Ngaji Gus Baha: Rahasia Imam Syafi'i Tetap Santai Ketika di Caci Maki

Ngaji Gus Baha: Rahasia Imam Syafi'i Tetap Santai Ketika di Caci Maki

Gus Baha, dalam pengajiannya, sering sekali mengajarkan sikap santai dalam menghadapi hidup. Tak perlu tegang, khawatir apalagi takut. Semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak-Nya. Hanya kehendak-Nya, tak ada yang lain. Kita hanya diminta percaya dan yakin saja bahwa kehendak-Nya adalah yang terbaik.

Sikap santai dalam hidup ditunjukkan oleh para ulama, semisal Imam Syafi’i. Gus Baha bercerita kalau ada seseorang yang paling baik sama Imam  Syafi’i. Orang tersebut sebenarnya munafik. Kalau di depan Imam Syafi’i, memuji setinggi langit. Ketika di luar atau di belakang, mencaci dan memaki Imam Syafi’i.

Kelakuan buruk orang tersebut diketahui oleh murid sang imam. Murid itu kemudian mengadu kepada Imam Syafi’i. Mengabarkan kalau orang yang biasanya memuji dirinya, mencaci maki dengan hebatnya ketika di belakang atau ketika tidak di hadapannya.

Mendengar kabar itu dari muridnya, Imam Syafi’i tersenyum bahagia.

Sang murid heran. Dikasih tahu kabar buruk, malah tersenyum bahagia.

“Dianggap enteng saja. Berarti aku berwibawa. Di depanku, ia tak berani mencaci,” kata Imam Syafi’i

Sang murid lantas mengatakan kalau hal tersebut bahaya bagi Imam Syafi’i. Fitnahan dan caci maki orang tersebut bisa meruntuhkan kewibawaan sang Imam.

“Yang kritiknya bahaya itu hanya Allah ta’ala. Yang lainnya gak bahaya. Karena makhluk itu dho’if. Gak penting,” jawab Imam Syafi’i.

Sikap hidup santai dalam menghadapi segala permasalahan hidup, termasuk ketika dicaci maki, juga dilakukan oleh Sayyid Ja’far Shodiq. Gus Baha mengatakan kalau dalam manaqibnya Sayyid Ja’far Shodiq, ada kisah yang menceritakan bahwa ketika dicaci maki, Sayyid Ja’far Shodiq malah memberikan hadiah kepada si pencaci. Ketika ditanya kenapa, “karena kebaikanmu telah kamu berikan kepada saya,” jawab Sayyid Ja’far Shodiq.

Sampai di sini, betapa pentingnya sikap santai dalam menghadapi hidup. Tak perlu was-was, khawatir apalagi takut. Apa yang kita takutkan sementara kita punya Allah pemilik dan pencipta semesta raya ini? (Rokhim Nur/bangkitmedia.com)

*Tulisan ini disarikan dari ceramah Gus Baha.

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar