Gus Baha’: Hizbut Tahrir Adalah Bukti Nyata Perpecahan Umat Islam

Gus Baha’: Hizbut Tahrir Adalah Bukti Nyata Perpecahan Umat Islam

Muslimoderat - Gus Baha’ adalah sebuah contoh seorang santri yang memiliki pemahaman keilmuan yang luas. Bahkan gurunya, KH. Maimun Zubair mengakui sendiri.

Nama panjangnya adalah KH. Ahmad Bahauddin Nursalim. Beliau merupakan putra KH. Nursalim Al-Hafizh, santri KH. Arwani Al-Hafizh Kudus dan KH. Abdullah Salam Al-Hafizh Pati, sekaligus pengasuh LP3IA.

Riwayat pendidikan Gus Baha’ tampak biasa-biasa saja. Beliau memulai pendidikannya dengan mempelajari al-Quran kepada ayahandanya sendiri. Di usia yang masih muda beliau mengkhatamkan hafalan al-Qur’an sekaligus qira’ah-nya dengan lisensi dari ayahnya.

Menginjak remaja KH. Nursalim menitipkan Gus Baha’ untuk mondok dan berkhidmat kepada KH. Maimoen Zubair. Yaitu di Pondok Pesantren Al-Anwar, Karangmangu, Sarang, Rembang. Di pesantren inilah kecerdasan beliau terlihat, terutama dalam kajian tafsir, hadis, dan fikih.

Di pesantren yang sama beliau juga mengkhatamkan hafalan Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in, sampai Sahih Muslim, lengkap dengan sanad dan matannya.

Karena kecerdasannya itu KH. Maimoen Zubair kerap mempercayakan tugas khusus kepada Gus Baha’. Beliau juga sering mengajaknya berbincang ringan, mencari ta’bir (dalil atau dasar argumen) untuk menjawab suatu masalah, sampai menemui tamu luar negeri.

Gus Baha’ pernah mengulas tentang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam pengajiannya. Menurut beliau organisasi apa pun sejatinya hanya bersifat musiman. Artinya, organisasi itu tidak akan berlangsung lama.

HTI adalah organisasi yang mempunyai misi menyatukan umat Islam. Sebuah cita-cita yang secara teori baik. Tapi yang perlu diingat, HTI bukan satu-satunya.

Sudah banyak organisasi yang berdiri dengan misi serupa. Termasuk di dalamnya Nahdhatul Ulama (NU), Muhammadiyah, atau Ikhwanul Muslimin di Mesir, dan Partai Bath di Iraq.

Dalam banyak kesempatan, organisasi-organisasi itu selalu menyuarakan persatuan umat Islam. Misalnya dengan menyitir ayat al-Qur’an, “wa’tashimu bihablillahi jami’a wala tafarraqu, dan berpegangteguhlah pada tali agama Allah dan janganlah berpecah-belah”.

HTI juga begitu.

Dengan menggunakan ayat yang sama mereka mengajak umat Islam bersatu dan tidak berpecah-belah. Lucunya, ajakan tersebut mereka sampaikan dengan mengatasnamakan organisasi. Sementara keberadaan organisasi itu sendiri adalah bukti adanya perpecahan di antara umat.

Dengan kata lain, pengikut HTI berkoar-koar mengajak umat Islam bersatu, padahal diri mereka sendiri adalah bukti perpecahan di antara umat Islam.

Menurut Gus Baha’, jika orang-orang HTI legowo, harusnya mereka tidak usah mendirikan organisasi. Tinggal bergabung saja dengan wadah yang sudah ada. Entah ikut NU atau Muhammadiyah. Sebab cita-citanya sama, yaitu menyatukan umat Islam.

“Dengan membuat organisasi sendiri, dengan nama sendiri, itu sudah menambah jumlah perpecahan,” terang Gus Baha’.

Gambarannya begini. Kalau yang ada hanya NU dan Muhammadiyah, perpecahan di kalangan umat Islam Indonesia hanya dua kelompok. Tapi dengan mendirikan HTI maka perpecahan itu menjadi tiga. Semakin banyak pecahnya maka semakin sulit bersatunya.[NUpinggiran.com]

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar