Ketum PBNU: Sikapi Pengumuman KPU dengan Dewasa

Ketum PBNU: Sikapi Pengumuman KPU dengan Dewasa

Tiga hari lagi, Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan mengumumkan hasil rekapitulasi pemilihan umum (pemilu) dan pemilihan presiden (pilpres), tepatnya pada Rabu (22/5) mendatang.

Melihat hal tersebut, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengimbau kepada seluruh bangsa Indonesia, umat Islam, dan Nahdliyin khsusunya agar menyikapinya dengan dewasa.

“Mari kita sikapi dengan dewasa, tenang, besar hati, lapang dada,” kata Kiai Said dalam sebuah tayangan di NU Channel pada Sabtu (18/5).

Artinya, Kiai Said meminta semuanya agar menerima siapapun nanti yang terpilih berdasarkan keputusan KPU. “Siapapun yang menang, apapun hasilnya, harus kita terima,” tegasnya.

Sikap tersebut, menurutnya, menunjukkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang dewasa, bangsa yang berbudaya, dan bangsa yang beradab. Karenanya, ia meminta agar tidak ada gerakan atau tindakan yang tidak konstitusional.

“Jangan sampai terjadi gerakan-gerakan, tindakan-tindakan inkonstitusional. Kita disorot, dilihat, oleh seluruh bangsa internasional, seluruh dunia,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan itu.

Sebagai mayoritas di Indonesia, menurutnya, sudah sepatutnya umat Islam untuk menunjukkan diri sebagai warga yang betul-betul memahami arti demokrasi yang sudah disepakati menjadi sistem bernegara.

“Kita bangsa Indonesia mayoritas beragama Islam. Tunjukkan kita mengerti, sadar berdemokrasi, memahami bernegara dengan sistem demokrasi, karena sistem demokrasi adalah sistem yang sesuai dengan Ahlissunnah wal Jama'ah yaitu mazhab mayoritas Islam di Indonesia,” ucapnya.

Oleh karena itu, Kiai Said menegaskan agar seluruh masyarakat Indonesia dapat menjaga persatuan dan kesatuan, menyayangi, dan mencintai negeri ini. “Jangan sampai karena hanya masalah pemilu, hanya masalah pilpres, bangsa menjadi pecah, kita menjadi chaos, apalagi naudzubillah sampai perang saudara maka janganlah sampai seperti itu,” katanya.

Kiai alumnus Arab Saudi itu pun mengingatkan bahwa jutaan nyawa melayang di Timur Tengah akibat negaranya yang kacau balau. Kiai Said menyebutkan Afghanistan 40 tahun perang saudara padahal seluruhnya 100 persen beragama Islam, Irak sudah 1,5 juta manusia melayang nyawanya, 500 ribu manusia meninggal di Suriah, Yaman selalu ribut, Sudan juga tak berbeda, dan lain-lain seluruh negara Arab tengah bergejolak.

“Nyawa manusia sangat murah, kacau, terjadi tindakan-tindakan yang sangat mengerikan dan menyedihkan,” katanya.

Melihat fakta-fakta demikian, Kiai Said berharap hal tersebut tidak terjadi di Indonesia. “Semoga bangsa Indonesia tidak seperti itu, bangsa beradab, berbudaya, berkarakter, berkepribadian, berakhlak, bertakwa, beragama,” pungkasnya. (Syakir NF/Muhammad Faizin/NU Online)

Baca juga:

Apa Komentar anda?

Tidak ada komentar