Perselisihan Keagamaan di Indonesia Membutuhkan Intelektual Pesantren

Perselisihan Keagamaan di Indonesia Membutuhkan Intelektual Pesantren

Muslimoderat.net -- Tadi malam, melalui YouTube, saya nonton perdebatan Gus Irwan Masduqi dan Ustadz HTI di Banjar kemarin. Keren! Andaikan perselisihan keagamaan diselesaikan dengan cara intelektual seperti itu, dunia ini pasti damai sentosa.

Setelah nonton itu, saya juga nonton video-video Gus Baha' terbaru, termasuk acara yang di PWNU Jawa Timur dan Lirboyo. Di situ Gus Baha' didampingi Gus Reza dan gawagis lainnya. Lagi-lagi keren, masalah-masalah keagamaan yang pelik dijelaskan secara mudah dan lucu, tanpa kehilangan bobot ilmiahnya.

Tapi yang begini-begini ini memang khas intelektual pesantren NU Jawa. Di tempat kelahiran saya di Priangan, rasanya agak jarang kita menemukan figur-figur seperti mereka. Makanya ketika ketemu Gus Rozin beberapa waktu lalu, saya menyarankan Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU bikin kegiatan pertukaran santri antar-wilayah, sehinga santri-santri di Priangan, misalnya, bisa magang di Lirboyo atau Sarang atau di tempat lannya.

Jadi, perkara HTI atau radikalisme umumnya itu pertama-tama adalah masalah perselisihan keagamaan yang seharusnya diselesaikan secara intelektual. Dan, harus diakui, itu adalah wilayahnya para intelektual pesantren NU, bukan tentara (cc Presiden Joko Widodo). Para dosen perguruan tinggi Islam pun, seperti UIN, masih terlihat tanggung atau bahkan enggan untuk masuk secara total ke dalam wilayah ini.

Hal-hal seperti ini kadang kurang dipahami oleh kalangan di luar NU. Dikiranya orang NU itu politis melulu. Padahal sejatinya politik itu hanyalah sarana. Tujuan pokoknya adalah bagaimana mempertahankan tradisi keagamaan yang sedemikian kaya, yang ditransmisikan melalui sanad keilmuan yang terpercaya, guna mencapai kebahagiaan di dunia dan akherat.

Ini penting saya utarakan!

---
Penulis: Amin Mudzakkir

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar