Cara Sederhana Kenalkan Aswaja Annahdliyah pada Anak

Cara Sederhana Kenalkan Aswaja Annahdliyah pada Anak

Ketua PW Muslimat NU DKI Jakarta, Hj Hizbiyah Rochim mengatakan orang tua wajib memberikan pemahaman Aswaja Annahdliyah kepada anak-anak mereka. Jangan karena merasa sudah tua, kemudian mereka tidak memberi perhatian kepada anak-anak dan keluarga.

Memberikan pengantar pada Pelatihan Kader Aswaja PW Muslimat NU DKI Jakarta, Kamis (4/7), Hj Hizbiah mengungkapkan, saat ini semakin banyak orang yang menyimpang dari ajaran Aswaja. Kalaupun mengaku-aku menganut ajaran Aswaja, ternyata jauh dari prinsip-prinsip dasar paham Aswaja. Karena itu, NU secara khusus menambahkan kata 'Nahdliyah' sebagai ciri khas masih dianutnya paham Aswaja yang sebenarnya.

Untuk memberikan pemahaman Asjwa Annahdliyah kepada anak-anak, orang tua tak tekecuali kaum ibu, dapat memberikan keteladanan dengan rutin berzikir setelah shalat. Hal itu sangat penting, sebab dzikir setelah shalat juga menjadi ciri khas NU.

Dzikir, menjadi upaya lain di samping ikhtiar dengan menasihati anak dan keluarga secara langsung. Dzikir yang baik, hendaknya dilakukan dengan istiqmah serta rutin. "Jangan hari ini dzikir, besoknya tidak," katanya di hadapan para pengurus cabang Muslimat NU se-DKI Jakarta.

Dalam kegiatan yang berlangsung di Kantor Wilayah Kemenag DKI Jakarta, Jalan DI Panjaitan, Jatinegara, Jakarta Timur tersebut, Hj Hizbiah menambahkan, selain dzikir, dapat pula umat Islam menyenandungkan shalawat, atau membaca surat-surat tertentu dalam Al-Qur'an. Berdzikir, bershalawat, atau membaca Al-Qur'an mengandung berbagai hikmah atau manfaat.

"Harus mau mengaji (membaca Al-Qur'an), supaya Allah mengabulkan doa kita. Karena itu sudah Allah perintahkan," katanya.

"Berdzikir juga menjadi penguatan hati dan jiwa kita untuk lebih dekat, karena godaan di Jakarta ini luar biasa," katanya.

Jika umat Islam mampu menjalankan ibadah dengan baik, kemudian dapat menghadapi ujian hidup maka mendapatkan pahala yang besar pula. "Ujiannya banyak, pahalanya juga banyak," kata Hj Hizbiah.

Hj Hizbiah menekankan agar para pengurus Muslimat NU se-DKI Jakarta juga berani menghadapi orang-orang yang menentang semangat yang diusung NU dalam beragama. Ia menceritakan, salah satu kejadian yang berlangsung di lingkungan tempat tinggalnya, di mana mushala di dekat rumahnya yang mengedepankan Aswaja, sempat dipengaruhi ajaran yang bertentangan. Namun, ia dan para pengurus mushala meminta agar pihak yang berlawanan tersebut menghentikan usaha mereka.

"Mushala itu dididirikan ulama Betawi yang mengedapankan Aswaja. Sekarang terus digalakkan lagi semangat Aswaja. Setiap malam Jumat diadakan Yasin dan Tahlil. Dari mulainya sepuluh, lalu lima belas orang, duapuluh, semakin banyak. Masyakat sudah semakin sadar," kisahnya.

Namun ia mengingatkan dalam menjaga Aswaja, harus tetap bekerjasama dengan lingkungan, termasuk dengan pengurus lingkungan seperti RT dan RW. Untuk itu, pengurus dan kader Muslimat NU wajib memiliki hubungan komunikasi yang baik dengan masyarakat sekitar. "Apa yang bisa kita berikan, kita berikan kepada mereka (lingkungan)," katanya.

Pembicara lainnya, Ustadz Misbahul Munir dari LDNU menjelaskan ciri-ciri Aswaja, seperti moderat dan tidak mudah mengkafir-kafirkan pihak lain. Jika ada yang berbeda pendapat, harus dihadapi dengan bijaksana. Hal itu juga dicontohkan oleh para ulama NU.

"Ulama-ulama NU berbeda pendapat, berbeda partai, tapi tetap bersatu," kata Ustadz Misbah.

Fenomena mengkafikan, padahal sesama umat Islam, saat ini sangat banyak. Muslimat NU sebagai bagian dari NU wajib menjaga kebersamaan dan kekompakan agar persatuan Indonesia tetap terjaga.

Ajaran NU yang moderat telah diakui oleh ulama-ulama dunia. Pada hakikatnya, ungkap Ustadz Misbah, makin Islam seseorang maka semakin sejuk dan semakin damai. Namun, ada juga orang yang semakin Islam malah menja teroris.

"Apa sebabnya? Ilmu yang masuk itu memengaruhi tindakan seseorang. Prosesnya adalah ilmu lalu iradat (keinginan), lalu kodrat (tindakan)," terangnya.

Sangat wajib bagi umat Islam untuk mengikuti ulama yang tepat yakni yang mengajarkan Islam ramah. Salah satu ulama yang dimiliki Indonesia saat ini adalah Mbah Maimoen Zubair, karena wejangan-wejangannya yang sejuk dan mampu mendamaikan dunia.

"Kita harus hormat kepada ulama. Karena adanya ulama, Indonesia kuat," tegasnya. (Kendi Setiawan/NU Online)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar