Wahai Santri Jomblo, Hati-hatilah Memilih Istri

Wahai Santri Jomblo, Hati-hatilah Memilih Istri

Dalam sebuah kesempatan, Dr. Abdul Mustaqim—dosen Tafsir Alqur’an UIN Sunan Kalijaga—pernah menyampaikan pesan: seberapa sholih/sholihah putra-putri Anda, tergantung seberapa sholihahnya sang ibu. Mungkin dahi Anda langsung berkerut seraya mbatin protes ‘kok bisa?’

Sabar, jangan emosi. Ada beberapa penjelasan berikut.

Pertama, itu sebagai tantangan buat para ibu—termasuk calon ibu yakni generasi milenial unyu-unyu—untuk berlomba (kelak) menjadi ibu sholihah.

Kedua, supaya para calon ibu—dan mereka yang telah kadung jadi ibu—lebih memaksimalkan persiapan proses edukasi buat anak-anaknya kelak. Edukasi paling dasar adalah menyusui sampai usia anak dua tahun. Sedapat mungkin jauhi susu formula yang bahan bakunya dari susu sapi. Nanti jangan kaget kalau sudah besar disuruh orang tua jawabannya: “Emooooohhhhh..” Mirip sapi!

Ketiga, beban berat ini menjadi tidak adil jika sepenuhnya dipikul kaum hawa. Maka para suami harus ikut bertanggung jawab dalam mengantarkan kesalihan istrinya. Minimal selalu mendoakan usai sholat. Kirimi hadiah fatihah untuk istri yang telah bersedia berkorban jiwa-raga, martabat dan mempertaruhkan gengsinya bagi kita.

Menurut mufassir kenamaan Indonesia, M. Quraish Shihab, tidak mungkin seorang perempuan mau mempertaruhkan masa depan dan mempersembahkan rahasia paling dalam kepada seseorang asing—calon suaminya. Jika perempuan tadi tidak meyakini bahwa kebahagiaan yang akan ia peroleh tidak lebih besar dari ayah kandungnya. Juga perlindungan yang akan ia dapatkan tidak lebih kecil dari saudara kandungnya selama ini.

Keempat, ini yang agak penting karena menyangkut fakta sejarah yang tak terbantahkan: dalam Alqur’an agaknya tidak ada kasus, cerita yang menunjukkan bahwa jika ibunya sudah shalihah anaknya lalu nakal. Yang terjadi sebaliknya, ada kasus bapaknya sudah sholih, tapi anaknya nakal sebagaimana Kisah Nabi Nuh dan anaknya Kan’an.

Kalau ibunya wanita shalih, bisa dipastikan anaknya bakal shalih. Siti Maryam dengan Nabi Isa AS, misalnya, atau Nabi Musa yang punya ibu shalihah nan tegar. Banyak masyasyikh pesantren besar yang berawal dari kehebatan ibundanya. Ingin bukti? Eyang putri Salamah yang merupakan wanita shalih pula dermawan (padahal sejatinya hidup pas-pasan) dikaruniai oleh Allah mewujud keberkahan dalam diri anaknya, Manaf. Kelak ia dikenal dengan nama KH Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Masya Allah…

So, wabil khusus buat santri jomblo, hati-hati memilih istri yaaa…

Ngoto, Juli 2019

Bramma Aji Putra, Humas Kementerian Agama DIY dan Pengurus LTN PWNU DIY via bangkitmedia.com

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar