Mengapa Orang Jawa Tidak Mantu di Bulan Suro? Ini Penjelasan Gus Muwafiq

Mengapa Orang Jawa Tidak Mantu di Bulan Suro? Ini Penjelasan Gus Muwafiq

Orang Jawa kalau Bulan Suro (Asyuro-red) tidak mantu (menikahkan anaknya) maka dianggap bid’ah. (Ada yang bilang) ini termasuk kesesatan karena menganggap bulan Muharaam (Suro) dihukumi haram untuk menikahkan anaknya. (Katanya) itu termasuk kesesatannya orang jawa. Ada yang bilang seperti itu dan banyak yang percaya. Akhirnya melanggar, Bulan Suro menikahkan anaknya.

Padahal Bulan Suro itu, orang Jawa mengambil dari bahasa Arab Bulan Asyuro. Bulan Asyuro sama orang Jawa diambil belakangnya saja. Jadi bulan Suro. Orang Jawa itu kan senang mengambil belakangnya saja. Abdullah diambil belakangnya saja jadi dullah. Muhammad diambil belakangnya jadi Mad. Arifin jadi Ipin.

Bulan Asyuro, sampai Jawa itu diambil belakangnya menjadi Bulan Suro. Begitu ganti Suro, orang Jawa tidak berani mantu. Hajatan nggak berani. Sampai memperbaiki pintu saja tidak berani. Itu benar atau tidak? Benar. Jadi ini termasuk keyakinanya orang jawa yang benar. Bila perlu mari kita lestarikan keyakinan semacam ini. Seperti kita tidak melupakan tanggal 12 Maulud, bulan kelahiran Nabi. Tanggal 27 Rojab, Isra’ mi’raj Nabi. Dan Bulan Suro cara untuk memperingatinya jangan mantu. Ajari anak cucu kita kalau Bulan Suro jangan mantu. Sebab kenapa? Kita itu orang Islam.

Pertama kali Islam turun itu di Makkah. (lalu) Pindah ke madinah. Di Madinah itu akhirnya Islam jadi besar. Dari Madinah Islam itu pindah ke mana? ke Basrah. Basrah itu daerah di luar bangsa arab. Daerah itu berada di sekitar Iran Irak. Negaranya namanya Persia. Dari Madinah yang di utus ke Persia itu Sayyidina Ali. Sayyidina Ali itu termasuk sepupu, mantu dan murid kinasih Rasulullah. Rasulullah pernah bersabda, “aku gudangnya ilmu, Ali pintunya.” Saking pinternya Sayyidina Ali. Disuruh keluar menghadapi orang Persia. Orang Persia itu pintar-pintar. Sayyidina Ali lalu boyong sama istrinya Siti Fatimah bawa anak dua, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husen.

Di Basrah, Sayyidina Ali hidup berdampingan dengan masyarakat yang jelas bukan Islam. Hidup dengan rukun dan baik. Sampe orang Persia terkesima. Sampai ingin mengambil mantu putranya Sayyidina Ali. Akhirnya putranya Sayyidina Ali diambil menantu oleh raja Persia. Sayyidina Ali memberikan Sayyidina Husen. Terjadi pernikahan anak Raja Persia dan Sayyidina Husen.

Akhirnya lama-lama karena sudah berkeluarga sudah jadi kerabat. Maka Raja Persia ini meninggalkan agama Majuzi. Islam berkembang di sana. Agama baru. Cuma (waktu itu) di Madinah terjadi konflik. Perebutan kekuasaan antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah. Hasilnya Usman terbunuh. Begitu Usman meninggal, Sayyidina Ali disuruh pulang ke Madinah. Sayyidina Ali pulang. Di Madinah menggantikan Usman. Begitu menggantikan Usman, terjadi gejolak politik, sampai Sayyidina Ali terbunuh.

Sebab Sayyidina Ali terbunuh, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husen pulang ke Madinah. Begitu di Madinah, Hasan Husen menjadi masalah. Yazid bin Muawiyah merasa tersaingi maka terjadi intrik politik sampai Sayidina Hasan terbunuh kena racun. Tambah keras konflik dengan Yazid akhrinya Sayyidina Husen pulang ke Persia.

Begitu dzuriyah Nabi di pimpin Sayyidina Husen pulang, Yazid merasa ini melarikan diri. Akhirnya Yazid mengirim pasukan. Yang dikirim ini pasukan perang. Untuk apa? Untuk menyusul Sayyidina Husen serombongan. Tanggal 9 Asyuro ketangkap di Padang Karbala. Dikepung. Dan akhirnya entah apa yang terjadi, terjadi pembantaian habis-habisan. Anak cucunya Nabi habis dibantai di situ tanggal 10 asyuro. Habis. Ludes banjir darah. Lha ini menjadi pertanda bahwa tanggal 10 bulan Asyuro adalah tahun duka cita kaum muslimin sedunia.

Seluruh kaum muslimin berduka tanggal 10 Asyuro. Maka peristiwa ini tidak akan dilupakan sama orang Islam. Ada yang memperingati dengan menggunakan bubur merah putih. Merah tanda darah. Putih tanda tulang.

Ada yang memperingati dengan membuat keranda-keranda lalu diarak keliling. Itu menandakan begitu banyaknya keranda waktu itu yang berisi mayat cucu-cucunya Nabi. Nah orang sini, memperingati Asyuro, terbunuhnya cucu-cucu Nabi, biar gak lupa, dikemas dengan santunan anak yatim. Jadi kalau bulan Suro orang Jawa tidak mantu, tidak perkara Nyi Roro Kidul mantu, bukan. Itu fitnah terkejam buat umat Islam indonesia.

Orang Jogja sendiri kalau Bulan Suro keliling Benteng sepuluh kali atau tujuh dengan tidak bicara. Saking sedihnya dengan berita duka itu, tanggal 10 bulan Suro jangan kebanyakan omong. Maka puasa bisu. Orang Solo melebur dirinya dengan kotoran kerbau. Itu dalam rangka, seperti ini kita itu, cucu-cucu Nabi wafat menunjukkan dukanya dengan mandi kotoran kerbau.

Maka kadang orang yang tidak mengerti orang Jawa, itu menyalahkan. Islam indonesia itu disangka dan dituduh seperti bukan ajaran Islam dari Nabi. Kayak tumbuh sendiri. Selalu dikatakan bid’ah. Lihat ingkung ayam, bid’ah. Lihat tumpeng, bid’ah. Lihat orang tahlil, musyrik. Lihat orang baca sholawatan sambil berdiri, musrik. Sampai punya bendera, dikatakan musyrik. Termasuk Suronan, orang menganggap Suronan itu bidah, musryik, Nyi Roro Kidul mantu.

Orang kediri yang memfitnah (membuat cerita) Nyi Roro Kidul mantu. Aslinya orang pati. Namanya Ngabdullah. Ikut Belanda, pindah Kediri berganti nama jadi Kiai Tunggul Wulung. Itu yang nulis kitab Sabdo Palon Noyo Genggong. Pernah dengar cerita Sabdo Palon? Itu cerita kalau lima ratus tahun ke depan, Majapahit akan bangkit lagi. Untuk menunjukkan bahwa Islam di indonesia itu terjadi karena menyerang Majapahit.

Padahal yang meruntuhkan Majapahit adalah Raja Kediri. Namanya Girindra Wardana. Anak cucunya Kertajaya, anak cucunya Jaya Katwang. Itu perang bebuyutan. Lha itu dibalik, sama Ngabdullah ini. Di balik kalau yang menyerang Majapahit itu orang Islam dari Demak. Akhirnya terjadi perjanjian, aku mimpin cuma 500 tahun. Setelah 500 tahun, Majapahit bangkit lagi, ditulis dengan tulisan Sabdo Palon Noyo Genggong. Itu karyanya dia. Akhirnya ornag percaya. Termasuk yang menulis cerita dalam bentuk serta bernama Darmo Gandul Gatoloco. Itu ya Ngabdullah.

Termasuk yang buat cerita kalau Bulan Suro itu Ratu Kidul mantu. Itu banyak yang percaya. Termasuk Pak Harto (percaya). Kalau tidak tahu orang Jawa, orang Jawa selalu disalahkan. Padahal ini cara orang Jawa karena begitu hormatnya dengan kanjeng Nabi. Karena peristiwa itu (terbunuhnya cucu-cucu Nabi di Padang Karbala tanggal 10 Asyuro) tidak dilupakan. Asal usulnya, dari jalur itu. Maka orang itu diajari jangan sampai lupa. Kalau Bulan Suro, bulan duko (duka).

Note: Tulisan ini merupakan hasil transkip ceramah Gus Muwafiq dengan penyelarasan seperlunya. Ditranskip oleh Rokhim via bangkitmedia.com

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar

close
Ardha Kids