Mengenang Mbah Moen, Cium Tangan Kiai Hasyim Muzadi, Jokowi, dan Sayid Ahmad, Apa Alasannya?

Mengenang Mbah Moen, Cium Tangan Kiai Hasyim Muzadi, Jokowi, dan Sayid Ahmad, Apa Alasannya?

Ulama alim dan kharismatik KH Maimun Zubair (Mbah Moen) wafat. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang Jawa Tengah itu wafatdi RS An Noor, Makkah pada usia 90 tahun. Umat Islam – terutama Indonesia – pun berduka. Banyak kenangan menarik tentang kiai rendah hati ini.

MbahMbah Moen menghadiri acara Halal Bihalal bertema “Ngumpulke Balungpisah Warga NU” di Fakultas Kedokteran Unwahas Semarang Ahad 17 Juli 2016. Saat itu KH A Hasyim Muzadi (kini almarhum) berpidato. ”Tiba-tiba ada seorang professor dari UIN Walisongo datang terlambat. Ia menghampiri Kiai Hasyim Muzadi dan salaman di podium,” tutur KH Fadlolan, salah satu Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir itu lalu menuturkan kronologisnya.

Kiai Hasyim Muzadi – tutur Kiai Fadlolan – lalu tertawa dan berkomentar. ”Inilah orang NU. Selain NU tidak ada gaya begini ini (sudah terlambat tapi masih berusaha salaman dengan kiai yang lagi pidato di podium-red),” kata Kiai Hasyim Muzadi sembari tertawa.

Kiai Hasyim Muzadi yang mantan ketua umum PBNU dua periode itu lalu bercerita tentang peristiwa KHR As’ad Syamsul Arifin, kiai kharismatik dari Pondok Pesantren Sukorejo Situbondo yang santri Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy'ari.

Suatu ketika, tutur Kiai Hasyim Muzadi, Kiai As’ad hadir ke dalam suatu acara. Dalam acara tersebut hadirin sedang menyanyikan lagu Indonesia Raya. ”Ketika Kiai As’ad masuk ruangan spontan dirijen dan peserta berhenti (menyanyi). Mereka menyalami Kiai As’ad,” kata Kiai Hasyim Muzadi yang disambut tawa para kiai yang hadir.

Kiai Hasyim Muzadi kemudian melanjutkan pidatonya. Namun berselang sekitar 15 menit tiba-tiba Mbah Moen datang dan masuk ke arena acara halal bihalal. Kiai Hasyim Muzadi yang sedang pidato spontan meletakkan mikrofon dan turun dari panggung menyambut Mbah Moen. Suasana jadi haru.

Namun lagi-lagi di luar dugaan. Tiba-tiba Mbah Moen mencium tangan Kiai Hasyim Muzadi sambil mengatakan, “Fadlolan-fadlolan, Pak Hasyim mau datang ya…!.” Adegan itu disaksikan para kiai yang hadir dengan suasana haru.

Loh apa alasannya Mbah Moen mencium tangan Kiai Hasyim Muzadi? Ketika giliran berpidato, Mbah Moen menyampaikan bahwa Kiai Hasyim Muzadi masih satu rumpun keluarga dengan dirinya dari jalur ibu. ”Kiai Hasyim Muzadi itu paman saya, saudara sepuh saya, paklek saya,” ungkap Mbah Moen.

Mbah Moen selama ini punya pandangan bahwa dalam agama Islam jalur darah (keluarga) harus didahulukan daripada ilmu. Artinya, kita harus lebih dulu menghormati orang tua kita, baru setelah itu kita menghormati guru. Karena itu ia sangat menghormati Kiai Hasyim Muzadi.

Sekitar 20 menit Mbah Moen berpidato, Kiai Hasyim Muzadi pamit pulang. Kiai Hasyim lalu menuju podium mencium tangan Mbah Moen. Lagi-lagi acara halal bihalal itu diliputi suasana haru.

“Jadi itulah krononologisnya,” tutur Kiai Fadlolan, lulusan S-2 dan S-3 jurusan Ushul Fiqh dan Fiqh Madzhab Universitas Al-Nilain Sudan itu.

Mbah Moen tidak hanya mencium tangan Kiai Hasyim Muzadi. Mbah Moen juga pernah mencium tangan Jokowi dan Sayid Ahmad.
Karuan saja banyak yang heran dan bertanya-tanya. Rais Syuriah PCINU Australia Dr Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) menjelaskan bahwa itulah akhlak mulia Mbah Moen.

“Mbah Maimun Zubair akhlaknya luar biasanya mulianya. Kiai sepuh yang tangannya diperebutkan para santri untuk dicium, malah menghormati dan mencium tangan pemimpinnya. Sementara di luar sana ada yang tega mencaci dan menghina pemimpin bangsa. Para santri, yuk teladani akhlak beliau,” kata Gus Nadir dalam tweeter.

Bangsaonline

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar