Saat Usia 19 Tahun, Mbah Kyai Salman Popongan Sudah Dibai’at Jadi Mursyid

Saat Usia 19 Tahun, Mbah Kyai Salman Popongan Sudah Dibai’at Jadi Mursyid

Yai Salman Popongan Mbah (atau kepernah Pakdhe saya) Salman adalah putra tertua dari mbah M Mukri bin Yai Kafrawi. Dan beliau merupakan cucu laki-laki tertua dari mbah Manshur, pendiri pesantren Al Manshur.
Mbah Manshur sendiri adalah putra dari Mbah Giri, atau mbah Muhammad Hadi Girikusumo, salah seorang khalifah Syaikh Sulaiman Zuhdi, guru besar Naqsyabandiyah Khalidiyyah di Jabal Abi Qubais Makkah.

Sebagai cucu laki-laki tertua, konon Salman muda memang dipersiapkan oleh Mbah Manshur untuk melanjutkan tugas sebagai pengasuh pesantren sekaligus mursyid Thariqah Naqsyabandiyah.

Tahun 1953, ketika mbah Salman berusia 19 tahun, oleh Mbah Manshur, sebelum wafat dua tahun kemudian, di bai’at sebagai mursyid, guru pembimbing tarekat. Maka, ketika pemuda-pemuda lain seusianya tengah menikmati puncak masa remajanya, mbah Salman harus memangku jabatan pengasuh salah satu pondok sekaligus mursyid.

Untuk menambah bekal pengetahuannya sebagai pengasuh, pakdhe Salman muda nyantri lagi ke pesantrennya K.H. Khozin di Bendo, Pare, Kediri selama kurang lebih empat tahun (1956 – 1960). Sebulan sekali, ia nyambangi pesantren yang diasuhnya di Popongan, yang selama Salman mondok di Kediri, diasuh oleh ayahnya sendiri, mbah Mukri.

Yai Salman muda juga tinggal di Kauman (rumah Yai Manshur di Solo) sambil mengenyam pendidikan di Madrasah Mamba’ul Ulum, Solo dan beberapa kali nyantri pasan (pengajian bulan Ramadhan) kepada K.H.Ahmad Dalhar, Watu Congol, Magelang,Seiring dengan perkembangan jaman, pesantren yang diasuh oleh Kiai Salman juga mengalami perkembangan. Jika semula santri hanya ngaji dengan sistem sorogan dan bandongan, mulai tahun 1963 didirikan lembaga pendidikan formal mulai Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Diniyah (1964), Madrasah Aliyah (1966) dan yang terakhir TK Al-Manshur (1980).

Dari tahun 80-an, pakdhe Salman selain sebagai musryid thariqoh, maka sehari-hari mengasuh pondok Al Manshur Putra dan kasepuhan, bersama pakdhe Yai Jablawi, dan Yai Nasrun yang mengampu Pondok Putri.

Almarhum Yai Salman dari istri budhe nyai hj. Muainatun Sholihah memliki delapan putra/i yaitu Musta’anatussaniyah (istri dari Yai Najib Abdulqodir, PP Krapyak), Umi Muktamirah (istri dari Yai Zubadul Zaman, PP Al Ishlah Kediri), Munifatul Barroh (istri dari Dr Mufrod TeguhMulyo, Rektor UNU Solo), Murtafiah Mubarokah (istri dari Yai Dian Nafi’ PP Al Muayyad Windan), Muhammad Maftuhun Ni’am, Muhammad Miftahul Hasan, Multazam Al-Makki, dan Marzuqoh Maliya Silmi.

6 tahun lalu Yai Salman berpulang. Kabar itu saya terima pas saya menunggu boarding pesawat dari Jogja menuju Kupang. Teringat betapa rasanya, belum sempat berbaiat thariqoh ke Yai Salman.

Kagem pakdhe, lahul Fatihah.
Kagem Mbah Manshur sekalian, Mbah Mukri sekalian, pakdhe Jablawi sekalian soho poro masyayikh ing sampun sumare. lahumul Fatihah.

Penulis: Anas Farkhani, Ketua Yayasan Al Manshur Popongan.

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar

close
Ardha Kids