Ketika Bola Menyatukan Kiai, Santri, dan Masyarakat Umum

Ketika Bola Menyatukan Kiai, Santri, dan Masyarakat Umum

Sepak bola bukan sesuatu yang asing bagi segenap masyarakat pesantren. Di beberapa pesantren di Cirebon, Jawa Barat, para santri biasa memainkannya saban Jumat ketika pengajian tengah libur. Mereka beradu memperebutkan dan memasukkan benda bundar itu ke gawang lawan.

Namun, bukan hanya santri saja yang menggemari permainan tersebut. Para kiai juga punya ketertarikan yang sama pada olahraga itu.

Hal tersebut terbukti ketika para kiai di Pondok Buntet Pesantrenberkumpul di Lapangan Sepak Bola Blodog Berdebu pada Sabtu (7/9) sore. Mereka bermain melawan tim dari kelompok masyarakat umum yang terdiri dari tukang becak, pedagang, pegawai, guru, dan sebagainya. Keragaman profesi itu menjadikannya disebut sebagai tim gado-gado.

Para kiai tersebut mengenakan kaos seragam abu-abu bertuliskan 'Reunion Football Team' di bagian dadanya. Sebagian dari mereka juga mengenakan peci, ada pula yang memakai topi karena silau dengan mentari yang masih terik. Beberapa di antaranya lagi membebaskan kepalanya dari penutup. Tetapi semuanya bercelana panjang. Sementara itu, tim gado-gado mengenakan seragam warna merah dengan tulisan dada yang sama.

Demi memeriahkan kegiatan itu, para nyai, istri kiai, juga turut hadir di pinggir lapangan bersama putra-putri dan santri-santri. Mereka menggelar tikar untuk duduk memberikan semangat dan juga tempat istirahat ketika para kiai kelelahan.

Acara tersebut semakin meriah dengan teriakan para santri. Bukan yel-yel yang biasa digaungkan oleh para penggemar klub di stadion-stadion sepak bola, tetapi mereka menyuarakan nazaman Alfiyah ibn Malik guna mengobarkan semangat para kiainya itu.

Berkat dukungan ibu-ibu nyai dan santri-santri, para kiai itu berhasil mengalahkan tim lawan dengan skor 4-2.

Adapun para kiai yang mengikuti kegiatan tersebut antara lain Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren KH Adib Rofiuddin Izza, KH Amiruddin Abkari, KH Mufid Dahlan, KH Aris Ni’matullah, KH Mustahdi Abdullah Abbas, KH Muhammad Abdullah Abbas, KH Imron Rosyadi, KH Iwan Sofyan Ibadi, KH Anas Asaz, KH Agus Nasrullah, dan KH Edi Khumaedi.

Kegiatan yang diinisiasi oleh masyarakat muda Buntet Pesantren itu merupakan puncak dari rangkaian turnamen sepakbola antarpondok di Buntet Pesantren dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia.[NU Online]

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar

close
Ardha Kids