Masjid Al-Safar Rancangan Ridwan Kamil Masuk Nominator Arsitektur Terbaik di Arab Saudi

Masjid Al-Safar Rancangan Ridwan Kamil Masuk Nominator Arsitektur Terbaik di Arab Saudi

Desain Masjid Al-Safar diperdebatkan di Indonesia karena berbentuk segitiga menyerupai simbol illuminati. Hal itu berbanding terbalik ketika arsitektur masjid rancangan Ridwan Kamil dan Urbane Indonesia tersebut justru diapresiasi Arab Saudi.

Masjid Al-Safar yang berada di rest area KM 88 ruas jalan tol Purbaleunyi menjadi salah satu dari tiga masjid rancangan Ridwan Kamil dan Urbane Indonesia yang masuk nominasi masjid berasitektur terbaik Abdullatif Al Fozan Award 2019 dari Arab Saudi.

Dua masjid lainnya yang masuk nominasi yaitu Masjid Al Irsyad di Kota Baru Parahyangan dan Masjid Raya Sumatera Barat di Padang. Total ada 27 masjid yang masuk nominasi dari seluruh belahan dunia khususnya yang berpenduduk muslim.

CEO Urbane Indonesia Reza Achmed Nurtjahja menceritakan awal mula masuknya tiga desain masjid tersebut dalam nominator Abdullatif Al Fozan Award 2019. Tahun lalu, ada pihak yang menghubungi dan memintanya mengirimkan desain masjid rancangan Urbane.

"Kontaknya tahun 2018, mungkin lihat desain masjid itu dari internet. Kita ngirim beberapa rancangan yang pernah dibuat, disortir 3 besar ini. Indonesia ada 5 masjid yang masuk nominasi," kata Reza saat dihubungi via telepon genggam, Jumat (31/5/2019).

Ia menjelaskan desain tiga masjid tersebut memiliki filosofi masing-masing. Pertama Masjid Al Irsyad dirancang mirip dengan kubus karena dianggap lebih efisien. Masjid yang dibangun 2009 lalu itu, mampu menampung 1.000 jemaah.

"Konsep awalnya sebenarnya menyederhanakan bangunan masjid sehingga benar-benar fungsional dan nyaman," ucap dia.

Masjid Al Irsyad sengaja mengusung konsep terbuka karena ide awalnya membingkai alam sebagai latar belakang mihrab atau tempat imam. Arah kiblat Masjid ini diciptakan dengan konsep terbuka langsung menghadap ke pemandangan alam.

"Berbagai penghargaan sudah diterima berkat konsep masjid ini," jelas dia.

Sementara itu, Masjid Al Safar juga lagi-lagi dirancang tanpa kubah. Keunikannya terdapat pada bentuknya yang asimeteris hingga banyak yang menyebut desain bangunan ini mirip ikat kepala masyarakat Sunda.

"Kenapa bentuknya miring seperti itu, sebetulnya karena berada di dalam tol yang monoton. Kami ingin meletakkan masjid itu ke arah depan dengan diagonal sehingga mereduksi sedikit bentuk jalan tol," ujar Reza.

Yang terakhir Masjid Raya Sumatera Barat karya Rizal Muslimin salah satu arsitek di Urbane Indonesia. Untuk desain atap masjid, bentuknya bukan semata-mata menduplikasi bangunan lokal melainkan terinspirasi dari peristiwa peletakan batu Hajar Aswad.

Desain tersebut menggambarkan bentuk bentangan kain yang digunakan untuk mengusung batu. Ketika itu empat kabilah suku Quraisy berselisih pendapat mengenai siapa yang berhak memindahkan batu Hajar Aswad ke tempatnya semula.

"Jadi bentuknya seperti kain terus dibentangkan. Filosofinya berarti keadilan dan tidak ada yang menang sendiri," ujar Reza.

Sumber: detik.com

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar