Wajah Islam Moderat Indonesia Dinominasikan untuk Nobel Perdamaian

Wajah Islam Moderat Indonesia Dinominasikan untuk Nobel Perdamaian

Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah adalah organisasi Islam utama di Indonesia. Kedua organisasi itu sangat penting untuk membendung gelombang ekstremisme agama. Filsuf dan pastor Katolik Romo Franz Magnis-Suseno menuturkan bahwa berkat mereka, Indonesia memiliki toleransi, perdamaian, dan stabilitas.

Salah satu cendekiawan hebat Indonesia telah mendukung pencalonan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, dua organisasi Islam moderat besar di Indonesia, untuk meraih Hadiah Nobel Perdamaian. Tokoh tersebut menyatakan bahwa kedua kelompok itu telah memainkan peran penting dalam mempromosikan toleransi beragama.

Filsuf dan pastor Katolik terkenal Romo Franz Magnis-Suseno  mengakui bahwa kedua institusi tersebut telah membantu membentuk wajah Islam Indonesia. “Ini sama sekali berbeda dari apa yang coba digambarkan oleh ekstremis,” katanya.

Dua hari sebelumnya, Romo Magnis adalah salah satu peserta dalam konferensi yang bertajuk “Challenging Islamic Extremism in Indonesia.” Acara tersebut berlangsung di Oslo, Norwegia dan diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia dan Peace Research Institute Oslo (PRIO), institusi yang berbasis di ibu kota Norwegia tersebut.

Dilansir dari AsiaNews, Senin, (24/6), Romo Magnis menambahkan bahwa kedua kelompok itu, yang didirikan sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, memiliki peran mendasar dalam pembangunan bangsa. “Berkat mereka, Islam Indonesia tetap moderat, orang Indonesia menikmati perdamaian internal, dan membuat Indonesia menjadi faktor stabilisasi yang penting di Asia Tenggara dan dunia,” katanya.

Para peserta dalam seminar di Oslo termasuk puluhan akademisi, duta besar, pejabat pemerintah, perwakilan organisasi sipil Norwegia, serta ketua komite eksekutif NU Marsudi Syuhud dan sekretaris jenderal Muhammadiyah Abdul Mu’ti. Acara tersebut difasilitasi oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis Jakarta dan Wahid Institute.

Duta Besar Indonesia untuk Norwegia, Todung Mulya Lubis, menegaskan bahwa Indonesia telah menyaksikan munculnya ekstremisme agama, menyatakan, “Fundamentalisme ini berasal dari luar batas negara dan telah menyebar sebagai efek terhadap globalisasi. Jika ide-ide ini berakar pada rakyat Indonesia, konflik agama akan meledak dan negara akan menghilang. Indonesia akan hancur, seperti halnya Suriah.”

Lubis mengklaim bahwa NU dan Muhammadiyah, sebagai “tulang punggung” Islam moderat di Indonesia, sangat berperan penting untuk membendung gelombang ekstremisme agama.[mtp]

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar