Mengintip Pondok Tempat Dirawatnya Para Caleg Stres karena Kalah

Mengintip Pondok Tempat Dirawatnya Para Caleg Stres karena Kalah

Hiruk pikuk kampanye boleh sudah berlalu. Tapi di balik itu semua, ada cerita lain tentang para caleg yang gagal memperoleh suara hingga akhirnya mengalami depresi.

Di Pondok Rehabilitasi Jiwa dan Narkoba Mustajab di Desa Bungkanel, Kecamatan Karanganyar, Purbalingga, Jawa Tengah ini dari 255 pasien yang mengalami gangguan jiwa, dan 17 di antaranya merupakan mantan caleg gagal yang depresi .

"Di sini ada caleg-caleg stres, bahasanya. Tapi kalau saya katakan bukan stres itu, tapi kaget karena tidak jadi, apalagi usianya rata-rata muda, kebanyakan belum siap mental untuk hadapi kenyataan di lapangan. Semuanya dari luar Jawa, yang sudah datang ada 17 orang dan sekarang tinggal 8 yang masih di sini," kata Pengasuh Pondok Rehabilitasi Jiwa dan Narkoba Supono Mustajab, Selasa (14/5/2019).

Di pondok yang juga menjadi tempat Sumanto tinggal dan berobat ini, pasien caleg gagal yang menjalani pengobatan kebanyakan datang dari luar Jawa, seperti dari Gorontalo, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Mereka yang datang rata-rata tertekan dan kaget akibat tidak lolos dalam pileg. Padahal mereka telah mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk berusaha mendulang suara.

"Kondisi awal datang ya meronta, mengingat uang yang sudah dikeluarkan, paling tinggi ada yang sudah keluar Rp 1 miliar. Bagaimana mengembalikannya, uangnya habis oleh tim sukses yang tidak bertanggungjawab, keluar uangnya banyak tapi dapatnya sedikit (suara)," jelasnya.

Untuk penanganan pasien yang mengalami gangguan jiwa tersebut, di pondok rehabilitasi milik Supono ini juga terdapat Rumah Sakit Khusus Jiwa dan Narkoba lengkap dengan dokter jaga dari spesialis umum dan jiwa. Karena setiap saat ada saja pasien yang mengalami gangguan jiwa datang untuk berobat atau mondok ditempat tersebut.


"Kebetulan di sini kan ada dokter spesialis jiwa. Penanganan di sini ada tiga, yaitu secara ilmiah menggunakan medis atau dokter, lalu secara alamiah yang makannya di Desa (diumpamakan tinggal dan makan di Desa dengan suasana yang tenang). Kemudian yang ketiga secara ilahiah artinya diruqiah, ikut jamaah, baca Alquran, mengikuti tausiah, salat bersama jadi agamis, dan guru agama saya undang untuk memberikan tausiah dan untuk mengajarkan mereka mengaji," ujarnya.

Dia menjelaskan, dari rata-rata caleg gagal yang menjalani pengobatan di pondoknya tersebut paling lama tinggal hanya satu minggu. Pasalnya kebanyakan dari caleg tersebut hanya kaget saat mengetahui dirinya tidak jadi anggota legislatif.

"Cuma kaget saja. Mereka inginnya kan jadi, ternyata tidak jadi. Karena siapnya jadi, tidak siap tidak jadi, jadi tidak siap mental," ujarnya.

Supono mengimbuhkan pada caleg yang menjalani perawatan di pondok tersebut tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis.

"8 caleg yang masih di sini kondisinya sekarang sudah bagus, mungkin hari Minggu sudah ada yang pulang. Mereka tahu (pondoknya) mungkin lewat media, karena setiap 5 tahun pasti ada caleg stres, dan gratis tidak bayar, tidak ditarik bayaran sama sekali semua caleg. Kasihan mereka sudah kehilangan uang, kalau pasien lain ya bayar seadanya tidak mematok harga, tapi seluruh caleg tidak bayar," ucapnya.

Meski tiap lima tahun para caleg gagal berdatangan ke pondoknya, di tahun 2019 ini jumlahnya menurun dibanding tahun 2014 lalu. Pada tahun 2014 lalu sekitar 30 caleg mengalami gangguan jiwa dan berobat di pondoknya.


Source: detik.com 

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar