Mbah Mangli, Ulama Pelipat Bumi

Mbah Mangli, Ulama Pelipat Bumi

Kiai Haji Hasan Asy’ari alias Mbah Mangli adalah ulama dari Magelang, Jawa Tengah, yang dipercaya punya sejumlah karomah. Pengajian mursyid Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN) ini dihadiri ribuan orang, yang datang dari berbagai kota di Jawa Tengah.

Yang unik, setiap mengisi pengajian, kapan pun dan di mana pun, Mbah Mangli, yang lahir di Kediri pada 17 Agustus 1945 ini tidak pernah memakai pelantang atau alat pengeras suara. Meskipun jamaahnya berjubel dan membentuk barisan sampai jauh, mereka masih bisa mendengar suara Mbah Mangli, yang juga dikenal amat kaya raya ini. Konon simpanan emasnya mencapai kiloan gram.

Nama beken Mbah Mangli berasal dari nama tempat kediaman KH Hasan Asy’ari. Yakni Dusun Mangli, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Dia menetap di dusun ini pada tahun 1956. Setelah mengasuh majelis taklim selama tiga tahun, ia pun mendirikan pondok pesantren salafiyah namun tidak memberikan nama resmi.

Lambat laun pondok tersebut dikenal dengan nama Ponpes Mangli dan sosok Hasan Asy’ari dikenal masyarakat dengan nama Mbah Mangli. Mbah Mangli-lah yang berhasil mengislamkan kawasan yang dulu menjadi markas para begal dan perampok tersebut. Pada masa itu daerah tersebut dikuasai oleh kelompok begal kondang bernama Merapi Merbabu Complex (MMC).

Dusun Mangli terletak persis di lereng Gunung Andong, di atas ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut. Dari teras masjid, orang bisa melihat hamparan rumah-rumah di Kota Magelang dan Temanggung dengan jelas. Hamparan rumah-rumah itu di malam hari berubah menjadi lautan lampu. Untuk mencapai Dusun Mangli, orang harus menempuh perjalanan sekitar 40 km dari ibu kota Kabupaten Magelang di Kota Mungkid.

Bangunan pondok yang berada di tengah-tengah perkampungan berdiri di atas lereng-lereng bukit sehingga dari kejauhan terlihat seperti bangunan bertingkat. Meski terpencil, ribuan masyarakat setiap Minggu mengaji ke pondok tersebut. Mereka tidak hanya berasal dari sekitar Magelang namun juga berbagai daerah lain. Uniknya, santri yang mukim tidak lebih dari 41 orang.

Mbah Mangli punya kebiasaan menolak amplop yang lazim diberikan panitia usai mengisi pengajian. Ia selalu mengatakan:
“Jika separoh dari jamaah yang hadir tadi mau dan berkenan menjalankan apa yang saya sampaikan tadi, itu jauh lebih bernilai dari apapun, jadi mohon jangan dinilai dakwah saya ini dengan uang, kalau tuan mau antar saya pulang saya terima, kalau kesulitan ya gak papa saya bisa pulang sendiri”

Selain tidak menggunakan pelantang, menurut sohibul hikayah, Mbah Mangli bisa mengisi pengajian di beberapa tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. Ia bisa mengisi pengajian di Mangli, namun pada saat bersamaan juga mengaji di Semarang, Wonosobo, Jakarta dan bahkan Sumatera. Hal ajaib yang tidak masuk logika ini bisa terjadi lantaran Mbah Mangli punya “Ilmu Mlipat Bumi”.

Yakni bisa datang dan pergi ke berbagai tempat yang jauh dalam sekejap mata. Selain itu, ia juga memiliki kemampuan psikokinesis tinggi, seperti mengetahui tamu yang akan datang beserta maksud dan tujuannya. Konon, ada seorang tamu dari Klaten, Jawa Tengah, bermaksud minta jeruk ke Mbah Mangli untuk diambil barokahnya. Eh, belum lagi sang tamu menguarakan maksud kedatangannya, Mbah Mangli langsung memetikkan jeruk dari pekarangannya.

Menurut KH Hamim Jazuli alias Gus Miek, walau Mbah Mangli memiliki banyak usaha dan termasuk orang yang kaya-raya, namun Mbah Mangli adalah wali Allah yang hatinya selalu menangis kepada Allah, menangis melihat umat dan menangis karena rindu kepada Allah.

Tokoh yang ikut mendirikan Pesantren Asrama Pendidikan Islam (API) Magelang ini wafat pada akhir 2007 di Magelang.
Semoga kita mendapat barakah beliau serta mampu meneladani perjuangannya, manfaat dunia dan akhirat. Amin...

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar