Mengenal Lebih Dekat Sang Ulama Besar 'KH Said Aqil Siradj'

Mengenal Lebih Dekat Sang Ulama Besar 'KH Said Aqil Siradj'

Oleh Fathoni Ahmad

Negeri Arab Saudi tidak asing bagi Kiai Haji Said Aqil Siroj. Ulama yang lahir tepat pada hari ini, 3 Juli 1953 atau 66 tahun lalu ini tidak kurang dari 13 tahun telah mengenyam pendidikan tingginya di negeri tempat kelahiran Nabi Muhammad tersebut. Pengalaman panjangnya itu cukup bagi dirinya untuk mengenal bangsa Arab, termasuk budaya yang berkembang di sana.

Setelah menyelesaikan pengembaraan ilmunya di Pondok Pesantren Kiai Haji Aqiel Siroj (KHAS) Kempek Cirebon pesantren yang didirikan orang tuanya, Pesantren Lirboyo Kediri, dan Pesantren Krapyak Yogyakarta, Kang Said, sapaan karibnya, meneruskan jenjang S1 di Universitas King Abdul Aziz (1982), lalu mengambil S2 Universitas Ummul Qurra Makkah (1987), dan S3 di Universitas Ummul Qurra (1994). Adapun predikat guru besarnya ia terima dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya (2014).

Dilihat dari proses pengembaraan intelektualnya, Kang Said punya bekal kokoh untuk mengarungi ilmu di negeri bermadzhab Wahabi tersebut. Bekal ilmunya di pesantren turut membentuk keterbukaan pemikiran (inklusivisme) dirinya di tengah madzhab konservatif wahabi yang merupakan madzhab resmi kerajaan Arab Saudi. Fenomena berbeda ditunjukkan oleh beberapa orang yang justru seolah lebih Arab daripada orang Arabnya. Sehingga turut menggerus pemikiran dirinya terkait paham keagamaan Islam Sunni dan merembet ke pola pikir destruktif mengenai agama dan negara, termasuk tradisi dan budaya yang selama ini turut membentuk harmonisasi kehidupan bangsa Indonesia.

Sebagai seseorang yang mempunyai pemikiran merdeka, Kang Said tidak mau dibelenggu oleh paham dan praktik keagamaan yang eksklusif ala wahabi. Sebab itu, dalam sejumlah forum, ia menegaskan diri bahwa yang dibawanya dari Arab Saudi ialah ilmu, bukan budayanya. Karena ia menyadari, mengerti, dan paham bahwa budaya Indonesia jauh lebih mulia.

Penegasan tersebut bukan bermaksud mengerdilkan kebudayaan suatu bangsa, tempat ia belajar selama belasan tahun, tetapi lebih kepada upaya Kang Said dalam mengokohkan nasionalisme umat Islam Indonesia di tengah fenomena Arabisasi penampilan dan pemikiran. Ilmu pengetahuan dalam lingkup agama Islam banyak dikembangkan di pesantren. Yang kerap ia contohkan ialah ketika seorang santri belajar Tafsir Al-Qur’an. Seorang santri tidak akan memahami bidang tafsir tanpa terlebih dahulu menguasai ilmu bahasa dan sastra Arab, ulumul qur’an, asbabun nuzul, dan lain-lain.

Begitu pula dengan bidang-bidang ilmu agama lainnya. Dari sisi tradisi dan budaya, Kang Said menegaskan bahwa bangsa Indonesia lebih kaya dibanding bangsa mana pun di dunia ini. Tradisi dan budaya dimaksud bukan tanpa hikmah dan teladan, tetapi sarat nilai-nilai luhur. Masyarakat Indonesia kini bisa melihat dan menilai sendiri bahwa banyak kekayaan budaya Indonesia yang dikagumi bangsa-bangsa di dunia, baik tarian, busana, kuliner, termasuk moderatisme dalam beragama.

Islam Nusantara

Moderatisme beragama yang menjadi pondasi kokoh konsep Islam Nusantara yang digagas Nahdlatul Ulama pada era Kang Said menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, turut menciptakan kondusivitas kehidupan global. Afghanistan misalnya, negeri yang porak-poranda karena sentimen agama dan kelompok selama bertahun-bertahun, kini mengembangkan konsep Islam Nusantara, bahkan secara resmi mendirikan organisasi NU yang terdiri dari ulama-ulama lokal dari berbagai faksi untuk mewujudkan persatuan dan perdamaian.

NU mengangkat simbol Islam Nusantara, artinya Islam atau umat Islam yang berkembang di kawasan Nusantara, yang masyarakat warisi dari para wali atau ulama leluhur umat Islam Indonesia. Mereka telah berhasil menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara, mereka berhadapan dengan Majapahit, Sriwijaya, dan kerajaan-kerajaan lain. Berhasil mengislamkan bangsa ini tanpa kekerasan, tanpa berdarah-darah, tapi dengan pendekatan budaya akhlakul karimah. Menunjukkan Islam itu beradab, bermartabat, disiplin, dan bersih penampilannya.

Menurut Kang Said, umat Islam di Idnonesia kuat Islamnya karena didukung budaya. Budaya menjadi lestari karena dipoles oleh Islam. Kecuali tradisi yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam, itu jelas tertolak. Misalnya dalam ritualnya ada hubungan seks bebas, meminum-minuman keras, praktik kekerasan. Tapi kirim doa orang mati 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1.000 hari dilestarikan oleh para wali karena bisa diisi dengan tahlilan, wirid, dan zikir kepada Allah.

Para Wali (Songo) terkenal jago sekali dalam hal memadukan budaya dan nilai-nilai Islam. Sunan Kudus melarang orang Kudus menyembelih sapi untuk menghormati perasaan orang Hindu yang baru masuk Islam tapi masih tersinggung melihat sapi disembelih. Sebab itu, hingga saat ini tidak ada penyembelihan sapi untuk kebutuhan apapun di Kudus.

Kang Said juga menegaskan, Islam Nusantara artinya Islam yang tidak menghapus budaya, Islam yang tidak memusuhi tradisi, Islam yang tidak menafikan atau menghilangkan kultur. Islam Nusantara adalah Islam yang mensinergikan nilai-nilai universal bersifat teologis dari Tuhan yang ilahiah dengan kultur budaya tradisi yang bersifat kreativitas manusia atau insaniah. Pemikiran dan praktik keagamaan seperti inilah yang menurut Kang Said mewujudkan prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin.

Kang Said menyadari bahwa selama ini sentimen agama yang lahir dari pemikiran sempit dan eksklusif (tertutup) turut menjadi faktor tumbuh suburnya radikalisme. Kemudian berangkat dari embrio radikalisme, tumbuh lagi praktik kejahatan yang mengatasnamakan agama yaitu terorisme. Selama di sejumlah negara terdapat pemikiran tekstual, memahami teks agama secara sempit dan tertutup, maka tindak kejahatan terorisme akan terus menjadi ancaman global.

Salah satu buah pemikiran Kang Said untuk mencegah pemikiran radikal dalam memahamai teks agama ialah malarutkan prinsip-prinisp tasawuf dalam kehidupan sosial. (Baca Tasawuf sebagai Kritik Sosial karya KH Said Aqil Siroj). Dengan kata lain, mengimplementasikan dunia tasawuf ke dalam realitas sosial. Seperti makna terorisme dan jihad yang belakangan ini marak disalahpahami, Ini penting diaktualisasikan pemahamannya, supaya umat Islam tidak salah memahami. Menurut pandangan Kiai Said, Islam diturunkan ke bumi ini sebagai pedoman untuk umat manusia dalam mengemban misi idealnya sebagai khalifah Allah.

Dengan kata lain, umat Islam dituntut untuk selalu menjaga keharmonisan hidup di tengah karakter yang ada dalam dirinya: ifsad fil ard (cendrung membuat kerusakan di muka bumi) dan safk ad-dimak (berpotensi konflik antarsesamanya). Sehingga cita-cita Islam sebagai rahmat lil’alamin benar-benar terwujud di muka bumi ini. Dengan kata lain, Kang Said menyebut bahwa jangan menjadikan Islam sebagai aspirasi, tetapi penting untuk mewujudkan Islam sebagai inspirasi. Wallahu’alam bisshawab.


Penulis adalah Redaktur NU Online via NU Online

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar