Ditinggal Mudik Warganya, Kualiatas Udara Jakarta Terburuk di Dunia

Ditinggal Mudik Warganya, Kualiatas Udara Jakarta Terburuk di Dunia

Libur panjang Idul Fitri 1440 Hijriah akan berakhir hari ini, Minggu (9/6). Jutaan kendaraan diperkirakan akan kembali memadati Ibu Kota Jakarta usai pulang dari kampung halaman. Namun, hal ini justru bukan yang menjadi permasalahan inti dari buruknya kualitas udara yang ada di Jakarta.

Direktur Eksekutif Nasional Walhi Nur Hidayati menyatakan, pihaknya telah melakukan pengecekan kualitas udara saat H-1 perayaan Idul Fitri 1440 H. Namun yang menjadi penyebab utama bukan hanya dari gas timbal dari padatnya kendaraan bermotor, sehingga harus dilakukan penelitian apa yang menjadi sebab buruknya kualitas udara di Jakarta.

“Satu hari sebelum Lebaran kalau enggak salah kita menduduki peringkat pertama pada pagi hari ya. Kota yang paling terpolusi di dunia, dari indeks standar kualitas udara,” kata wanita yang akrab disapa Yaya saat dihubungi JawaPos.com, Minggu (9/6).

Yaya menuturkan, tingginya mobilitas kendaraan di Ibu Kota menjadi salah satu penyebab buruknya kualitas udara di Jakarta. Namun perlu juga dilihat sumber lainnya yang dapat mengakibatkan buruknya udara di wilayah Ibu Kota.

“Misalnya industri dari cerobong asap, industri pabrik-pabrik, lalu juga pembangkit listrik tenaga batu bara yang ada di sekitar Jakarta, itu juga perlu di teliti,” ucap Yaya.

Yaya menilai, pemerintah provinsi DKI Jakarta dapat bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk melakukan penelitian dari buruknya kualitas udara di Jakarta.

Sebab Yaya menyebut, pemerintah kurang melakukan monitoring tehadap kualitas udara khususnya di wilayah Ibu Kota. Selain itu, Yaya berharap Pemda DKI Jakarta dapat terus melakukan monitoring dengan melakukan pemasangan alat pengecekan udara.

“Jadi sebenarnya kualitas udara kita sudah buruk dan masyarakat berhak tahu apa resiko di udara dan apa resiko dampaknya,” harap Yaya.

Senada dengan Yaya, juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu, mencatat Air Quality Index (AQI) Jakarta pada Selasa (4/6) atau H-1 Lebaran polusi udara sempat menyentuh 210 US AQI. Angka tersebut menunjukkan, kota Jakarta menjadi juara kualitas udara terburuk di dunia pada hari itu.

“Jakarta sempat nomor satu (terburuk) dengan US AQI 210. Angka ini berarti masuk kategori sangat tidak sehat. Padahal Jakarta sangat lowong saat itu,” ucap Bondan.

Bondan menyebut, angka polusi tersebut mengalahkan kota Chengdu, China, dengan 171 US AQI, dan kota Dubai, Uni Emirat Arab. Kendati salah satu sumber polutan yakni pembakaran kendaraan bermotor sudah berkurang signifikan mengingat jutaan kendaraan telah meninggalkan Jakarta.

Oleh karena itu ia menuding ada sumber polutan lain yang membuat udara Jakarta sangat buruk. Sehingga dia pun meminta Pemprov DKI dapat bekerjasama dengan pihak KLHK untuk melakukan pemantauan kualitas udara di Ibu Kota.

“Harusnya tren ini ini dicatat oleh KLHK. Kadang tinggi, kadang rendah, itu harus dicari sumber polutannya. Lalu supaya ada langkah strategis yang bisa dilakukan,” tukasnya.

Sumber: jawapos.com

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar