Kiai Said Melepas Kader Kompeten IPNU untuk Kompetisi Sains Internasional 2019

Kiai Said Melepas Kader Kompeten IPNU untuk Kompetisi Sains Internasional 2019

Kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Muchamad Ravi Ramadhani akan mewakili Indonesia dalam ajang Expo-Sciences International (ESI) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada 21-29 September 2019 mendatang. Kegiatan ini bakal diikuti oleh 56 negara.

Sebelum berangkat, ia lebih dulu sowan kepada Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj pada Selasa (17/9) di Gedung PBNU lantai 3, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta.

Dalam kesempatan ini, Kiai Said mengatakan kepadanya bahwa keikutsertaannya pada kontestasi di tingkat internasional itu diniatkan sebagai syiar Indonesia dan Nahdlatul Ulama.

“Satu niatnya syiarkan Indonesia, syiarkan bangsa Indonesia. Kedua membawa nama Nahdlatul Ulama di sana. Jangan malu-malu mengaku NU, organisasi Islam terbesar di dunia yang ahlussunnah wal jama'ah dengan jumlah anggota puluhan juta,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan itu juga mengingatkan agar Ravi bersyukur. Sebab, katanya, semua yang telah Ravi raih dan lakukan sampai meraih prestasi di tingkat nasional dengan menjuarai Young Inventors Award 2019 yang digelar oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu pemberian dari Allah.

Kiai Said juga meminta Ravi agar tidak berpuas diri dengan apa yang sudah diraihnya sampai hari ini. Sebab, ia yakin apa yang sudah dimulai oleh kader IPNU Wonosobo, Jawa Tengah itu akan terus berkelanjutan. Hal tersebut mengingat ilmu pengetahuan, terlebih teknologi, tidak mengenal kata berhenti.

Dalam perbincangan tersebut, Kiai Said juga mengungkapkan rasa bangganya atas prestasi yang telah ditorehkan oleh Ravi dalam bidang teknologi yang ia ciptakan. “Saya bangga atas prestasi Dik Ravi ini,” katanya.

Kiai Said menjelaskan bahwa kemunduran umat Islam adalah karena tidak menguasai teknologi, bukan seperti apa yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Abduh yang menyebut kemunduran umat Islam karena taklid.

“Islam mundur bukan karena taklid. Taklid itu harus. Tetapi (Islam mundur) karena tidak menguasai teknologi,” katanya mengutip pernyataan Syekh Badiuzzaman Said Nursi, ulama asal Turki.

Pertemuan itu pun ditutup dengan doa bersama yang langsung dipimpin oleh Kiai Said. Ravi yang didampingi oleh Ketua Pimpinan Pusat IPNU Anwar dan Komandan Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Corps Brigade Pembangunan (CBP) Sodikin mengamini dengan khusyuk.

Sementara itu, usai pertemuan tersebut, Ravi menunjukkan kegembiraannya karena dapat bertatap wajah dan berbincang secara langsung dengan sosok ia idolakan itu. Kelelahan perjalanan dari Wonosobo dan beberapa kegagalan menjumpainya terbayar tuntas. “Yang jelas, saya bahagia bisa berbincang langsung dengan Kiai Said,” ujarnya.

Ia sadar bahwa tak semua orang memperoleh kesempatan berharga bisa bertemu dan bahkan berbincang langsung dengan Kiai Said. Karenanya, ia sangat bersyukur dapat mendapatkan kesempatan yang amat langka itu.

Pria yang baru menamatkan studinya di tingkat menengah atas itu bertekad akan dapat membuat sosok tokoh yang ia temui itu bangga. “Mudah-mudahan saya sebagai pelajar Nahdlatul Ulama dapat membanggakan Kiai Said melalui karya,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Ravi telah menciptakan sebuah alat yang ia namakan Obah Energy. Alat berbentuk silinder berukuran sekitar 30cm itu berfungsi untuk mengisi daya baterai ponsel. Cukup dengan digerakkan, alat tersebut sudah dapat mengirim daya ke ponsel. Alat tersebut juga bisa menyimpan daya.

Di Abu Dhabi nanti, Ravi akan membawa alat tersebut sebagai sebuah penemuan teknologi dengan energi terbarukan, tanpa menghabiskan sumber daya alam karena hanya mengandalkan gerak tubuh manusia.

Selain di Abu Dhabi, Ravi juga akan mengikuti ajang International Exhibition for Young Inventors, ICE BSD Tangerang Selatan, Banten pada 22-27 Oktober 2019 mendatang.[NU Online]

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar