Jawa Barat Siapkan Dai Aswaja untuk Syiar Islam ke Dunia Internasional

Jawa Barat Siapkan Dai Aswaja untuk Syiar Islam ke Dunia Internasional

Misi Jawa Barat (Jabar) Juara Lahir Batin berupaya diwujudkan oleh Gubernur Jabar Ridwan Kamil salah satunya di bidang dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin ke dunia. Hal ini juga sebagai langkah untuk merealisasikan visi Jawa Barat sebagai bumi Ahlussunnah wal Jamaah dengan menyiapkan dai-dai Aswaja dari Jabar.

“Program paling istimewa, kami ingin ulama-ulama di Jawa Barat menjadi penyampai perdamaian di dunia,” ujar Ridwan Kamil Jumat (20/9) saat memberikan sambutan pada Rapat Pleno PBNU di Pondok Pesantren Al-Muhajirin 2 Purwakarta, Jawa Barat.

Pria yang akrab disapa Kang Emil ini menjelaskan, Jawa Barat bikin program English for Ulama. Sebanyak 30 ulama muda yang mayoritas NU dan lima terbaik akan dikirim ke Inggris di bulan November untuk dakwah di Eropa selama sekitar satu bulan.

“Kalau dakwahnya ke orang Indonesia sudah biasa, mereka akan mengikuti diskusi, seminar, dan lain-lain untuk menyampaikan kepada orang-orang Eropa yang mungkin masih suudzon pada Islam,” ujar Kang Emil.

Pihaknya juga ingin menunjukkan bahwa Islam Indonesia ialah Islam Wasathiyah, Islam ramah dan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Ke mana mereka berdakwah nantinya, orang-orang Barat tidak lagi menganggap bahwa belajar Islam bukan dari Timur Tengah saja, tetapi sumber ajaran mulia Islam juga berasal dari Indonesia, khususnya dari Jawa Barat.

Mantan Wali Kota bandung ini juga menerangkan, di bulan Oktober Pemprov Jabar akan mengirim 30 santri NU ke Yaman, belajar di tempat Habib Umar bin Hafidz. Supaya pulang dari sana menjadi penyampai terdepan Ahlussunnah wal Jamaah di tanah Jawa Barat yang menurutnya mempunyai tantangannya luar biasa.

“Selama 12 bulan, kami juga sudah canangkan Ajengan masuk sekolah, untuk menyadarkan generasi milenial, generasi Z, agar selalu taat pada syariat Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi wajah NU,” ucapnya.

“Kita juga sudah mulai dakwah digital, karya-karya ulama akan kami digitalisasi, termasuk 30 kitab karya kakek saya KH Muhidin sedang kami digitalkan. Dan nanti akan diterjemahkan dalam tiga bahasa, Sunda, Indonesia dan Arab,” sambung Kang Emil.

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar