Penjelasan Gus Baha tentang Hakikat Surga dan Neraka

Penjelasan Gus Baha tentang Hakikat Surga dan Neraka

Menukil dari apa yang di sampaikan Syaikhinâ Gus Baha : "Dalam disiplin Ilmu Tasawuf, menurut Imam Al Ghozali ; representasi Al-Qur'an tentang Surga-Neraka itu hanyalah gambaran 'litaqribil afham' ; gambaran untuk mendekatkan pemahaman logika manusia. Karena Al Qur'an adalah kalam Allâh yang qodim, ketika turun ke level hawadits, tentu dengan menggunakan bahasa hawadits.

Neraka, dengan bermacam kepedihan adzabnya merupakan simbol perwujudan dari sukhtullâh (kemurkaan Allâh), dan surga dengan gelimang nikmatnya adalah sebagai perwujudan dari simbol Ridho Allâh. Itu saja hakikatnya."

Berangkat dari "definisi" itu, Gus Baha pernah melatih kita berfikir dengan logika yang sahih, agar dalam melakukan kebaikan-ibadah, (bisa) murni hanya berdasar iman, syukur, cinta, mengagungkan, dan rindu kepada (keridho'an) Allâh semata, dan bukan lagi orientasi surga-neraka ataupun transaksional duniawi.

Caranya, kita harus kembali pada ajaran tasawuf (tanpa meninggalkan fiqih dzohir) dengan menjiwai secara penuh kalimah munajat ; "Ilahî anta maqsûdi wa ridhôka matlûbi". Namun jika belum bisa dan belum mampu, harus senantiasa dilatih, dan dilatih lagi, pesan beliau kepada para santrinya dibanyak kesempatan.

Agar lebih mudah memahami cara cara itu, Gus Baha pernah mengajak kita belajar analogi (Qiyas). Kata beliau (sambil mengajak hadirin berfikir) : "Satu di tambah satu berapa?. (Semua jama'ah menjawab dua). Kamu menjawab dua itu, nunggu saya beri hadiah satu juta, atau tetap menjawab dua demi menjaga status kewarasan (akal sehat) anda?. Tentunya tetap menjawab dua, kan?."

"Kenapa demikian, karena satu ditambah satu samadengan dua itu adalah hakikat (dalam disiplin ilmu matematika). Dan hakikat itu, lâtahtâju ila ujroh; yang namanya mempertahankan hakikat itu, tidak lagi butuh upah. Jelas ya?"

"Sekarang Allâh sebagai Tuhan (yang harus diimanai, diagungkan, dita'ati) itu hakikat atau bukan?. Hakikat. Kemudian, jika seandainya kalian mengatakan begini; Ya Allâh, jika Engkau kasih surga, saya akan katakan Engkau Tuhan  (dan ta'at dalam kebaikan-ibadah yang engkau perintahkan; meninggalkan yang engkau larang). Namun jika tidak, 'tunggu dulu'. Orang yang seperti itu, (logika-akalnya) waras atau tidak?. Jawabannya, pasti tidak waras."

"Dengan memahami (ilmu analogi-kias) itu, kita akan berfikir (dan menghayati) ; Ya Alláh, betapa malunya hamba, untuk mengatakan satu ditambah satu (menjawab dua) hamba tidak butuh upah. Lalu kenapa untuk bersaksi bahwa engkau Tuhan (dan ta'at dalam kebaikan-ibadah yang engkau perintahkan), kita masih berharap surga, (takut neraka, bahkan sampai transaksional persoalan duniawi)? Betapa bodohnya kita?." Ujar Gus Baha.

Itulah mengapa, orang yang Arif Billâh menurut Shohibul Hikam, orientasinya hanyalah seperti yang dijelaskan berikut :

مطلب العارفين من الله الصدق في العبودية والقيام بحقوق الربوبية

Maksud-tujuan bagi orang yang benar-benar telah mengenal Allah (Ârifîn) hanyalah; ketulusan dalam menghamba (sehingha tidak lagi menyisakan apapun bagi kepuasan/kepentingan diri /hadzzun nafsi) dan (murni) pemenuhan (tugas sebagai hamba atas) hak-hak ketuhanan Allâh (dengan tatakrama, penghormatan, pengagungan, serta memulyakan).
Wallahu A'lam.



Sumber : FP Pecinta Gus Baha

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar

close
Ardha Kids