Sosok Hery, Banser Banten yang Jalan Kaki Temui Habib Luthfi di Pekalongan

Sosok Hery, Banser Banten yang Jalan Kaki Temui Habib Luthfi di Pekalongan

Ahmad Husaeri biasa disapa Hery sedang memenuhi nazarnya untuk menemui Habib Luthfi bin Yahya di Pekalongan, Jawa Tengah. Nazar itu ia lakukan dengan jalan kaki dari kediamannya di Kampung Curugbarang, Desa/Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Pria kelahiran Serang, 1 Agustus 1999 itu memenuhi nazarnya setelah menghafal lima kitab ilmu alat di sebuah pondok pesantren di mana saat ini ia sedang menimba ilmu agama, Pesantren Uswatun Hasanah, Cadasari, Kabupaten Serang, Pimpinan Kiai Wahyu. Lima kitab tersebut adalah Kitab 'Awamil, Amtsilatut Tashrifiyah, Matan Bina, Al-Jurumiyah, dan Nadzom Imrithy.

Kepada NU Online dirinya menceritakan ihwal memenuhi nazarnya untuk sowan ke Habib Luthfi di Pekalongan dengan berjalan kaki. Salah satu faktor yang melatarbelakanginya saat dirinya mengikuti kaderisasi di GP Ansor dengan mengikuti Pendidikan dan Latihan Terpadu Dasar (DTD) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Cilegon medio 2018 yang lalu.

"Tak tahu kenapa saat itu saya ingin sekali bertemu dengan Abah (Habib Lutfhfi) yang merupakan 'Panglima Tertinggi Banser'. Untuk itulah saya termotivasi jika sudah berhasil menghafal lima kitab itu saya ingin sowan ke Abah dengan jalan kaki ini," ujar Hery ditemui disela-sela PKD Ansor Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Ahad (29/9).

Dirinya juga menegaskan bahwa apa yang dilakukannya tersebut murni dari hati nuraninya dan tak ada celah sedikitpun untuk gaya gayaan apalagi mencari sensasi.

"Termasuk saat saya dikawal oleh Sahabat Banser dari daerah-daerah yang saya lalui. Saya sendiri ga tahu kok tiba-tiba Banser sudah banyak yang tahu sehingga tak sedikit yang ngawal di perjalanan," jelas putra kedua pasangan Ustadz Asep Saefudin dan Umi Ratu Mu'izah tersebut.

Kendati demikian, dirinya merasa terharu dan bangga saat ada yang menyambut secara estafet dari anggota Banser di wilayah yang dilaluinya.

"Sedih, terharu. Pokoknya sulit diungkapkan. Yang jelas, saya ucapkan beribu-ribu terima kasih dan minta maaf sudah merepotkan," tandasnya.

Dalam perjalanan dari Banten menuju Pekalongan, ia tak sendirian. Ia ditemani oleh sahabatnya, Jamiyin yang masih satu kampung dengannya. Ia merupakan orang kepercayaan orang tua Hery untuk mendampinginya memenuhi nazar jalan kaki menuju Pekalongan.

"Ikhlas lillahi ta'ala, apa pun yang terjadi saya akan dampingi Kang Hery sampai ke tujuan," ujar Jami.

Kerap Mendapat Intimidasi di Jalan

Pada tanggal 16 September 2019, Hery memulai perjalanan jalan kaki menuju Pekalongan untuk memenuhi nazarnya bertemu Habib Luthfi Bin Yahya. Keberangkatan ini lebih cepat daripada rencana sebelumnya yaitu10 Oktober 2019 sebagai momentum menyambut Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada 22 Oktober.Namun, tiba-tiba pikiran berubah seketika sehingga dimajukan menjadi 16 September 2019.

Saat memulai perjalanan dari Kampung Curugbarang, Desa/Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, Provinsi Banten hingga beberapa hari tiba di Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi memang masih jarang yang tahu, sehingga tak ada pengawalan dari Banser lainnya.

Dirinya juga menceritakan bahwa ia kerap mendapatkan intimidasi verbal dari orang lain saat diperjalanan khususnya di wilayah Jakarta menuju Bekasi. Baik dengan perkataan nyinyir hingga menggerung-gerungkan kendaraan bermotor.

"Untuk intimidasi fisik memang tak ada. Tapi jika memang ada juga saya sudah siap semuanya," ujarnya.[NU Online]

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar