayaran? Diberi sebatang rokok dan segelas kopi saja mereka sudah amat sangat bersyukur. Mereka hanya ingin satu: Ridho Kyai. Itu saja, cukup!

Menjadi Banser menurutku perkara yang tidak mudah dan termasuk dalam jihad yang mulia. Jihad tidak selalu berarti perang fisik melawan musuh (kafir yang membahayakan), jihad sejati ialah melawan hawa nafsu dalam diri untuk berbuat jahat dan dzalim. Ikhlas termasuk dalam cakupan syarat-syarat jihad. Menjadi Banser berarti sedang berjihad. Ya, berjihad melawan siapapun yang ingin merusak fitrah daripada agama, bangsa dan negara. Melawan pihak-pihak yang ingin menghancurkan NU dan NKRI. Sebagaimana slogan kebanggaannya: Bela agama, bangsa, negeri.

Bagi Banser, Kyai adalah sosok yang sangat dihormati, harus dijaga dan dilindungi. Siapapun yang mengancam sang Kyai, Banser ada di garda terdepan untuk membela dan mengamankan Kyainya dari serangan oknum-oknum pembenci yang selalu berusaha keras menyerang baik dengan fisik maupun dengan tulisan yang kebanyakan mengarah kepada fitnah dan adu domba.

Sebagai pengawal Kyai, NU dan NKRI yang konsisten dengan nilai pergerakan dan perjuangannya, hampir setiap saat mereka mendapat cemoohan dari pihak-pihak yang membenci keberadaannya. Saya salut dengan komitmen mereka, jika fitnahan itu mengarah pada diri mereka, mereka akan ikhlaskan dan berdoa yang terbaik untuk si-pemfitnah. Namun jika cacian, fitnahan dan olokan itu sudah tertuju pada lembaga, banom, NU, dan terutama kepada Kyainya, maka tidak ada kata lain selain: Lawan!

Sejak awal saya salut dengan Gus Yaqut, Ketua Umum PP GP Ansor sekaligus Panglima Tertinggi Banser. Dalam kepemimpinanya, Gus Yaqut menerima banyak kali tantangan dan rintangan yang harus dihadapi. Saya ambil salah satu contoh yang hingga detik ini masih teringat jelas di memori otak saya: tentang tragedi pembakaran bendera HTI. Saya tahu dan paham bagaimana perasaan Gus Yaqut yang kala itu diserang bertubi-tubi dari golongan pembenci, pemerintah, bahkan internal NU ada sebagian oknum yang menyerang Gus Yaqut. Beruntung Gus Yaqut memiliki pasukan yang solid, sehingga Gus Yaqut tidak berjuang sendirian.

Meski dilanda bejibun fitnah dan hinaan, Gus Yaqut mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menerima dan terus mendoakan yang terbaik untuk si pemfitnah, selain kemudian kita juga harus bertindak tegas jika fitnah itu sudah keterlaluan. Dalam sebuah komentar di salah satu tulisan saya, Gus Yaqut pernah bilang "Karena yang menghina kita, mencaci dan memuntahkan fitnah untuk kita, juga manusia. Mereka punya kesempatan untuk menjadi baik, sebagaimana punya pilihan untuk tetap berlaku buruk"
Dari kepemimpinan Gus Yaqut inilah, saya banyak belajar arti kesabaran, ketabahan, kesolidan serta ketegasan dalam bersikap. Semoga Gus Yaqut, Ansor dan Bansernya selalu dalam ridho, rahmat serta lindungan dan kasih sayang Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal 'Alamiin.

________________________
Gambar diatassaya dapat dari beranda Fb yang tidak paham dimana lokasi pengambilannya. Namun jika tidak keliru penilaian saya, citra yang ingin disampaikan oleh gambar cukup jelas: Menjadi Banser bukan berarti melupakan tugas utama memberikan nafkah kepada keluarga. Menjadi Banser adalah perkara mulia, namun memberikan nafkah kepada keluarga adalah perkara wajib yang tidak bisa digantikan dengan apapun.

Semoga Bapak yang berada dalam foto ini beserta keluarganya selalu sehat, selamat, dilancarkan serta dilapangkan rizki, dan selalu dalam lindungan serta kasih sayang Allah.
Jangan pernah malu bekerja apapun, dan jangan pernah malu menjadi Banser. Malulah ketika kalian tidak jadi apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa...

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar