Gus Baha: Lelaki Sejati itu yang Tidak Takut Tidak Punya Uang

Gus Baha: Lelaki Sejati itu yang Tidak Takut Tidak Punya Uang

Seorang kawan alumni memberi kabar pada saya bahwa dia akan sowan ke kediaman Gus Baha — sosok yang namanya sudah saya dengar cukup lama, tapi belum sekalipun saya menjumpainya — di kediamannya, di Rembang.

Saya sempat bertanya, terkait apa yang akan dia lakukan saat sowan ke Rembang. Dia menjawab, ada ngaji Tafsir Jalalain yang diampu langsung Gus Baha. Dia mengikutinya. Sekaligus ingin mengajak saya, kalau mau. Saya pun mengiyakan.

Kami berangkat bersama menuju Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Rembang— kediaman sekaligus lokasi Gus Baha menggelar kajian tafsir yang akan kami ikuti. Di perjalanan, pikiran saya terlempar ke berbagai macam hal tentang Gus Baha.

Nama Gus Baha sering saya dengar beberapa tahun lalu. Terutama saat Gus Baha, waktu itu punya rutinan ngaji di beberapa tempat di Bojonegoro. Meski, tentu saja, tidak mudah bagi saya untuk berjumpa.

Seperti penuturan sejumlah kawan, Gus Baha adalah sosok yang tak mudah ditemui. Sang Gus tidak pernah mau ada pengumuman atau poster apapun jika ada pengajian yang menghadirkan dirinya.

Gus Baha adalah satu diantara beberapa sosok kiai yang menjauhi popularitas. Bahkan, kerap mengkritik orang-orang yang mencari popularitas dan uang dari berjualan agama. Sangat sulit mencari sosok seperti Gus Baha di era seperti saat ini.

Sebagai mufassir dengan kemampuan di atas rata-rata orang seusianya, sangat mudah bagi Gus Baha untuk menjadi orang terkenal. Namun justru, Gus Baha sangat menjauhi itu — dan kerap mengkritik mereka yang mencari hidup dari jualan agama.

Nama Gus Baha kian santer terdengar ketika sejumlah tokoh populis sering menyebut-nyebut namanya. Ustad Adi Hidayat dan Puthut EA sering sekali menyebut namanya. Bahkan, mereka berdua, konon, mendaulat Gus Baha sebagai sosok guru.

Pada sebuah kesempatan lain, bahkan Prof. Quraisy Syihab pernah berkata, “Sulit ditemukan orang yang sangat memahami dan hafal detail-detail Al-Qur’an hingga detail-detail fiqh yang tersirat dalam ayat-ayat Al-Qur’an seperti Pak Baha.”

Sejumlah penyebutan dan pengakuan itu kian membikin nama Gus Baha jadi perbincangan. Baik di medsos maupun di dunia nyata. Terutama di salah satu lingkaran pertemanan saya yang cukup kental membahas geliat tokoh keagamaan.

Seorang kawan, bahkan mengatakan pada saya bahwa Gus Baha adalah sosok Wali. Uniknya, itu dikatakan seorang kawan yang bukan sosok tradisionalis, melainkan teramat ultra modernis.

Menjelang duhur yang sejuk, kami sampai di Narukan, Kragan, Rembang. Turun dari kendaraan, saya sempat ke belakang dan mengisap sebatang kretek. Sambil mengamati berbagai pemandangan di sekitar.

Sejumlah orang bersarung dan berpeci hitam terlihat mondar-mandir di lingkungan tersebut. Mereka datang dari berbagai kota. Tuban dan Bojonegoro adalah dua diantaranya. Kebanyakan, Gus pondok hingga pengasuh pesantren.

Sambil membawa kitab tebal Tafsir Jalalain, mereka memasuki surau dengan penuh gesa. Dari belakang, saya pun mengikutinya. Memasuki sebuah ruang di mana banyak orang sudah duduk sambil menunggu kedatangan sang guru.

Cukup lama orang-orang di dalam ruangan tersebut bercengkrama sambil menanti. Suasana tiba-tiba hening ketika sosok berbaju putih duduk di depan meja yang sudah disiapkan. Perangainya tenang dan fokus.

Beliaulah KH. Bahauddin Nursalim. Belum tampak tua. Bahkan terlihat sangat muda.

Saya yang kebetulan mengambil tempat duduk di sebelah kiri meja — hanya dua baris dari meja Gus Baha — memiliki view yang cukup jelas untuk melihat sosoknya dari arah samping. Beberapa santri meletakkan ponsel di depan Gus Baha untuk merekam apa yang beliau jelaskan hari itu.

Saya baru sadar, alasan kenapa video Gus Baha sangat sulit ditemukan di kanal YouTube. Kalaupun ada, pasti hanya berbentuk suara dan sebuah foto yang diam. Mayoritas santri yang datang memilih merekam suara daripada video.

Sesaat setelah duduk, tanpa banyak basa-basi, Gus Baha langsung membuka kitab dan memulai penjelasan, tanpa menatap ke sekitar. Semacam Kekhasan Gus Baha saat mengaji.

Selain membahas apa yang tersurat dalam kitab, Gus Baha sangat sering mengirim pesan-pesan tersirat pada para santri. Baik yang berkaitan langsung pada bab di kitab atau bahkan yang tidak berkaitan secara langsung.

“Lanang tenan iku gak wedi gak ndue duwit,” kalimat itu tiba-tiba membombardir dinding musala, lalu disusul gelak tawa.

Seorang lelaki, kata Gus Baha, harus menjadi petarung. Bukan petarung dalam hal fisik. Melainkan dalam hal keberanian. Hidup harus berani. Harus ada unsur berjuang. Setidaknya berjuang melawan rasa takut tidak punya uang. Toh setiap manusia sudah ditanggung rezekinya oleh tuhan.

Saya tidak tahu apakah kalimat yang keluar dari Gus Baha itu ada pada pembahasan kitab atau tidak. Tapi, banyak yang meyakini, pesan-pesan itu sering beliau munculkan begitu saja. Di tengah sesi pembacaan kitab.

Peserta ngaji memang semuanya laki-laki. Dan kepemilikan uang, kerap menjadi masalah bagi seorang lelaki. Terlebih jika sudah berumah tangga. Mungkin Gus Baha tahu. Karena itu, ia menyampaikannya secara tegas.

Semua santri yang datang, tentu punya masalah perihal uang. Dan uang, sejak dulu hingga sekarang, selalu menjadi momok yang mencemaskan bagi setiap orang. Dan itu harus dilawan dengan keberanian. Tentu saja, keberanian untuk hidup.

“Lelaki harus punya mental petarung,” imbuhnya, yang sekaligus seperti menampar-nampar hati.

Lelaki harus punya mental petarung adalah kalimat yang benar-benar menghentak dalam dada saya. Semacam menusuk dan ingin terpatri dalam hati. Laki-laki adalah pejuang. Bukan penakut. Petarung: setidaknya bertarung melawan ketakutan.

Sebab hidup, sudah ada garis takdir. Sehingga sebenarnya, yang dibutuhkan hanya berani berjuang dan memperjuangkan saja. Apapun hasilnya, bukan lagi urusan manusia.

Unsur kata berjuang dan berani itu, tentu penafsirannya sangat luas. Berani berjuang demi pendidikan, berani berjuang demi keluarga, hingga berani berjuang demi cinta, adalah beberapa di antaranya. Iya, Lelaki harus berani berjuang. (Wahyu Rizkiawan/suluk.id)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar