Tahukah? Berpuasa Dapat Menjauhkan dari Nafsu Berkuasa

Tahukah? Berpuasa Dapat Menjauhkan dari Nafsu Berkuasa

Diriwayatkan bahwa Imam al-Nawāwi, penulis kitab Riyadhus Shalihin dan Umdah Mazhab Syafi'i, selalu menolak makanan lezat yang diberikan kepadanya. Ketika ditanya tentang alasannya, beliau menjawab bahwa beliau takut badan yang terbiasa dengan makanan yang lezat, akan sulit diajak beribadah di malam hari. Diriwayatkan pula bahwa Imam al-Nawāwi hanya makan sekali sehari, yaitu pada waktu sahur. Beliau biasa menyatukan makan berbuka dengan makan sahur.

Demikian para ulama mencerminkan sikapnya sebagai pewaris para Nabi. Sayyidah Aisyah Ummul Mu'minin menceritakan bahwa pada masa Rasulullah, para sahabat makan sehari sekali. Imam al-Imam al-Ghazali meriwayatkan bahwa Sayyidina Umar ibnu al-Khatthab mencukupkan segenggam gandum untuk pasokan makan dirinya selama 7 hari.

Rasulullah, para sahabat dan para ulama merupakan tipikal figur yang mengurangi bahkan menjauhi lezatnya kenikmatan dunia. Makan merupakan simbol kelezatan dunia. Mereka sederhana dalam urusan makan. Abu Dimyathi Cidahu diriwayatkan hanya makan sati sendok nasi dicampur garam setiap hari. Beliau diberitakan lebih banyak berpuasa.

Tentu, menjadi pertanyaan kenapa mereka mengurangi atau bahkan menjauhi kelezatan nikmat dunia? Barangkali di antara jawabannya adalah agar mereka tidak mudah ditundukkan dengan kenikmatan dunia. Maka dari itu, para sahabat dan para ulama yang mengikuti jejak mereka merupakan figur-figur independen yang tidak bisa ditaklukkan dengan kemewahan dunia.

Sikap independensi itu yang ditunjukkan oleh Sayyidina Abu Dzar al-Ghifari. Sejak masa Pemerintahan Sayyidina Usman bin Affan, Abu Dzar senantiasa mengkritik perilaku para pejabat yang menjadikan kekuasaan sebagai alat justifikasi hedonisme. Kritiknya terhadap terhadap penyimpangan kekuasaan tidak pernah berhenti. Ia bahkan berani mengkritik Sayyidina Muawiyah yang dianggap telah menyelewengkan tujuan dari kekuasaan. Saking takutnya Muawiyah dengan kritik Abu Dzar, ia mencoba untuk membungkam sikap kritis itu dengan memberikan sejumlah hadiah prestisius. Tapi, Abu Dzar tidak goyah dengan godaan itu. Ditolaknya semua pemberian Muawiyah tersebut, ia tetap tidak menghentikan sikap kritisnya.

Puasa ternyata ada relevansinya dengan sikap independen. Ia bukan sekedar menahan lapar dan haus. Tapi juga, menahan rasa lapar ingin berkuasa dan menjauhkan diri dari mabuk kekuasaan.

--
Dishare dari Ustad Abdi Kurnia

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar