Rahasia Kecerdasan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari

Rahasia Kecerdasan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari

Gelar Hadratusyeikh yang disandang oleh KH. Hasyim Asyari bukanlah sembarang gelar. Untuk mendapatkan gelar yang artinya Mahaguru tersebut,seseorang harus hafal Kutubusittah dan menguasai ilmu Rijalul Hadits. Di Indonesia ini waktu itu hanya ada dua orang, yaitu Kiai Hasyim Asyari dan Syaikhoh Fatimah. Demikian disampaikan oleh Gus Muwafiq dalam acara Majelis Ahad Wage yang digelar di Gedung PWNU DIY, Ahad (05/11).

Berkat kemampuan itu, kata Gus Muwafiq, semua orang menghormati Kiai Hasyim, baik itu orang-orang yang belajar di Makkah maupun orang-orang yang ada di Nusantara.

“Semua orang tahu standar keilmuan Kiai Hasyim seperti apa saat di Makkah. Yang di sini, juga tahu, kalau Kiai Hasyim itu bukan sembarang orang. Semua tahu, saat mondok di tempat Kiai Kholil Bangkalan di Madura, Kiai Hasyim itu tidak pernah mengaji. Tapi kalau disuruh ngaji, pinter,” jelas Gus Muwafiq yang disambut tawa oleh jamaah yang hadir.

Gus Muwafiq menjelaskan bahwa Kiai Hasyim tidak mengaji bukan lantaran malas. Tapi karena selalu dimintai tolong sama gurunya Kiai Kholil Bangkalan ketika hendak mengaji.

“Kalau mau mengaji, Kiai Kholil bilang sama Kiai Hasyim, ‘Syim, Bu Nyai mau masak, tapi nggak punya kayu. Carikan Syim. Syim Bu Nyai mau masak nggak ada air, ambilkan Syim’” ujar Gus Muawafiq menirukan Kiai Kholil.
Kiai Hasyim tanpa membantah, lanjut Gus Muwafiq, langsung berangkat. Setelah pulang, mau ngaji kepada Kiai Kholil. Kiai Kholil menjawab Wallahu A’lam Bis-Shawab. Selalu begitu. Jadinya Kiai Hasyim tidak punya waktu untuk mengaji. Tapi kalau diminta untuk mengaji ya pinter.

“Barangkali itulah kurikulum wali. Pelajaran wali itu kan lewat frekuensi. Tinggal menyesuaikan frekuesi. Kalau frekuesinya sudah sama, maka nyambung. Itu seperti Hardisk dan Flashdisk saja. Tinggal copy paste sudah jadi,” kata Gus Muwafiq yang disambut gelak tawa para hadir.

Bagaimana agar frekuensi itu bisa sama? lanjut Gus Muwafiq, karena murid tidak punya suudzon dengan guru. “Lha kalau zaman sekarang, banyak sekali murid suudzon sama gurunya. Malahan banyak kasus orang tua yang melaporkan guru-guru,” jelas Gus Muwafiq.

Pada kesempatan tersebut, Gus Muwafiq juga menjelaskan bahwa Kiai Hasyim memiliki akhlak dan adab yang luar biasa dengan Nabi Muhammad Saw.

“Selama di Makkah, semua orang tahu, Kiai Hasyim tidak pernah memakai sandal dan tidak berak di tanah suci. Kalau mau berak, harus keluar dari tanah suci,” terang Gus Muwafiq.
Jika ditanya alasannya, kata Gus Muwafiq, Kiai Hasyim menjawab, nggak enak memakai sandal dan berak di tanah suci. Ada makam Nabi Muhammad Saw.

“Semasa hidupnya, Bung Karno kalau ziarah ke makam Kiai Hasyim, juga selalu lepas sandal karena menghormati Kiai Hasyim. Bung Karno tahu, begitu besar jasa Kiai Hasyim untuk republik ini,” tandas Gus Muwafiq. (Rokhim)

Source: bangkitmedia.com

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar