Haedar Nashir Setelah Kerusuhan Wamena: Hindari Pernyataan yang Tidak Mendukung Suasana Kondusif

Haedar Nashir Setelah Kerusuhan Wamena: Hindari Pernyataan yang Tidak Mendukung Suasana Kondusif

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberikan tanggapan setelah kerusuhan di Wamena, Papua. Melalui akun Twitter resminya, Haedar menulis utas atas sikap resmi Muhammadiyah setelah peristiwa kerusuhan di Wamena.

Menurut Haedar, Muhammadiyah menyampaikan bela sungkawa dan keprihatinan atas kerusuhan yang “merenggut” banyak korban tersebut.

“Mengikuti dengan seksama apa yang terjadi di Wamena dalam beberapa hari terakhir, Muhammadiyah menyampaikan dukacita dan keprihatinan yang mendalam,” tutur Haedar melalui akun twitternya (29/9).

Atas nama ketua umum Muhammadiyah, Haedar juga meminta kepada negara untuk hadir dan mendukung segala upaya pemerintah, melalui TNI dan Polri dalam rangka mengurai dan menyelasaikan masalah kerusuhan di Wamena.

Bagian terpenting dari pernyataan Haedar adalah meminta kepada seluruh masyarakat untuk tidak beropini atau mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang dapat membuat situasi semakin memanas dan tidak kondusif.

“Kepada semua pihak di seluruh tanah air hendaknya dapat menahan diri serta sama-sama menciptakan suasana tenang dan kondusif dengan mengedepankan solusi,” lanjut Haedar.

Mengahiri utasnya, Haedar berdoa agar Indonesia senantiasa diberikan kedamaian dan jalan keluar untuk menuntaskan semua permasalahan yang sedang dihadapi.

“Kita selaku insan beragama senantiasa berdo’a kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia senantiasa diberi petunjuk dan jalan kebaikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta dengan kekuatan iman dan taqwa dapat memperoleh ridha-Nya,” tutup Haedar.

Sebagaimana dilansir Katadata.co.id, jumlah korban meningga kerusuhan yang berawal dari unjuk rasa di Wamena ini adalah 30 orang, salah satunya adalah dr. Soeko Marsetiyo. Hingga saat ini sekitar 5.500 pengungsi korban kerusuhan Wamena membutuhkan banyak bantuan.

Para pengungsi saat ini membutuhkan makanan dan pakaian. Selain itu, diperlukan susu dan popok bayi untuk balita, serta pembalut bagi pengungsi perempuan.
--
M Alvin Nur Choironi via islami.co

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar