Polri Temukan Busur dan Bambu Runcing di Ambulans Ormas GARIS

Polri Temukan Busur dan Bambu Runcing di Ambulans Ormas GARIS

Pihak kepolisian menemukan busur dan bambu runcing di ambulans berlogo GARIS yang diamankan saat kerusuhan Aksi 22 Mei. Mobil berwarna hijau itu ditemukan di belakang Gedung Bawaslu, Jakarta.

Ambulans itu bernomor polisi B 1132 KIX. Namun kini kendaraan medis itu telah disita sebagai barang bukti.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan ambulans tersebut digunakan untuk mengelabui polisi dan masyarakat yang bertugas.


"Dalam rangka untuk mengelabui aparat keamanan, barbuk (barang bukti) yang disita adalah mobil ambulans," ujarnya di Mabes Polri, Jakarta Jumat (24/5).

Dedi mengatakan dalam ambulans itu berisi uang, busur panah, dan bambu runcing. Ambulans juga digunakan untuk mengangkut massa, menerobos, serta mengelabui petugas.

Dari ambulans itu didapatkan dua orang yang telah ditetapkan tersangka. Mereka berperan sebagai sopir dan kernet yang membagikan uang, busur serta bambu runcing kepada perusuh.

"Sopir sama kernetnya yang membagikan duit, busur, dan bambu runcing," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal M Iqbal menyebut ada dua tersangka perusuh pada Aksi 22 Mei yang terafiliasi dengan Gerakan Reformis Islam (GARIS). Dari pengakuan tersangka, keduanya berniat untuk melakukan aksinya pada 21 dan 22 Mei.

"Kami menemukan dua tersangka dari luar Jakarta yang terafiliasi dengan kelompok GARIS. Mereka memang niat untuk berjihad," ujar Iqbal saat memberikan keterangan di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (23/5).

Ketua Umum ormas Gerakan Reformis Islam (GARIS) Chep Hernawan mengakui mengirim delapan anggotanya ke Jakarta untuk ikut Aksi 22 Mei. Chep juga membenarkan dua orang yang diamankan polisi sebagai tersangka rusuh merupakan anggota GARIS.

Namun dia membantah memerintahkan anggotanya untuk terlibat rusuh dalam Aksi 22 Mei. Sebaliknya, Chep mengaku para anggotanya dikirim untuk menjadi tim medis menggunakan dua mobil ambulans.

"Delapan anggota, berangkat dengan dua ambulans. Mereka tidak diperintahkan untuk unjuk rasa atau jihad," kata Chep kepada CNNIndonesia.com saat dikonfirmasi, Kamis (23/5).

Namun demikian, Chep enggan merinci keahlian medis para pemuda yang ia kirim ke Jakarta. Menurutnya, para anggota tersebut berasal dari santri di beberapa pesantren dan baru magang menjadi tim medis.

Chep juga membantah GARIS memberikan donasi atau pendanaan Aksi 22 Mei. Adapun jika ditemukan uang dalam jumlah tertentu oleh aparat, kata dia, merupakan uang titipan yang diberikan oleh sejumlah pengusaha muslim Cianjur dan Pondok Pesantren.

"Untuk diberikan sebagai THR kepada fakir miskin di Jakarta," ujar Chep.

Sumber: cnnindonesia.com

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar