Di Era Habibie, Rupiah Menguat dari Rp 17.000 ke Rp 6.500 Per Dollar AS

Di Era Habibie, Rupiah Menguat dari Rp 17.000 ke Rp 6.500 Per Dollar AS

Muslimoderat.net - Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie atau dikenal BJ Habibie telah berpulang pada Rabu (11/9/2019) di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

BJ Habibie dikenal sebagai sosok yang romantis dan cerdas dalam berpikir dan bertindak.

Tidak hanya piawai dalam dunia pesawat terbang, namun Habibie mahir melihat kondisi ekonomi Indonesia paska-krisis moneter 1998.

Ia memahami kondisi ekonomi menggunakan pendekatan aeronautika dengan mengibaratkan Indonesia adalah pesawat dengan posisi stall.

Diketahui, stall adalah posisi pesawat kehilangan daya angkat, dengan posisi bagian depan pesawat mengarah ke atas dengan sudut lebih dari 15 derajat. Hal ini mengacu pada krisis keuangan 1998, di mana Indonesia pernah memiliki pengalaman kejatuhan rupiah hingga Rp 17.000 per dollar AS.

Adapun kondisi ini bisa menyebabkan pesawat jatuh.

Inilah yang dilihat Habibie dari kondisi rupiah 1998. Ibarat pesawat terbang, rupiah saat itu sudah mengalami stall. Oleh karena itu perlu cara agar rupiah bisa stabil lebih dulu.

Keseimbangan menjadi basis. Dalam aeronautika, untuk meningkatkan kecepatan atau menurunkan kecepatan, maka dibutuhkan kesimbangan dengan gravitasi. Inilah yang disebut sebagai aerodinamika.

Mengetahui kondisi keuangan Indonesia tengah susah, Habibie merealisasikan pendekatan itu dan hasilnya rupiah dapat naik dari Rp 17.000 per dollar AS menjadi Rp 6.500 per dollar AS saat krisis keuangan tahun 1998.

Lembaga Independen
Seperti diberitakan Kompas.com, Rabu (11/9/2019), keberhasilan mendongkrak nilai rupiah di masa Pemerintahan Habibie dikarenakan sejumlah hal.

Menurut Ekonom UGM, Tony Prasetiantono paket rektrukturasi perbankan untuk membangun kembali perbankan yang sehat pada 21 Agustus 1998 cukup efektif.

Lewat kebijakan ini, beberapa bank di-merger untuk menjadi bank baru yang kuat dari sisi pendanaan, salah satu hasilnya adalah Bank Mandiri.

Pemerintahan Habibie juga mengambil keputusan besar untuk memisahkan Bank Indonesia (BI) dari pemerintah. Dengan pemisahan itu, BI menjelma menjadi lembaga independen dan mendapatkan lagi kepercayaan.

Umar mengatakan, kebijakan Habibie memisahkan BI dari pemerintah sangat sederhana yakni agar BI tidak lagi diperintah atau ditekan oleh penguasa seperti massa Orde Baru.

Selain itu masuknya investor asing dan mulai pulihnya kepercayaan berimbas kepada penguatan nilai tukar rupiah. Meski sempat ada di jurang Rp 16.800 per dollar AS, nilai tukar rupiah secara perlahan merangkak naik hingga mampu menguat di angka Rp 6.500 per dollar AS di era Habibie.

Kondisi pertumbuhan ekonomi membaik menjadi 0,79 persen pada 1999, naik dari 1998 yang sempat -13,13 persen. Begitu pun dengan tingkat kemiskinan jadi 23,4 persen pada 1999, menurun dari 1998 yang mencapai 24,2 persen. Ketimpangan atau gini ratio pada 1998-1999 sebesar 0,3.



Harus Stabil dan Seimbang

Dengan latar belakang seorang engineer pesawat terbang, banyak ekonom yang meragukan kemampuan Habibie untuk mengangkat ekonomi Indonesia paska-krisis 1998 waktu itu.

Namun hasil berkata lain, meski Habibie bukanlah seorang ahli ekonomi, pemerintahan Habibie justru mampu menjawab pesimisme itu. Pendekatan Habibie dalam melihat kondisi ekonomi, termasuk nilai tukar rupiah menjadi pembeda.

Dalam pendekatan aeronautika yang dipilih Habibie dalam mengatur perekonomian negara.

Menurutnya, saat pesawat terbang pada kondisi stall dan jatuh bebas, maka kecepatannya berada di bawah kecepatan minimum.

Akibatnya moncong pesawat terangkat karena pengaruh gaya gravitasi bumi.

Selain itu, Habibie menjelaskan bahwa hal yang paling penting dalam menerbangkan pesawat adalah gaya angkatan atau lift dengan gaya gravitasi harus seimbang.

Keseimbangan ini bertujuan agar pesawat tidak jatuh.

Dengan demikian, diperlukan cara agar rupiah bisa stabil terlebih dulu.

Sementara, ekonom Umar Juoro di Habibie Center mengungkapkan bahwa gerakan rupiah adalah gerakan yang menyerupai gerakan di udara, mengalami turbulensi, dan struktur ekonomi itu berperan sebangai keseimbangan.

Umar juga menyampaikan bahwa poin "keseimbangan" itu selalu diucapkan berulang-ulang oleh BJ Habibie.



(Sumber: Kompas.com)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar

close
Ardha Kids