Tidak ada Pada Masa Rasulullah, ini Asal-usul Menara Masjid

Tidak ada Pada Masa Rasulullah, ini Asal-usul Menara Masjid

Memahami Rasulullah tidak mudah. Bagaimana seorang panglima perang seperti Sayyidina Umar bisa patuh sama orang yang tidak pernah berkelahi. Bagaimana Sayyidina Abu Bakar seorang konglomerat mau menuntun unta Rasulullah. Bagaimana seorang gadis sepuluh tahun bisa bergembira menikah dengan orang umur 50 tahun. Ceritanya bisa kita tau, tapi suasana psikologisnya nggak pernah kita tangkap.

Inilah makanya Islam berkembang. Kemudian Islam bergeser. Ini bagus, geser. Kemana? Geser ke Persia pertama.

Dari Madinah geser ke Persia. Di Persia masyarakatnya penyembah api. Kemudian masuk Islam. Raja Rustum besanan dengan Sayyidina Ali lahir Sayyid Zainal Abidin. Orang majusi kalau nyembah api ditaruh di bangunan tinggi. Namanya manaroh.  Apinya ditaruh di atas manaroh. Maka begitu orang Persia masuk Islam, apinya dibuang. Manoroh-nya ditaruh di depan masjid. Seluruh umat Islam melihat manoroh kok bagus di depan masjid. Kemudian orang Islam berlomba-lomba membikin manaroh. Sampai Jakarta bernama menara. Tiangnya tinggalan orang majusi.

Di Persia kemudian terjadi suatu peristiwa yang cukup menghebohkan. Pada tanggal sepuluh asyuro, seluruh cucu Rasulullah terbunuh oleh Yazid bin Mu’awiyah. Maka Bulan asyuro adalah bulan duka kaum muslimin di dunia. Makanya, orang Indonesia terutama di kampungnya bapak presiden menyebut bulan asyuro dengan sebutan syuro. Ekornya aja yang diambil. Jawa itu suka ngambil ekornya saja.

Muhammad diambil Mad. Asyuro diambil syuro. Karena bulan asyuro adalah hari bulan duka maka orang Jawa tidak mantu (menikahkan anak-red), karena bulan itu bulan duka. Di Jogja ada yang namanya keliling beteng. Maksudnya di bulan syuro jangan terlalu banyak mulut. Di Solo mengikuti Kebo Kyai Selamet. Kalau kebo-nya keluar, tainya diusapkan ke seluruh tubuh. Ini bulan duka, makanya jangan bersolek. Biasanya bulan asyuro di Indonesia diikuti dengan santunan anak yatim. Dari situlah mulai bergerak.

Makanya monumen-monumen itu lahir Sayyid Ali Zainal Abidin, punya anak Sayyid Muhammad Baqir. Menjauh punya anak Sayyid Ja’far Shodik, diteruskan Sayyid Ali Uraidi. Menjauh diteruskan sama namanya Sayyid Muhammad. Diteruskan Sayyid Ubaidillah. Diteruskan Sayyid Isa Annakib. Diteruskan Sayyid Ahmad Al-Muhajir. Diteruskan Sayyid Alwi. Diteruskan Sayyid Muhammad. Diteruskan Ali Kholiq Kosam. Diteruskan putra Sayyid Ali Sahir Mirbak. Diteruskan Sayyid Alawi Faqih. Punya anak namanya Abdul Malik, sampai Mongolia punya anak Sayyid Jalaluddin. Sampai Campa punya anak Sayyid Muhammad sampe pasik dan punya anak Sayyid Jamaluddin Khusaini.

Sampai tanah Nusantara pedalaman yang kemudian turunnya di Jawa bernama Sayyid Jamaluddin al-Khusaini al-Kabir. Orang Jawa punya honocoroko. Di Jawa dikenal dengan nama Syekh Jumadil Kubro. Di situlah kemudian Islam bertemu dengan kebudayaan peradaban Nusantara. Inilah yang kemudian menjadi tonggak. Ternyata dari Makkah ke sini. Geser ke sini dan kemudian kita diingatkan bahwa Syekh Jumadil Kubro punya anak yang namanya Sayyid Ibrahim. Pindah Palang Tuban punya anak namanya Raden Rahmad Sunan Ampel.

Orang-orang itulah yang kemudian membangun peradaban baru di Nusantara. Syekh Jumadil Kubro punya murid namanya Samsuddin, pindah ke Jawa Barat dikenal dengan nama Syekh Kuro. Punya murid namanya Datuk Kafi, pindah ke Cirebon punya murid namanya Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Nah inilah baru kemudian kita menemukan sampai sini.

Pertanyaan-pertanyaan besar inilah yang akhirnya menjadi penjelasan. Lantas bagaimana kita mengikuti Rasulullah di tempat yang jauh. Ini Rasulullah memberikan garis namanya ahlussunnah wal jamaah.

*Disarikan dari ngaji Gus Muwafiq dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara, Bogor, pada Rabu 21 November 2018. via bangkitmedia.com

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar