Tidak Pernah Meninggalkan Shalat 5 Waktu, Sopir Pribadi ini Diangkat Menjadi Waliyullah

Tidak Pernah Meninggalkan Shalat 5 Waktu, Sopir Pribadi ini Diangkat Menjadi Waliyullah

Muslimoderat.net -- “Tidak ada yang bisa mengetahui seorang Wali, kecuali (orang) tersebut juga seorang Wali.”

Begitulah Maqolah (perkataan) yang menerangkan tentang Wali.
Kita sering mendengar kataWali, lalu apakah Wali itu? Kata "Wali" dalam Bahasa Arab berarti yang menolong, yang dicintai, yang dilindungi. Dan dalam dunia sufi kata Wali tersebut diartikan orang yang suci, yang mempunyai akidah yang benar dan yang selalu menjalankan Amal Saleh serta selalu mengikuti Sunnah Rasulallah SAW. Dalam kitab Sirajul Tholibin dijelaskan:

ﻭﺍﻻﻭﻟﻴﺎﺀ ﺟﻤﻊ ﻭﻟﻲ : ﻭﻫﻮﺍﻟﻌﺎﺭﻑ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺻﻔﺎﺕ ﺣﺴﺒﻤﺎﻳﻤﻜﻦ ﺍﻟﻤﻮﺍﻇﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻄﻌﺎﺕ ﺍﻟﻤﺠﺘﻨﺐ ﺍﻟﻤﻌﺎﺻﻲ ﻭﺍﻟﻤﻌﺮﺽ ﻋﻦ ﺍﻻﻧﻬﻤﺎﻙ ﻓﻲ ﺍﺍﻟﻠﺬﺍﺕ ﻭﺍﻟﺘﺸﻬﻮﺍﺕ

"Auliya' itu adalah kata Jama' dari Wali, Wali adalah orang yang betul-betul mengenal Allah SWT, selalu tetap taat kepada Allah, menjauhi semua larangan dan berpaling dari keasyikan Ladzat (Duniawi) dan Syahwat (nafsu duniawi)."

Tidak semua Wali itu berasal dari seorang “Kyai”. Tapi kebanyakan seorang kyai yang semakin berisi (Ilmu-nya) dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta selalu meningkatkan Akhlaqnya, suatu saat pasti akan diangkat menjadi kekasih-Nya. Sebut saja K.H. Mukhsin, yang sebelum menjadi seorang pengasuh sebuah PonPes yang Santrinya ratusan, bahkan sampai ribuan, adalah seorang Sopir pribadi seorang Juragan di tempatnya bekerja. Berikut sepercik kisahnya.
K.H. Mukhsin saat ini adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Maqbul yang terletak di daerah Bululawang, Kabupaten Malang. Namun sebelum ke-Waliannya “mengudara”, beliau adalah seorang Sopir salah satu juragan di daerah Bululawang. Waktu itu tidak ada yang tahu bahwasannya beliau adalah salah satu “orang-orang pilihan”.
Suatu hari sang majikan minta diantar ke Pasuruan, ke kediaman salah satu kyai yang terkenal akan tingkah lakunya (Akhlaq) nya. Dengan berpakaian ala Sopir pada umumnya, dia pun melaju dengan kecepatan yang sedang, sambil meliuk-liuk di jalanan yang tidak begitu padat. Setelah menempuk pejalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mobil yang di kendarai sang Sopir saleh tiba dihalaman Pesantren yang diasuh oleh Kyai Hamid bin Abdullah bin Umar.

Setelah memarkir mobil, sang Sopir melihat sepertinya di “tolak” oleh Kyai berkelahiran Lasemm Jawa Tengah itu. Namun tak lama kemudian sang majikan menghampiri Sopir kesayangannya tersebut. “Kyai Hamid tidak mau menerima kedatanganku, kalau kamu tidak ikut masuk” sang majikan berkata kepada Sopir yang sedang menunggunya di dalam Mobil. Sang Sopir keheranan, “kenapa kyai itu tidak mau menerima majikanku, kalau aku tidak ikut ke dalam?” penasarannya dalam hati.
Setelah sang Sopir masuk ke Ndalem Kyai Hamid bersama majikannya, kyai Hamid menyambutnya dengan hangat. Di tengah perbincangan, kyai Hamid bertanya kepada sang Sopir amalan-amalan apa yang di jalaninya selama ini. Dia menjawab, bahwa amalan-amalan yang dijalaninya selama ini adalah amalan yang umumnya dijalankan para Masyarakat, yang sama sepertinya.

“Tadi kenapa Kyai (sapaan Kyai Hamid) menolak kedatangan saya, ketika saya masuk sendirian ke kediaman anda? Dan anda bilang tidak akan menerima kedatangan saya apabila tidak mengajaknya (Sopir) juga?” tanya sang majikan, karena masih terselinap rasa penasaran yang amat di hatinya tentang kelebihan sang Sopir pribadinya tersebut.
“Arek iki bakale dadi wali, lan duwe pondok seng gede. Aku mero tanda-tandane. Makane iku aku nolak koen polae waline gak di ajak melbu” (Anak (karena sang sope lebih muda dari Kyai Hamid ini bakal menjadi seorang walik, dan juga akan mempunyai Pesantren yang besar. Maka dari itu aku menolak kamu Karena “Wali”nya (sopir) tidak kamu ajak masuk. kyai Hamid memaparkan alasannnya mengenai penolakan sang tamu, dengan sedikit guyonan. Sang sopir pun tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya karena malu mendengar alasan Kyai Hamid tentang dirinya. Padahal dia sendiri tidak mengetahui akan hal itu. Dan sang majikan kaget bukan kepalang mendengar pernyataan kyai Hamid tentang sopir pribadinya tersebut.

Mulai saat itu pun ke-walian K.H. Mukhsin mulai terdengar penjuru kota. satu persatu para orang tua mengirim anaknya kepada beliau untuk belajar. Semula hanya lima murid dan bertempat di Mushollah dekat rumah majikannya. Karena lambat laun santri beliau tambah banyak, yang datang bukan hanya dari dalam kotam dari luar kota pun banyak yang datang mengirimkan anak-anaknya untuk belajar kepada beliau.

Lalu berdirilah Pesantren tersebut. Setahun kemudian santrinya mencapai 100. dan lambat laun terus bertambah jumlahnya. Lalu beliau semakin memperbesar Pesantren tersebut. Dan hingga kini jumlah santri yang me-nyantri di pesantren kurang lebih sepuluh ribuan anak. Subhanalah itu bukan bilangan yang sedikit. Semoga semua santri yang belajar di PonPes Al-Maqbul selalu dalam kasih sayang Allah SAW.

Bermula dari seorang sopir yang senantiasa takut kepada-Nya di manapun. Tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu. Dan sunnah-sunnah Rasul SAW yang lain. Semoga kita senantiasa bisa meniru amal ibadah beliau. Aamiinn yaa robbal aalamiinn[ad/mm]

--
Sumber: FP Cerita Nyata Para Wali , Al Ba'alawi & Ulama

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar