PBNU: BPJS Ditangani Dulu Akar Masalahnya, Jangan Asal Naikkan Harga Iuran

PBNU: BPJS Ditangani Dulu Akar Masalahnya, Jangan Asal Naikkan Harga Iuran

Ketua PBNU Bidang Kesehatan H Syahrizal Syarif mengatakan, ia tak sepakat dengan rencana pemerintah yang akan menaikkan harga Badan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Karena, menurut dia, hal itu penyelesaian masalah selintas saja. 

“Saya tidak sepakat dengan kenaikkan iuran BPJS. Saya tahu, BPJS defisit, tapi menaikkan iuran bukan penyelesaian. Jadi begini, pertanyaannya apakah rencananya meningkatkan seratus persen pembayaran dari kelas dua menjadi 75 ribu, kelas satu menjadi seratus sekian, apakah pemerintah menjamin bahwa tidak terjadi defisit? Itu saya ragu,” katanya di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (30/8).

Ia kemudian menyisir persoalan defisit BPJS. Menurut dia, ada jumlah yang cukup besar dari pengguna BPJS yang tidak rutin membayar iuran, misalnya mereka yang bekerja di sektor informal.

“Yang banyak itu kan mereka-mereka yang bekerja di sektor informal. Nah, kesadaran untuk memenuhi pembayaran itu yang masih kurang. Sehingga pengeluaran lebih besar daripada pendapatan karena ada sekitar 30 persen dari mereka anggota, kalau mereka sakit, setelah mereka berobat, lalu mereka tidak bayar lagi, dan angka ini besar jumlahnya,” jelasnya.

Jadi, menurut dia, ada problem rutinitas asuransi bagi mereka yang memang membayar sendiri.

“Mereka kan merasa sehat, ngapain mesti membayar? Kesadaran ini problem terbesar. Pemerintah harus memastikan bagi peserta BPJS yang membayar sendiri harus dipastikan membayar. Itu tidak mudah,” lanjutnya.

Nah, menurut Syahrizal supaya pelanggan BPJS rutin membayar iuran, bukti pembayaran harus terintegarasi dengan administrasi yang lain. Misalnya seseorang yang akan membayar pajak kendaraan bermotor harus memperlihatkan bukti telah melunasi BPJS.

Kedua, sebelum pemerintah menaikkan harga BPJS, harus memperbaiki kualitas pelayanan pelanggan terlebih dahulu. Selama ini, menurut dia, pelayanan BPJS meskipun banyak menolong masyarakat, tapi kualitas pelayanannya masih kurang. Hal ini karena jumlah tenaga dan fasilitas medis tidak sebanding dengan jumlah pelanggan.

Hal itu, menyebabkan antrean pelanggan untuk berobat penyakit jenis tertentu menjadi panjang.[NU Online]

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar