Gus Mus: Mbah Moen dan Gus Dur Kiai Bangsa, Saat Tiada Ditangisi Dunia

Gus Mus: Mbah Moen dan Gus Dur Kiai Bangsa, Saat Tiada Ditangisi Dunia

Oleh : KH Ahmad Mustofa Bisri

KIAI BANGSA

قال رسول الله صلى الله عليه ويلم: “إذا أحب الله العبد نادى جبريل: ‘إن الله يحب فلانا فاحببه’، فيحبه جبريل، فينادي جبريل في اهل السمآء: ‘إن الله يحب فلانا فاحبوه، فيحبه أهل السمآء، ثم يوضع له القبول في الأرض.” (متفق عليه عن أبي هريرة رضي الله عنه)

“Apabila Allah mencintai seseorang hambaNya, Ia menyeru malaikat Jibril, ‘Allah mencintai si Polan, maka cintailah dia.’ Malaikat Jibril pun mencintainya dan menyeru penduduk langit, ‘Allah mencintai si Polan, maka kalian cintailah dia.’ Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian si Polan mendapat penerimaan dan kecintaan penduduk bumi.” (Hadis muttafaq ‘alaih bersumber dari shahabat Abu Hurairah).

Aku bersyukur kenal dekat dengan dua tokoh idola yang kuyakini –berdasarkan hadis muttafaq ‘alaih di atas– sebagai dua hamba yang dicintai Allah. Dua tokoh ini, dicintai oleh hampir semua orang yang mengenalnya, baik secara pribadi atau hanya mendengar nama dan kiprahnya; baik seakidah dan sehaluan dengan mereka atau tidak; baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Aku kira ini tidak terlepas dari cinta mereka yang besar. Keduanya sama-sama memiliki cinta yang besar kepada sesama manusia, kepada Indonesia, dan bangsa Indonesia. Di samping itu, meski keduanya merupakan tokoh-tokoh muslim Indonesia yang menjadi pemimpin ormas dan partai, keduanya seperti memiliki urutan kepedulian yang sama. Di atas sendiri, tentu saja Allah dan RasulNya; lalu –sesuai pengenalan mereka terhadap Allah dan RasulNya itu– manusia; lalu Indonesia dan bangsa Indonesia; kemudian baru ormas dan partai mereka.

Kedua tokoh yang kusebut Kiai Bangsa itu, Gus Dur dan Mbah Moen, rahimahumãLlãh, saat wafat ditangisi bukan hanya oleh bangsa sendiri dan tidak hanya didoakan di mesjid-mesjid dan surau-surau…

Mencintai orang baik yang baik kepada kita, tidaklah sulit. Tapi cinta ke siapa pun orang, sangatlah tidaklah gampang. Karena mencintai karena Allah, seperti kedua Kiai Bangsa ini, memang memerlukan keluasan ilmu dan kearifan, atau dengan kata lain: pengenalan yang utuh terhadap Sang Pencipta.

Semoga sedikit-banyak kita dapat menyerap cinta mereka yang besar … wanafa’anã bi’ulűmihimã wa akhlãqihimã. 🙏🙏

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar

close
Ardha Kids