Gus Sholah: Saya Terlalu Tua Dicalonkan sebagai Ketum PBNU

Gus Sholah: Saya Terlalu Tua Dicalonkan sebagai Ketum PBNU

Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang, KH Salahuddin Wahid — akrab disapa Gus Sholah — memberi sinyal tak bersedia dicalonkan lagi sebagai ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-34 NU tahun depan.

“Waduh terlalu pagi ya. Saya sih merasa sudah terlalu tua,” katanya saat ditemui Barometerjatim.com di kediamannya, kompleks Ponpes Tebuireng Jombang, Kamis (18/7/2019) sore.

Seperti diketahui, Gus Sholah sempat dua kali dicalonkan sebagai Ketum PBNU, yakni di Muktamar ke-32 NU Makassar (2000) dan Muktamar ke-33 NU Jombang (2015). Di kedua muktamar tersebut, KH Said Aqil Siroj terpilih sebagai ketum PBNU.

Tak hanya memberi sinyal tak bersedia dicalonkan lagi, Gus Sholah juga masih enggan menyebut siapa tokoh NU yang layak dan akan didorong sebagai calon Ketum PBNU. “Belum tahu ya, kita lihat sajalah ke depannya ini,” ucapnya.

Terpenting, tandas Gus Sholah, orang seperti apa yang diperlukan untuk memimpin NU pasca Kiai Said dengan kriteria awal bahwa calon tersebut secara fitrah bukan politisi.

“Dia organisatoris, akademisi, dan punya pengalaman rekam jejak sebagai organisator serta bisa membawa NU sebagai organisasi yang tertata baik,” katanya.

Gus Sholah memberi garis calon bukan berlatar belakang politisi, karena dia sepakat dengan pendapat banyak pihak yang menyebut NU sudah terlalu jauh masuk ranah politik praktis.

“Ya saya sepakat itu. Nah sekarang kita bagaimana memperoleh tokoh yang tidak punya kencenderungan seperti itu,” katanya.

“Kita ingin tokoh yang tidak memanfaatkan NU ini untuk kepentingan politik, atau dimanfaatkan oleh partai untuk kepentingan partai tersebut,” sambungnya.

NU, lanjut Gus Sholah, harus di atas partai politik dan berada di dalam posisi masyarakat sipil.

“Jadi adanya fakta bahwa NU dicalonkan sebagai penerima hadiah nobel (perdamaian) bersama Muhammadiyah, itu dalam posisi NU sebagai bagian utama masyarakat sipil bersama Muhammadiyah. Janganlah NU masuk ke dalam politik praktis,” paparnya.

Selebihnya, Gus Sholah berharap Muktamar ke-34 NU tahun depan berjalan dengan baik. Tidak diwarnai kericuhan seperti di Makassar dan Jombang.

“Paling awal, prosesnya itu kita ingin betul-betul baik ya. Tidak menimbulkan masalah seperti di Jombang dan juga Makassar. Jadi muktamar yang berjalan dengan baik, tanpa ada hal-hal yang mencemari muktamar,” katanya.•

Sumber: barometerjatim.com

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar