Gus Reza Ajak Masyarakat Kembali ke Kitab Kuning Agar Tak Mudah Terpengaruh Hoax

Gus Reza Ajak Masyarakat Kembali ke Kitab Kuning Agar Tak Mudah Terpengaruh Hoax

Muslimoderat.net - Gus Reza Ahmad Zahid, Doktor muda dan Pengasuh Pesantren Al-Mahrusiyah, Lirboyo, Kota Kediri.

Dengan gaya ceramah yang luwes dan jenaka, Gus Reza menyampaikan banyak hal. Salah satunya adalah strategi jitu menangkal hoaks dengan cara-cara yang sudah diajarkan Islam.

Menurut Gus Reza, strategi yang bisa diketengahkan untuk menghadapi hoaks secara islami adalah dengan 3 T.

“Tabayun. Itu yang pertama,” ujar Gus Raza.

Ketika ada orang fasik yang membawa atau menyebarkan berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, kata Gus Reza, maka kita sudah diwajibkan oleh Allah untuk “fatabayyanu”. Yakni, melakukan klarifikasi guna mengecek dan memastikan benar-tidaknya.

“Jangan sampai ketika kita mendapatkan berita hoaks lalu menghukumi perkara dari berita tersebut. Fatabayyanu qobla an-tahkumu; tabayunlah kalian sebelum menghukumi segala perkara,” tegasnya.

Gus Reza nenyesalkan adanya kecenderungan masyarakat lebih percaya berita hoaks daripada dawuh para kiai. Ini yang membuat lunturnya budaya terhadap pentingnya menyandarkan setiap perkara pada Kitab Kuning.

Menurut pengasuh Pesantren Al-Mahrusiyah, Lirboyo, Kota Kediri tersebut, kecenderungan masyarakat untuk lebih percaya terhadap berita hoaks daripada dawuh para kiai, salah satunya karena dipicu oleh lunturnya budaya mereka dalam menyandarkan setiap persoalan pada kitab kuning. Sebab ajaran di kitab kuning jelas menganjurkan manusia untuk tidak berbohong, tidak mempercayai kabar bohong dan tabayyun terhadap kabar yang diragukan kebenarannya.

“Jangan pernah percaya pada berita yang nilainya tidak menyandarkan pada spirit kitab kuning,” tegas Gus Reza.

Kejayaan Islam, tambahnya, tidak terlepas dari budaya menyandarkan setiap persoalan pada kitab kuning. Bahkan Qonun Asasi Mbah Hasyim Asy’ari, kitab Risalah karya Mbah Hasyim, substansinya disandarkan pada kitab kuning. Beliau menetapkan bahwa Soekarno itu adalah waliyul amri bisy-syauka, sepenuhnya berdasarkan kitab kuning.

“Menetapkan Pancasila, menetapkan NU, sepenuhnya berdasarkan kitab kuning. Sekarang banyak keputusan yang ditetapkan tanpa memperhatikan nilai-nilai yang bersumber dari kitab kuning,” urainya.

Gus Reza menegaskan, kitab kuning adalah identitas Nahdlatul Ulama yang mesti dirawat dan dikembangkan menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan nahdliyin. Kendati demikian, ia menyayangkan bahwa masih terdapat pengurus NU yang belum paham kitab kuning, lebih mengedepankan kitab putih (buku) ketimbang kitab warisan ulama shaleh itu. Ini mesti dibenahi.

“Kembalikan segala sesuatunya pada kitab kuning. Rahasia NU bisa makin maju hingga kini karena semuanya berasal dari kitab kuning. Berpeganglah kalian pada kitab-kitab kuning karya ulama salaf,” urainya.

Selanjutnya, strategi yang kedua adalah Tasyawir. Setelah melakukan Tabayun terhadap berita hoaks yang tidak dipertanggungjawabkan, maka dilanjutkan dengan musyawarah.

“Apa maksudnya berita ini? Betulkah? Kita harus bagaimana menyikapinya? Keputusan dua orang lebih bagus daripada satu orang. Keputusan tiga orang lebih bagus dari dua orang. Begitu seterusnya,” tegas Gus Reza.

Strategi yang ketiga setelah Tabayun dan Tasyawir adalah Tawasow. Yakni, saling mengajak kepada kebaikan dan kesabaran.

“Apa yang kita lakukan mesti berdasarkan pada yang haq dan betul-betul berlandaskan kesabaran. 3 T harus kita lakukan dalam menghadapi berita hoaks: Tabayun, Tasyawir, dan Tawasow,” tukas Gus Reza.

Selain menjadi Pengasuh Ponok Al-mahrusiah Lirboyo, Beliau juga merupakan wakil Tanfidziyah PWNU Jawa Timur.

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar