Akun Garis Lucu Sampaikan Pesan Agama dengan ‘Santuy'

Akun Garis Lucu Sampaikan Pesan Agama dengan ‘Santuy'

Media sosial menjadi wadah perang wacana keagamaan, dari yang radikalis, salafi, hingga moderat. Masing-masing berupaya merebut pengaruh paling besar agar ajaran yang disampaikannya dapat diterima dan menjadi dominan di tengah wacana keberagamaan.

Di tengah kebekuan dan kekakuan adu wacana itu, hadir akun-akun garis lucu memutusnya. Mereka menghadirkan wacana keberagamaan baru dengan narasi minim dengan kekuatan pada kelucuannya. NU Garis Lucu menjadi pelopor lahirnya akun-akun garis lucu lainnya.

"Menyampaikan pesan-pesan keagamaan dengan santuy (santai)," kata Dawam Multazamy, pengajar di Institut Sunan Giri Ponorogo, Jawa Timur, saat menjadi panelis pada Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2019 di Hotel Mercure Batavia, Jakarta, Kamis (3/10).

Lebih lanjut, Dawam mengungkapkan bahwa NU Garis Lucu hadir dalam rangka menampilkan kelucuan a la KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur guna mencairkan suasana media sosial dan komunikasi yang kurang baik antarsesama Muslim atau dengan masyarakat pemeluk agama lainnya.

"Admin NU Garis Lucu ingin menampilkan kelucuan a la Gus Dur di tengah kebekuan komunikasi antar-Muslim atau dengan agama lainnya," kata Dawam dalam konferensi bertema Digital Islam, Education, and Youth: Changing Landscape of Indonesian Islam.

Pasalnya, imbuh Dawam, Gus Dur menjadi patron bagi kelucuan akun tersebut mengingat sosok ulama tersebut dikenal sangat humoris dan memiliki banyak cerita humor. "Memang untuk menyemarakkan kehidupan beragama cara Gus Dur, karena Gus Dur menjadi patron utama dari NU Garis Lucu," kata pria yang menamatkan studi magisternya di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta itu.

Narasi yang sarat akan humor inilah, menurutnya, yang mudah diterima oleh semua kalangan. "Masyarakat lebih mudah menerima humor, komedi. Dalam konteks agama juga bisa diterima," katanya.

Kehadiran akun NU Garis Lucu ini melahirkan akun-akun garis lucu lainnya, seperti Muhammadiyin Garis Lucu, Gontor Garis Lucu, LDII Garis Lucu, hingga HTI Garis Lucu. Akun terakhir ini, jelasnya, tidak mendukung khilafah, melainkan justru mengkritisi gagasan tersebut dengan cara yang lucu. Bahkan ada pula akun Katolik Garis Lucu, Protestan Garis Lucu, dan sebagainya.

"Awalnya hanya NU Garis Lucu, ternyata tereplikasi oleh akun-akun yang lain yang berasal dari organisasi lain," ujarnya.

Akun-akun garis lucu ini, lanjutnya, saling berkorespondensi satu sama lain. Artinya, mereka saling sahut menyahut dalam suatu persoalan dengan kelucuannya.

Selain Dawam, diskusi panel itu juga menghadirkan dua pengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, yakni Ahmad Suaedy dan Hamdani. Hadir pula pengajar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Eva Leiliyanti.[NU Online]

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar